Erinnerungen
Tersayang.
Tenda biru milik teman kita kala itu menjadi saksi pertemuan manis kita, Mas. Sebelum akhirnya kamu pamit untuk kembali melanjutkan perjalanan ribuan mil meninggalkanku.
Lagi, aku sendirian menunggu kabar kepulanganmu seperti sebelumnya. Tidak ada akses komunikasi yang bisa menyampaikan pesan rindu antara kita berdua.
Rasanya aku ingin sekali merubah perjanjian kita malam itu. Perjanjian yang berat sekali untuk aku lakukan. Tapi benar katamu, bertemu setelah ribuan detik tidak saling sapa ternyata memiliki kesan yang sulit dilupakan. Aku jadi menikmati dan menghargai pertemuan kita walau hanya hitungan hari.
Doaku untukmu tetap sama. Semoga Allah menjagamu setiap saat. Menjaga raga dan hatimu dikejauhan. Karena yang kubutuhkan ketika kamu pulang bukan hanya jiwa dan raga yang sehat. Tapi juga hati yang masih setia menyematkan namaku didalam sana. Karena disini, aku juga menjaga hatiku agar tetap terisi namamu.
Untuk yang tersayang. Lelakiku.














