Memandang kehidupan dalam surat Al-Syura ayat 36 dimulai dengan mengurai arti kata mata’, yang arti dasarnya, segala sesuatu yang digunakan tetapi tidak harus untuk dinikmati.
Dalam bahasa Arab, mata’ berarti minuman anggur yang lahir pada masa sebelum Islam. Minuman anggur mencapai kematangan sempurna saat warnanya menjadi semakin merah. Ketika anggur tersebut mencapai titik tertingginya, maka anggur tersebut telah mencapai titik mata’.
Kedua, mata’ juga biasanya digunakan saat seutas tali yang dipintal dan digulung dengan baik sudah siap untuk digunakan. Mereka menggambarkan mata’ juga untuk lelaki dalam usia matang yang sudah mampu menerjang kehidupan.
Jadi mata’ adalah sesuatu yang sudah mencapai kematangan, kesempurnaan bisa digunakan, bisa dinikmati.
Kehidupan membuat kita mengalami banyak hal, baik dan buruk, pahit dan manis. Kadang, saat kita memandang balik ke belakang, kita bahagia telah melakukan sesuatu, tapi kita juga menyesali yang lain. Semua hal yang kita alami tersebut adalah proses yang menjadikan diri kita menjadi mata’, menjadi dewasa, menjadi pribadi yang matang.
Bahkan, penyesalan di masa lalu, mungkin menjadi penyebab untuk kita masuk syurga.
Mata’ juga berarti sesuatu yang bisa berakhir, tidak bisa selamanya. Seperti waktu yang begitu cepat meninggalkan kita. Dan satu-satunya yang kekal adalah akhirat.
Kita membuat rencana untuk kehidupan kita 5 tahun, 10 tahun, atau 20 tahun lagi, tapi apa kita sudah membuat rencana untuk akhirat?
Akhirat adalah sesuatu yang besar dan dunia adalah hal yang kecil.
Kita menjalani kehidupan di dunia yang pada akhirnya semua tak menjadi apa-apa saat kita mengalami kematian.
Maka kita harus segera menyadari bahwa milik Allah lebih baik karena kita sedang menuju ke sana. Kita harus membuat diri kita lebih baik lagi di mata Allah swt, bukan di mata manusia.