Pagi ini, kala matahari saja masih enggan nampak, kau telah hadir di secarik ingatanku. Menembus hangat bagai mentari yang menyelimuti embun. Ada apa denganmu, pikirku tak dapat terucap. Baru sekali ini ingatanku memaksa untuk mengingatmu, setelah pensiun tiga tahun lamanya. Aku teringat seperti apa semua janji indahmu yang akan kau bawakan surga di atap rumah kita, nyatanya aku bangun atap itu sendiri tanpa kau lirik lagi. "Lelaki pembual." Mulutku mengucapkannya begitu saja, diiringi kalimat busuk lainnya yang menggambarkan tingkah bodohmu, atau mungkin aku-lah yang bodoh, menunggu setiap janji itu nyata. Memang, setiap kehidupan kelam bersamamu merasuki kotak ingatanku, aku sangat suka mencacimu tanpa rem. Sudahlah, itu dulu, dan sekarang tak ada ubahnya. Aku akan membangun surga bersama laki-laki lain. ** Kubiarkan jemari yang tak lentik ini menjelajah akun sosial media yang masih berteman denganmu. Aku berharap nantinya ketika menelusuri satu persatu beranda, tak akan ada namamu yang akan merusak mataku pagi ini. Sial, mataku menemukanmu. Kabar duka darimu kubaca dengan rasa hambar, lalu saat aku melihat titik di kalimatmu ada rasa geli yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Rasa jahatku muncul seketika itu juga. Batinku menolak untuk tertawa, tapi tetap saja ia terkalahkan oleh setan dalam jiwa yang telah lama memendam luka. "Kudoakan kebaikan untukmu, selalu. Tapi pemilik alam raya ini lebih tahu bagaimana cara membalas tingkah makhluknya yang begitu serakah, dan Ia tahu kau telah menjadikan Tuhan hanya sebagai janji layu, berjamur dan sangat busuk." Bersama tawa jahat, kulontarkan lagi kalimat keji untukmu-tentu saja kau tak akan tahu itu, meski nyatanya aku ingin kau tahu. #Comingsoon #Novel