A moment of silence. Hanya itu yang Runa butuhkan di antara jadwalnya yang padat.
Runa membuka buku pink kesayangannya. "Ketemu Bu Ratri sudah, masukin desain majalah ke percetakan udah. Nanti sore rapat jam 4, asistensi jam 7," gumamnya sambil mencoret-coret list agendanya hari itu. “Terus besok..”
Runa terdiam melihat sederet list kegiatan yang harus ia kerjakan esok hari, menghela nafas. Tiba-tiba Runa merasa letih luar biasa. Runa berfikir, belakangan ini ia sering merasa seperti sedang berlari kencang tanpa henti. Entah berlari dari apa atau menuju apa. Jadwal hariannya membuat Runa harus terus bergerak tanpa henti.
Ping! Handphone Runa berbunyi, ada notifikasi masuk. Seorang teman dekat mengiriminya gambar lelaki tua berkacamata, dengan janggut yang telah memutih sempurna. Runa tersenyum, mengenali lelaki tua itu sebagai Hayao Miyazaki, salah satu produser favoritnya. Di bawah foto Miyazaki, tertulis beberapa kalimat. Sepertinya potongan hasil wawancara dari sebuah majalah kepada salah seorang kolega Miyazaki.
I told Miyazaki I love the 'gratuitous motion' in his films; instead of every movement being dictated by the story, sometimes people will just sit for a moment, or they will sigh, or look in a running stream, or do something extra, not to advance the story but only to give the sense of time and place and who they are.
"We have a word for that in Japanese," he said. "It's called ma. Emptiness. It's there intentionally."
Is that like the 'pillow words' that separate phrases in Japanese poetry?
"I don’t think it's like the pillow word." He clapped his hands three or four times. "The time in between my clapping is ma. If you just have non-stop action with no breathing space at all, it's just busyness. But if you take a moment, then the tension building in the film can grow into a wider dimension. If you just have constant tension at 80 degrees all the time you just get numb."
"You just get numb," ulang Runa usai membaca artikel tersebut. Bibirnya melengkung senyum masam.
Tiba-tiba gadis itu memikirkan sesuatu. Ia mengecek layar handphone-nya. 14:15. Masih ada waktu setengah jam lebih, sebelum ashar dan jadwal rapatnya. Runa bangkit, membereskan barang-barangnya, lalu beranjak ke tempat parkir.
Kafe Betelguese terletak di lantai dua sebuah gedung di pinggir jalan dekat kampus Runa. Lantai satunya dimanfaatkan sebagai toko alat tulis dan studio foto. Selama ini setiap kali melewati bangunan tersebut, Runa selalu memperhatikan kursi di ujung beranda kafe lantai dua itu. Membayangkan betapa asiknya menghabiskan waktu di sana. Menikmati sore. ‘Tapi selalu tidak ada waktu kosong..’, geram Runa.
Dan baru hari ini angan-angannya itu terwujud.
Runa duduk di kursi itu, kursi di tepi beranda. Dari sana terlihat pemandangan jalanan yang cukup ramai, Mata Runa menyusuri deretan toko yang berjajar, memperhatikan orang-orang yang keluar masuk dari toko-toko tersebut.
Dulu ketika masih duduk di bangku SMA, ada satu permainan yang sering Runa mainkan. Ia menyebutnya, ‘Jika Aku Menjadi’. Caranya, Runa akan memperhatikan orang yang ia temukan di sekitarnya, kemudian membayangkan bahwa dirinya adalah orang itu selama beberapa saat. Membayangkan apa yang dilihat oleh orang tersebut, apa yang sedang difikirkannya, apa yang sedang dihadapinya.
Sekarang, dari kursinya, Runa kembali mengulangi kesenangannya itu. Memperhatikan orang, berpura-pura menjadi orang tersebut. Runa butuh beberapa menit terbebas dari fikirannya sendiri, terbebas dari identitas dan sudut pandangnya sebagai Runa.
Setengah jam kemudian, handphone Runa berbunyi, menandakan adzan ashar akan segera berkumandang. Runa menghabiskan pesanannya dan bergegas pergi. Bibirnya kini menyungging senyum, memikirkan sudut pandang baru yang dia tangkap dari observasinya.