Ketika agama berusaha dihancurkan, Allah beri mereka kekuatan untuk tetap ada. Bahkan meski itu berlalu lamanya, seolah harapan itu tak lepas dari diri mereka.
Untuk saudaraku yang jauh di negeri seberang, bahkan raga kita terbelah samudera di antara sekian benua. Kau yang menangis namun tak juga menyatakan tumbang. Kau masih memercayai bahwa kami bisa nantinya menggenggam tanganmu dan menarik dari sengsaranya kezaliman penguasa kejam.
Bagaimana mungkin kau berharap pada kami yang bahkan zalim dengan saudara sendiri. Bagaimana bisa kau meyakini kami akan menjadi penolong membersamai agama ini padahal syariat ini tengah dikubur hidup-hidup.
Aku malu. Meyakini bahwa kalian bahkan lebih percaya pada saudara kalian disini dibanding diriku yang membersamai.
Aku malu. Bahwa para pemilik kemurnian iman akhir zaman menunggu datangnya bantuan dari saudaranya yang bertengkar mengenai keimanan.
Bagaimana bisa kalian percaya kami?
Sementara aku melihat, bahwa malaikat memeluk kalian dengan erat. Tak terasa bila diindera. Tak nampak bila ditekuri. Namun begitu Tuhan memanggil salah seorang dari kalian, kepak sayap rindu membawa sang pemilik iman menemui penduduk surga-Nya.
Sebab kami tak mungkin memerdakakan diri tanpa tegaknya sebuah syariat dan keridhoan-Nya
Ujarmu sekali lagi. Bersabar kesekian kali.