Mengutip: Menjadi Manusia yang Prinsipil Menjadi Hamba yang Visioner.
Seorang laki-laki yang tumbuh di keluarga terpuji, berakhlak, dan taat pada perintahnya meminta sesuatu yang tak dibayangkan oleh Ibunda.
"Al, kamu yakin mau sekolah umum? Lingkungannya beda loh sama SD-IT dan SMP-IT yang kau lalui," ucap sang Ibu penuh pertimbangan.
Mata teduh laki-laki memandang lembut perempuan kesayangannya.
"Mami, lingkungan hidup Al gak mungkin lurus-lurus aja. Justru ini dunia sebenarnya, Mi. Dunia yang semakin tidak baik-baik saja dan kita harus siap menjalaninya. Mami, Al mohon do'anya, Inshaa Allah, Al akan teguh pada prinsip ini."
Orang-orang mengenalnya Al. Laki-laki bertampang lurus bukan demi tebar pesona. Mulut pedasnya adalah tameng bagi perempuan yang bukan mahramnya.
_Dikutip dari "Quinsha Wedding Story" by Nia Maharani
Mungkin kutipan di atas kuambil dari sebuah novel yang menemani perjalanan titik balik hidupku. Bodohnya aku dulu, ketakutan mendapat jodoh buruk karena perilaku ini.
Tak salah memang berpikir bahwa jika ingin jodoh baik maka harus jadi baik. Itu artinya pamrih sekali, memangnya hidup kita sampai hingga kesana.
Maka detik ini justru dialog Al dan Maminya yang kurang lebih demikian memasuki ingatan yang sempat tenggelam didominasi soal 'jodoh baik untuk orang baik'. Sebuah dialog yang begitu mengena dan akhirnya kulihat di antara manusia yang menemani jalan hidupku saat ini.
Pada hakikatnya, ketika kita sudah memegang teguh prinsip, barangkali dalam hal ini adalah beragama maka kita tak perlu ragu. Justru prinsip inilah yang menjadi pembeda ketika pada langkah hidupmu memiliki banyak tanya dan kebingungan.
Karena pertanyaan hidupmu itu bukan lagi mau kemana? Namun, apakah ini diridhoi-Nya?
Jika tidak, maka sungguh indah meninggalkan sesuatu sebab rasa mencintai Sang Khalik.
Prinsip adalah pegangan hidup. Yang artinya kau berpegang pada sesuatu yang sudah jadi tujuanmu. Maka sebelumnya kita sebagai manusia memang sudah diberikan kemudian menyadari tujuan sampai ke bumi.
Allah memang memberi manusia dalam berbagai keadaan. Susah dan senang relatif. Dimana kamu berada saat ini adalah kehendak yang sesungguhnya apapun itu, baik kaya dan miskin adalah ujian.
Manusia yang visioner berfokus pada tujuan yang dia inginkan. Ia bukan melihat kerealistisan akal sesaatnya. Namun mengiringi dengan percaya dan sungguh-sungguh. Bersama ikhtiar dan doa panjang pada-Nya.
Manusia ini tak melihat hambatan hingga dirinya berganti arah merasa tak mampu. Ia akan menggunakan berbagai cara dengan usaha sendiri yang menambah nilai kemampuan dan pendewasaan. Yang membuatnya bagai pedang. Kuat dan tajam. Tentunya usaha yang benar bukan karena curang.
Dirinyalah pemimpi sejati yang merealisasikan aksi hingga menjadi bukti. Bukan angan-angan hampa tinggi menjadi bunga tidur. Tak tergapai bagai lamunan siang bolong di teras rumah dengan secangkir kopi sebagai teman.