Catatan Pelajaran dari Es Teh untuk Kita
Bercanda itu ada adabnya. Salah satunya adalah jangan sampai bercanda itu merendahkan orang lain apalagi sampai menyakiti hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang bercanda. Tapi baginda Nabi tidak pernah berbohong atau membuat-membuat dengan tujuan sekedar agar orang lain tertawa, apalagi sampai merendahkan seseorang. Semoga kita selalu hati-hati dalam bercanda.
Menahan rasa sakit dan luka itu tidak mudah. Entah keikhlasan dan doa seperti apa yang Pak Penjual Es miliki sehingga Allah langsung mengangkat derajatnya. Kalau kita pernah atau sedang merasakannya, mari perbanyak doa. Salah satu privilege ketika berada di posisi itu adalah, doa punya peluang besar untuk diijabah dan kecil kemungkinan untuk tertolak. Kita berkhusnudzon bahwa ada unsur khilaf, lupa atau kurangnya ilmu di sana. Merasa kesal, memberi nasihat dan teguran itu boleh, asal jangan sampai berlebihan dalam mencela. Sulit memang jika yang di posisi itu adalah orang tua kita. Tapi kita masih punya pilihan untuk menjadi berbeda atau sama dengan orang yang suka mencela.
Itu pentingnya kita belajar melalui seorang guru. Berusahalah mencari dan berdoalah sepenuh hati. Agar Allah berkenan mempertemukan kita dengan guru yang tidak hanya berilmu, tapi juga meneladankan adab.
Beliau yang khilaf sudah minta maaf. Terlepas dari apakah itu murni atau pencitraan, kita tak bisa menilai niat seseorang. Itu adalah ranahnya Allah. Kita berkhusnudzon dan berdoa semoga itu benar-benar dilakukan dengan niat tulus. “Heeii, tapi itu kelihatan banget pencitraan dan cuci tangannya”.
Pun jika memang benar seperti itu, Allah pasti punya rencana lainnya untuk menegur dan mengingatkan lagi. Kita hanya melakukan sesuatu yang kita mampu dan Allah Ridha di situ. Jika seseorang tak juga berubah setelah banyaknya nasihat dan teguran, mungkin yang dia butuhkan bukan lagi itu, tapi doa-doa tulus dari lisan dan hati kita.
Kita sudah sama-sama tahu bahwa Pak Penjual Es Teh adalah orang yang menyambung hidup dari dagangannya tersebut. Sudah hidupnya berada di garis bawah dan tak mudah, ditambah dengan hati yang mungkin sedang terluka dan berdarah.
Tapi kita dapat hikmahnya. Bahwa di titik terendah mana pun kita, Allah Maha Kuasa untuk membalikkan keadaan dan menaikkannya. Jangan putus asa dari kasih sayangnya Allah, jangan berburuk sangka dengan rencananya Allah untuk kita. (c)Quraners
Quraners WhatsApp Channel. Quraners Insight and Perspective for your daily reminder. 122 followers











