Today is my birthday. They said age is just a number, so what's my life value then?
Tidak ada yang spesial dari ulang tahunku sejak memasuki kepala dua dari tahun ke tahunnya. Di usia sebelumnya aku menghabiskan hari ulang tahunku dengan pekerjaan part time-ku. Pulang dengan membeli sebungkus sosis siap makan yang tebal dan sebotol soda. Aku sangat menyukai kombinasi sosis dan soda sebagai camilan, yah meskipun perutku intolerir terhadap soda tapi setidaknya tak masalah bagiku meminumnya sekali dalam setahun di hari ulang tahunku. Keduanya kutelan sambil terduduk di bawah pohon mangga dan melihat semburat matahari yang mulai meredup.
Tahun ini, tak jauh berbeda. Aku menghabiskan hari ulang tahunku juga dengan bekerja, tapi sekarang bukan sebagai part-timer kedai minuman lagi. Aku bangun lebih dini, pukul tiga pagi untuk melanjutkan projek yang sengaja ku tunda di malam sebelumnya. Iya, kini aku seorang anak magang di sebuah start up yang berada di Jakarta. Mataku terbuka begitu saja, bahkan aku tak bisa mengingat alur mimpi yang baru saja kulepaskan. Aku sadar betul hari ini bertanggal 26 September. Tetapi tak ada excitement yang kurasakan untuk merayakan hari spesial ini, tak sepertiku ketika berusia belasan tahun dulu.
Sejujurnya aku tak menyukai perasaan seperti ini karena aku tak ingin menjadi dewasa dengan kebahagiaan yang semakin memudar. Jadi kucoba mensyukuri fakta bahwa aku masih berkesempatan untuk menikmati usia baruku. Aku berdoa semoga kelak usahaku tak menjadi sebuah tirakat yang sia-sia. Sebenarnya hanya ada satu target yang berenang-renang di kepalaku. 'Aku ingin menulis, tak peduli berapapun tulisan yang akan kuunggah hari ini' begitulah batinku berteriak diantara seribu to-do-list kantor yang harus aku selesaikan.
Hari ini aku ingin menghabiskan waktu untuk diriku sendiri. Bahkan aku juga menolak ajakan teman-teman untuk berkaraoke, padahal bukankah itu hal yang menyenangkan untuk dilakukan di hari ulang tahun? Terlebih ketika sedang berada jauh dari keluarga? Aku juga tidak menduga keputusanku kali ini, tapi aku rasa aku tidak mengambil pilihan yang salah. Hari ini, tak ada ucapan selamat ulang tahun dari orang tuaku maupun kakakku. Aku tidak kecewa karena aku sudah terbiasa begitu. Aku pun tak yakin jika mereka mengingat hari ini sebagai hari yang harus diperingati. 26 September hanyalah tanggal baru yang harus mereka lalui seperti hari-hari lainnya, bagaimana caranya bertahan sejak terbangun hingga tertidur lagi. Kurasa hanya itu impresi mereka, tak lebih. Begitu pula dengan teman-teman dekatku, entah memang mengsengajakan diri untuk tak berucap atau memang tak ingat. Meskipun terkesan seperti hal yang tragis, tapi aku lebih nyaman begini. Tak ada kejutan atau ucapan yang memenuhi kolom pesanku. Tak perlu juga me-repost snapgram sebagai tanda terima kasih karena telah mengucapkanku selamat.
Sore harinya, menjelang matahari terbenam aku membeli sebungkus cilok pedas dan es kopi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku akan memakan makanan yang kusuka dan meminum minuman yang menjadi pantanganku sendiri. Tentunya, sambil menikmati suasana sore. Hari ini angin berhembus dengan kencang dan tak ada senja yang spektakuler. Tetapi aku tetap menggeret kursiku menghadap jendela besar yang mengarah tepat ke arah barat. Melihat tumbuhan ginseng yang kutanam di pot yang kugantung di jendela. Serta dream catcher yang sengaja kugantung disudut kiri jendela karena aku suka melihatnya tertiup angin. Tanpa iringan lagu yang aku suka, hanya suara saluran air kamar mandi yang terdengar seperti dua perempuan sedang berbincang. Aku selalu melakukan hal repetitif yang berbeda di setiap tahunnya. Tetapi hatiku tumbuh dengan harapan yang terus membuncah. Nantinya aku menjadi bagaimana dan seperti apa adalah suatu pasangan pertanyaan yang jawabannya tak memiliki hipotesis. Setiap harinya aku selalu menjadi seseorang yang membuat diriku sendiri menangis. Entah haru karena tak menyangka bahwa aku dapat berjalan sejauh ini, maupun karena rasa kecewa terhadap hari-hari dimana aku merasa hilang arah. Tapi bukankah seharusnya hidup berjalan seperti itu? Seperti kurva kardiografi yang naik turun, yang menandakan bahwa manusia itu masih memiliki kehidupan.
Hari ini aku menyuarakan pesanku dalam hati kepada Allah, bersamaan dengan dedaunan yang melambai ke arah jendelaku. Aku memiliki mimpi yang besar tapi aku tak ingin cita-cita yang muluk. Nantinya aku ingin merayakan ulang tahunku dengan duduk bersantai seperti hari ini, tetapi tanpa ketakutan yang aku berusaha sembunyikan jauh di dalam bagian yang tak terlihat. Aku ingin menyeduh teh dengan rasa kelat dan kesat di lidah. Aku ingin menikmati pekarangan rumah pribadiku yang kupenuhi dengan tumbuhan lili putih, yang sudah seharusnya mereka mekar di bulan September hingga November nanti. Aku ingin menulis lebih banyak lagi rasa syukur atas apa yang telah berlalu dalam setahun terakhir.
Nantinya, jika tak ada yang mengingat tanggal ini sebagai sesuatu yanh berarti aku tetap ingin diriku mengingatnya sebagai suatu hal yang berharga yang patut diperingati karena aku telah bertahan satu tahun lebih lama dari yang kuduga setiap kali ingin menyerah. Aku masih ingin bisa membaca apa yang aku tulis hari ini di tahun-tahun berikutnya sembari berterima kasih kepada Allah karena masih mempercayaiku sebagai manusia yang meyakini dirinya mampu melewati setiap tawa dan tangis yang tak terelakkan.
Hai, aku di masa depan? Bagaimana kabarmu hari ini setelah membaca ulang tulisan ini?