Kagum pada caramu mendidik
Dibesarkan di Malang, sekolah di Malang dari TK sampai kuliah, aku belum pernah mengalami pindahan. Rumah masih sama, di Jl. Raya Candi, dari sekitar umur 2 tahun sampai sekarang 23 tahun (barusaan aja, hehe).
Berada satu tahun di Jepang dan kemudian kembali ke tanah air, akhirnya mengalami juga pindahan. Dari kedatangan yang bawanya koper dan kemudian kepulangan yang bawanya koper + tas tenteng + ransel. Pulang ke Indonesia, aku meninggalkan banyak hal di Jepang yang toh akhirnya memang tidak bisa dibawa pulang. Alasannya bagasi terbatas ataupun barang itu gak akan terpakai di Indonesia. Misalnya saja, winter coat.
Itu gambar kamar asrama yang sudah dirapikan sebelum move out karena mau jalan-jalan lalu pulang.
Pindahan aja, banyak barang yang ternyata gak bisa dibawa. Apalagi kalau mati ?
Sejak saat itu aku menyadari kalau ternyata, banyak hal kurang bermanfaat yang tertumpuk. Yang entah saat ditinggalkan akan jadi apa, akan kemana, apakah manfaat atau malah cuma jadi sampah ?
Hal seperti ilmu, pemberian, pertemanan, inilah yang lebih berharga daripada barang yang kurang perlu. Lebih baik menghabiskan uang untuk traktir teman, bantu saudara, memberi ke yang membutuhkan, daripada menyimpan barang yang akhirnya kadaluarsa, gak bisa dipakai lagi.
Sayangnya gak semua orang berfikir sama denganku. Banyak yang masih lebih suka menyimpan daripada memberi (meski mungkin kadang aku juga khilaf dan malah menyimpan, astaghfirullah). Semoga kita dijadikan orang yang iklas berbagi daripada menyimpan, aamiin,
Disinilah aku bertanya, mengapa dan bagaimana aku bisa berpikir seperti ini ?
Orang tua adalah orang yang paling berpengaruh dalam diriku, harapan mereka adalah impianku, doa mereka adalah barokahku, bahagia mereka adalah rezekiku. Merekalah yang mendidik dan mengajariku dari kecil.
Seingatku, mereka membiasakanku untuk beramal jumat di sekolah sejak SD. Dulu, uang jajanku sekitar 500-1000 per hari, dan di hari jumat Ibu akan menambahkan 1000 untuk beramal yang dikumpulkan di kelas, begitu setiap minggu. Terkadang, aku akan menambahkan sendiri uang amal itu dengan uang jajanku. Aku belajar untuk memberi seperti apa yang kita gunakan sehari-hari, kalau bisa lebih banyak, bukan lebih sedikit, atau bahkan sisa.
Pernah, Bapak seperti biasa menjemputku dan adik sepulang sekolah dengan motor bebek. Kemudian, di jalan dekat dengan rumah ada penjual yang membawa barang dagangannya dengan motor terjatuh dan barang dagangannya berhamburan. Ada orang yang tetap meneruskan perjalanannya, tapi Bapak menepikan motornya. Bapak turun dan minta aku dan adik ikut membantu mengumpulkan dagangan bapak penjual itu. Selesai itu, entah mengapa aku mengerti membantu orang lain itu sebenarnya membahagiakan.
Adikku dan aku pernah, saat kami naik motor dan menepi sebentar, tiba-tiba ada seorang pejalan kaki yang menghampiri dan bilang kalau dia tidak punya uang untuk naik angkot dan bertanya apa kami punya uang ? Unconsiously, kami memberi dia uang yang lebih dari cukup untuk 2x naik angkot. Kemudian, orang tersebut berterimakasih dan melanjutkan jalan. Setelah sampai rumah, kami tertawa karena kepolosan (?) kami.
Aku kagum bagaimana Bapak dan Ibu mendidik kami, sampai kami begitu menyukai berbagi, membantu yang kadang jalan begitu saja. Tanpa kami sadari.
Semenjak lulus MAN, aku tidak lagi beramal jumat (karena amal jumat adalah program sekolah). Sering kali lupa beramal, sampai akhirnya Allah mengingatkan. Dalam satu minggu, dua kali motorku mengalami ban bocor parah karena paku, yang berakibat aku harus mengganti ban DUA KALI. Kuhabiskan uang 200.000 lebih untuk itu. Aku belajar, harta itu sebagian bukan milik kita, kalau kita gak mau ikhlas mengamalkan, mungkin Allah perlu mengambilnya dengan cara yang tidak kita suka.
That’s why, I prefer to happily give and share it first than Allah remind me and take it from me in unhappy way.