Genangan dan Kenangan
November penuh dengan hujan, begitu juga dengan kenangan yang ikut menggenang. Ingatanku mencari sepotong cerita bersamamu- kamu yang begitu membenci hujan, seringkali memintaku menari di antara rintik lebat. * * "Menarilah!" Pintamu tanpa penjelasan. Aku terdiam, penuh kebingungan. Hujan berikutnya, masih sama. Memintaku menari tanpa penjelasan. Sampai akhirnya, kamu mau terbuka di hujan ke empat pada bulan November "Saat ibuku masih ada, ia bercerita tentang gadis kecil di langit sana yang sangat senang melihat seseorang menari di bawah rintik yang ia tumpahkan. Katanya, ketika nanti ibuku meninggalkan dunia ini, ia akan tinggal bersama gadis kecil itu. Ikut menangis karena begitu merindukanku, dan ia berharap aku mau menghibur dirinya." "Tapi, kamu kan..." "Ya, aku benci hujan. Sebab lebatnya lah yang telah membawa ibuku tinggal secara paksa bersama gadis kecil di sana." Kamu tersenyum, seakan mengabarkan segalanya telah baik-baik saja. Tapi di matamu, kutemukan kebencian dan rindu yang begitu amat dalam. Kamu ingin menghibur, menepati janji dan berbakti, namun benci memenangkan emosi. Kita menjadi saling diam, sangat lama. Aku sibuk dengan pertimbangan menari atau tidak, kamu dengan air mata yang coba diredamkam. Dan, kuputuskan untuk menari. Selamat menikmati rinai, 07:20 am.













