LINTAS PERSPEKTIF
Di sela pelik yang sedang melanda berbagai hati, pasti ada jeda waktu untuk saling berbagi dan mengerti.
___________________________________________________
Tepatnya malam Rabu sepulang bekerja, aku duduk menikmati cimol bojot inovasi jajanan khas Sunda yang sedang hype itu. Hihi. Di sebelah, duduk juga lelaki berperawakan jangkung yang asyik dengan game nya, dan akhirnya secara sadar aku usik.
Entah berawal dari mana tapi tiba – tiba obrolan pun dibuka. Beberapa hal yang ingin aku tekankan di sini adalah: aku orang yang suka mendengarkan dan berbagi perspektif dengan berbagai karakter manusia.
Dan manusia yang setengah jam duduk bersamaku malam itu, punya cerita dan sudut pandang yang mengesankan, kurasa.
Karena aku penyuka “deep conversation”, aku mencoba menggiring dan menggali cerita dari hal ringan ke hal yang lebih pribadi. Tentang keluarga, misalnya. Ternyata beliau adalah orang yang terbuka dan malah memilik persepsi yang tidak dimiliki banyak orang. Atau mungkin cuma aku saja yang mainnya kurang jauh, hehe.
Beliau ini baru aku kenal sebagai kerabat kerja selama kurang lebih 4 bulan (menurut perhitungan beliau sendiri), umurnya berkepala tiga, single dan sangat senang ber-haha-hihi. Sampai aku bertanya – tanya, apa yang membuatnya sesantai dan sebahagia itu meskipun dia punya kegelisahan terselubung, mungkin? Dan mungkin suatu saat aku akan menanyakan hal itu secara langsung.
Saat aku bertanya soal rencana beliau kedepannya, yang akan resign beberapa waktu lagi. Beliau menjawab ingin menikah. Dan obrolan itu semakin memanjang, hingga :
“Aku mah sebenernya belum mau menikah, Pak” kataku saat disinggung tentang pernikahan olehnya.
“Mau nunggu apa, teh?” katanya, “Kasian orang tua kalau anak belum ada yang menikah.”
“Kok kasian?” Dari sini, sudut pandangku benar – benar dijungkirbalikan.
“Iya, kan keberhasilan orang tua itu termasuk waktu bisa nikahin anaknya. Apalagi yang perempuan.”
Kira – kira itu yang beliau katakan. Lalu pemikiranku soal : harus bisa bahagiain orang tua sebelum menikah, disambar lagi dengan kalimatnya, “Bahagiain orang tua itu dengan cara liat kamu bahagia terus mereka dikasih cucu.” Ujarnya sambil terkekeh.
Di situ aku tertawa geli. Tapi seakan – akan perkataan beliau menjadi jawaban pertanyaan aku selama ini yang sedang dilanda gamang dan bingung karena orang tua ku, yang masih belum bisa aku penuhi kebahagiaannya, malah menyuruhku untuk menikah.
Aku jadi berpikir keras.
“Kalau udah ada yang baik mah udah atuh mau apa lagi? Terus kalau bisa, cari laki – laki itu yang sayang sama ibunya. Inget, laki – laki yang sayang sama ibunya dengan laki – laki yang dikontrol sama ibunya itu beda, loh.”
“Okay?” kataku. Lalu mengangguk mengerti, mungkin dalam pandanganku, yang di maksud beliau adalah mereka sama – sama bisa menurut pada ibunya tapi yang satu tulus dan yang satu terpaksa.
Menurut kacamataku, (which literally I don’t wear glasses, hehe), selama perbincangan itu, beliau sedang membicarakan bagaimana treat/perlakuan beliau sendiri dan pandangan beliau terhadap suatu hal. Tapi yang aku heran, aku gak dapat kesan bahwa beliau sedang membanggakan diri sendiri apalagi “promosi” tentang kebaikannya itu.
Di sini, beliau hanya sedang berbagi …
Bahkan saat beliau bercerita soal membagikan semua hasil jerih payah pekerjaanya untuk orang tua dan keluarganya, tidak terdengar seperti: “aku sudah melakuakan banyak hal untuk mereka”. Sederhananya, beliau hanya mencoba mengutarakan apa yang dia ingin bagi kepada orang lain. Dengan kalimat yang jauh lebih calming :
“Dulu pikiran saya kerja keras itu buat orang tua terus.”
Karena mungkin, sebagaimana beliau bercerita tentang ibunya yang sudah menjadi single parent sejak beliau masih di bangku sekolah menengah pertama, beliau jadi ingin membalas atau mungkin merasa ingin membaktikan diri pada ibunya. Jika kuterangkan lebih lanjut, akan panjang jadinya. Haha.
“Aku juga kayak gitu, Pak, pikirannya. Ingin ngasih terus ke orang tua, pokoknya semua tentang mereka.”
Kemudian beliau menambahkan, “Tapi dengan kayak gitu terus, aku jadi gak bisa nabung teh. Gak kepikiran untuk nabung buat masa depan. Pokoknya sampe umur 30 tuh baru ngeuh, baru nyesel saya. Makanya mumpung kamu masih 22.” Katanya.
Aku semakin berpikir keras. Dan saat aku mau menceritakan tentang perspektifku sendiri, dan kegelisahanku tetnagn banyak hal perbincangan pun terpaksa dihentikan karena aku harus segera pulang.
Aku mau berterima kasih karena akhirnya aku bisa mendengarkan cerita seseorang yang pengalamannya lebih jauh dan banyak. Paling tidak sedikitnya bisa membuka pikiranku. Sekarang tugasku adalah mencerna perkataan yang seharusnya menjadi jawabanku selama ini.
Yah, kita akan lihat nanti. Seberapa besar pengaruhnya terhadap memoriku ini. Karena aku orangnya pelupa, makanya aku abadikan juga di sini.
Mungkin aku juga harus banyak mengobrol dengan banya orang, terutama yang punya sudut pandang yang berbeda. Aku mau cari lagi lintas perspektif yang lainnya. Karena saat aku mendapatkan sudut pandang yang berbeda dari orang lain, rasanya aku berhasil menemukan dunia yang baru.













