Mental Es Teh vs Iced Tea
Guruku bahasa Inggris sewaktu SMA, kok aku lupa namanya :(, pernah bilang: bahasa itu perjanjian. Buku menjadi book, ganteng jadi handsome itu karena perjanjian antar budaya. Kalau menyebut wujud yang berbentuk lembaran kertas berisi tulisan itu kalau di Indonesia disebut buku, kalau di Inggris book. Kalau melihat wajahku, di Indonesia disebut ganteng, di Inggris disebut handsome. Awalnya entah bagaimana, yang penting dua teritorial dan budaya ini punya determinannya sendiri untuk menyebut sesuatu.
Menarik sebenarnya. Jika bahasa itu produk suatu bangsa, maka produk bangsa yang disampaikan oleh bahasa bisa jadi komoditi. Contohnya adalah dunia pasca kolonialisme. Penjajah membawa bahasa, sekaligus membawa produk bangsanya. Bangsa penjajah memiliki produk-yang dipasarkan, seperti bahasa- yang bisa dicap sebagai produk yang lebih baik. Anggap saja penjajah lebih berkuasa, lebih maju, jadi produknya tentu lebih unggul.
Dalam konteks ini, aku juga mencurigai bahasa sebagai produk bisa dianggap lebih unggul dari bahasa lainnya. Padahal, seperti guruku bilang, bahasa adalah perjanjian. Ini terjadi karena mental bangsa terjajah yang cengeng. Bangsa yang minder karena terjajah lebih suka memakai produk-produk yang lebih “unggul” seperti bikinan para penjajah.
Baiklah. Sebenarnya tulisan ini berawal dari iced tea yang berharga 7.500 di sebuah kafe, sedangkan es teh harganya bisa 1.500 jika dibeli di angkringan. Kenapa bisa? Branding bahasa yang lebih unggul berbicara. Kita boleh mengatakan kualitas di kafe gaul lebih baik dari es teh yang dijual di angkringan. Padahal, tehnya juga sama, yaitu teh bendera. Eh.
Kita boleh menyodorkan proposal lainnya, jika es teh yang sama-sama dari teh bendera, eh, yang satu pakai bahasa Inggris, yang satu pakai bahasa Indonesia, bolehkah harganya berbeda? Kita pertajam lagi, keduanya berasal dari kafe gaul yang sama derajatnya, kualitasnya sama, masih boleh?
Mari kita buang bahasan strategi pemasaran ini. Fokus pada bahasa yang digunakan saja. Jika kita tetap memakai cara berpikir strategi pemasaran seperti di atas, niscaya kita juga akan mengamini kalau iced tea itu layak dijual mahal ketimbang es teh. Masalah utamanya adalah, mengapa menggunakan bahasa asing untuk meraih lebih banyak keuntungan?
Minder. Seperti yang kusebut di atas, bangsa minder lebih suka produk asing karena memiliki citra yang lebih unggul. Sujiwo Tejo dalam Jiwo Jancuk ngomel-ngomel untuk masalah ini. Dia sampai menganalogikan keroncong, dangdut, tanjidor adalah produk bangsa kita yang percaya diri. Orang yang minder akan lebih suka mengambil produk asing mentah-mentah, tanpa mencernanya menjadi suatu kreasi yang baru.
Orang yang minder akan lebih suka latah menyempal bahasa inggris untuk dipadukan dengan foto cantik di Instagram. Bahasa Inggris lebih memiliki efek keren, simbol intelektualitas, hmm. Sangat mudah menemukan orang yang cerdas berbahasa Inggris dan orang yang sok keren berbahasa Inggris. Ciri orang minder berbahasa Inggris adalah belepotan. Bahasa Inggris dipadukan dengan bahasa Indonesia dengan tujuan yang jelas yaitu pencuri perhatian.
Pendidikan. Aku ingin mengutip Sujiwo Tejo lagi. Dia mengatakan yang salah dari pendidikan sejarah adalah kita diajari bahwa Indonesia dijajah 350 tahun. Seharusnya, menurutnya, Indonesia berperang melawan Belanda dkk. selama 350 tahun. Akibat dari kesalahan ini adalah keminderan di atas. Kita jadi paham jika kita tak berdaya selama 350 tahun. Kolonial pasti hebat betul. Tidak salah jika menganut mereka ya kan.
Selain pembentukan rasa minder, pendidikan juga berkontribusi pada penyempitan berpikir. Sebagai bangsa yang tertinggal, mengejar eks kolonial sangat penting. Metode pengajaran dari bangsa kolonial semuanya sikat. Akibatnya adalah efisiensi khas negara barat yang digunakan. Efisiensi akan mengorbankan kreatifitas. Akibatnya, kita akan terus mengonsumsi dagangan bangsa panutan tanpa berupaya sungguh-sungguh berproduksi.
Penyempitan berpikir ini adalah satu yang paling berbahaya karena melambatkan pertumbuhan peradaban bangsa koloni. Ingat ya, peradaban tidak akan pernah lepas dari pengaruh bahasa. Efisiensi dalam berpikir dan berlaku meninggalkan jejak bahasa ini. Bahasa dalam praksisnya hanya seputar tabungan leksikon dalam kamus. Kegiatan konsumfit berbahasa (asing) tidak menyentuh praksis kebahasaan. Akhirnya, tingkat baca kita rendah kan. Ah, sudahlah, bahasa tidak terlalu penting ya kan.
Apa tidak perlu disesali? Ya mau bagaimana lagi, bahasa Inggris sudah terlanjur jadi keren. Seperti orang pilek yang sudah mau sembuh bangun di pagi hari, ingusnya mengeras, upil tok isine.
Seorang teman bilang Bangsa Indonesia mungkin lhooo kalau jadi bahasa internasional. Menggantikan bahasa Inggris? OMG, WTH, for real, be serious, come on.
Eh, benar lho. Temanku sederhana saja komentarnya. Bahasa Indonesia itu mudah dipelajari. Kata-katanya sedikit, fleksibel, dan asik. Bahasa Indonesia? yakin? Wooo bencong, anjng, babi, bangsat, bajingan, ayolaaah.
Aku melihat pengalaman menyedihkannya saja. Eh membanggakannya saja.
Tetanggaku, entah mengapa karena aku jarang pulang, lebih nyaman memakai bahasa Indonesia di lingkungan rumahnya. keluargaku juga sama. Budeku, dua-duanya guru, sama-sama gemar berbahasa Indonesia. Lingkunganku? Oh come on, pelosok Jepara, belakang gunung Muria, daerah pesisir Jawa?
Aku sangat mencurigai jika bahasa Indonesia ternyata mampu menunjukkan mental penjajahnya. Ini bagus? belum tentu.
Dugaan liarku, oknum keluargaku dan tetanggaku tadi memiliki keminderan yang sama pada bahasan di atas. Bedanya, objek keminderan itu adalah bahasa Indonesia. Korbannya, bahasa Jawa!
Masalah yang muncul adalah, bahasa daerah memiliki keterbatasan dalam pemasaran. Laku pendidikan, ekonomi dan sebagainya, formal memakai bahasa Indonesia. Bahasan di atas ditambah keterbatasan ruang berbahasa daerah, sangat mungkin bisa melenyapkan bahasa daerah. Oke, ini berlebihan. Tapi sangat mungkin terjadi jika keminderan ini masif.
Aku dengan gegabah akan bilang hal ini memiliki dampak positif untuk bahasa Indonesia. Semakin orang minder berbahasa daerah, semakin mereka ingin sok berbahasa Indonesia (di tempat lain, orang minder berbahasa Indonesia dan ingin keminggris). Dengan prediksi ekonomi Indonesia di masa depan akan menempati urutan atas, bukan tak mungkin bahasa Indonesia akan jadi bahasa internasional.
Tapi tetap saja cuk. Yang kita korbankan ternyata terlalu banyak dalam hal bahasa, bukan hanya bahasa daerahnya. Suatu saat nanti, kita boleh saja menang dalam dunia ekonomi, produk kita sampai di mana-mana. Lantas, apakah produk bahasa juga? Jika kita tak mengatasi masalah berbahasa ini, apa yang bisa dibanggakan jika bangsa ini bisa jadi raksasa ekonomi? Wong bahasanya berubah jadi bahasa Inggris.
Bukan tidak mungkin konsumsi berlebihan bahasa asing dalam balutan globalisasi akan menghanyutkan bahasa Indonesia.
Kita melompat terlalu jauh. Seharusnya kita menapaki jalan satu persatu agar kuda-kuda kita kuat. Kalau sudah kuat, lompat sejauh setinggi apapun tidak masalah. Kita akan terjebak dalam menyikapi iced tea sebagai branding pemasaran. Es teh kita sebenarnya telah kalah meskipun dijual di mana-mana.
Kita boleh belajar semua bahasa di dunia. Tidak ada gunanya mengungkung diri apalagi dalam hal pendidikan. Tapi, rasa kebersamaan kadang selalu berbicara sok suci dan tinggi. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah harus sama-sama lestari. Itu harga mati.