Samar-samar ku dengar suara itu, Semakin lama semakin kuat Ku coba mencari asal muasal suaranya. Hingga aku menemukan satu ruang kosong. Ku coba mendekat, suara itu semakin jelas Ia meronta kesakitan, aku semakin kalut Perlahan ku dekati pintunya Begitu pelan, tak terdengar derap kaki ku. Ku tarik pelan gagang pintunya. Aku terlonjak kaget, sedetik kemudian mematung. “Rindu” lirihku berkaca-kaca. Ternyata suara itu adalah ruam rindu yang mulai membusuk. -
EASA-











