Saat sedang asik berselancar di dunia maya, ada sebuah kata-kata yang sedikit menohok dada dan perasaan saya. Kira-kira bunyinya seperti ini.
“Hmm, Saya rasa pergerakan mahasiswa hari ini kurang ruhnya. Lagu-lagu pembakar semangat pergerakan hanya sampai pada awal gerbang saat penerimaan maba. Setelahnya hanya nyanyian lagu anak muda yang khas beralun hingga sudut-sudut kampus ini. Ironi.” Satu sisi menarik adalah saat si empunya kata ini adalah mahasiswa baru 2015 yang ia adalah seorang perempuan. Satu apresiasi dari saya atas keberanian dan kepeduliannya!
Tapi ini semua bukan hanya tentang lagu, tentang jargon Hidup Indonesia! apalagi ganyang asing dan bawa pulang kembali aset-aset negara seperti yang biasa kita teriakan bersama. Kawan bagi saya, kesemua aktivitas kita itu berawal dari satu kata, bermula dari satu muara yang belakangan ini sangat langka dan mulai punah pada diri mahasiswa. Dimanapun!
Mahasiswa mana yang lupa dengan kata Idealisme. Mereka yang turun ke jalan adalah mereka yang memegang teguh idealismenya (Katanya). Tak berarti mereka selalu benar, memang. Tapi agaknya kita melupakan hakikat sejati dari makna itu. Saya tahu kawan-kawan (pasti) memiliki arti khusus untuk kata itu. Tapi bagi saya ada cerita menarik yang ingin saya bagikan kepada kawan-kawan sekalian, akan arti dari Idealisme.
Sebut saja dia adalah Prama. Senior yang cukup menjaga idealisnya. Pendiam tapi kalau idealisme yang dipertaruhkan, jangan tanya apa yang akan ia lakukan. Ini adalah kisah nyata bukan buatan agar kita semua termangu dan terpesona. Ini adalah kisah tentang aktivis mahasiswa yang sering dicemooh dengan cibiran “nanti (kalau sudah kerja) juga lupa sama yang sudah diteriakkan di pinggir jalan!” Saya paham akan hal itu dan saya juga pernah mengalaminya.
Bagi anak Teknik, aktivitas politik kampus adalah sesuatu yang cukup tabu untuk dibicarakan. Padahal, sejak kapan ada pemisahan kelas sosial, kalau calon insinyur tidak boleh berbicara tentang negara? Prama adalah senior yang cukup dekat dengan saya. Pada suatu kesempatan kami asik berbicara tentang negara. Obrolan mahasiswa yang sering dibilang “bahasannya terlalu berat” tapi inilah kami, apa adanya. -Maaf kalau ada yang tidak suka dengan gaya kami.
Ini berawal dari pekan ujian tengah semester di kampus. Kampus Pahlawan Sepuluh Nopember. Prama melanjutkan ceritanya tentang pekan UTS yang dilalui sebagai salah satu menteri di Badan Eksekutif Mahasiswa Kampusnya. Well, tidak ada yang menarik awalnya sama seperti ketika saya menceritakan panjang lebar sampai titik ini, tapi justru ini permulaannya.
Semula Ia sudah bimbang dengan ujian kali ini. Pasalnya aktivitas yang cukup padat di BEM, membuat pekan UTS harus menjadi prioritas kedua atau bahkan ke sekian. Dan itu pula yang membuat Ia harus berpikir dua kali untuk mengikuti ujian salah satu mata kuliah (matkul) yang cukup membuat mahasiswa di jurusan tersebut banyak mengulang. Finite Element Methode (FEM) gabungan 3 huruf yang saling terikat selayaknya ikatan mahasiswa saat membentuk barikade badan yang sulit ditembus satuan pengamanan. Prama ragu karena ketidak matangan konsep FEM di dalam otaknya sehingga ia takut ketika ada kesempatan datang maka mencontek adalah jalan pilihan yang sangat mungkin dilakukan.
Anda tahu kawan? Sebimbang-bimbang hatinya ia tetap mengusahakan untuk datang tepat waktu di ujian FEM tersebut. Persis saat ingin masuk kelas, kebetulan dosen sudah siap terlebih dahulu di dalam ruangan ujian. Ia kembali berpikir akan nasibnya di dalam ruangan saat sudah di depan persis pintu ruangan ujian. Ini bukan tentang takut mendapat nilai yang buruk atau takut mengulang lagi matkul yang sama di semester depan. Ini tentang sikap yang teguh! Tentang apa yang selalu diperjuangkan di jalan, dan tak ingin hanya jadi omongan belaka ketika duduk di bangku kelas perjuangan. Ia kembali berpikir, seperti hal yang saya ceritakan di atas. Bagaimana jika nanti stuck dan gak bisa mengerjakan ujian, tiba-tiba ada kesempatan untuk mencontek dan...!
Kawan, bagi kalian yang sedari dulu atau sampai saat ini mempertanyakan. Apa fungsinya turun ke jalan? Maka sejatinya kami tidak bisa membuktikannya sekarang. Tapi kawan, tolong catat baik-baik, jangan pertanyakan tentang pergerakan dan dinamika mahasiswa yang mulai pudar saat ini. Tidak! Seharunya tak ada yang hilang dalam hukum kekekalan energi, bukan? Hal itu hanya bertransformasi menjadi energi lain yang mungkin tidak tersalurkan dengan baik. Jadi kalau kalian sampai saat ini mempertanyakan untuk apa fungsi turun dan berorasi di jalanan. Maka saksikanlah cerita Prama. Mahasiswa Kampus Pahlawan, yang mempertahankan idealisme demi menjaga nilai yang ada dalam dirinya.
Akhir dari tulisan ini akan ditutup dengan perkataan Prama. “Gue akhirnya gak masuk ke kelas, Ndu! Takut nanti gak bisa ngerjain dengan kemampuan gue yang terbatas tentang FEM. Dan siang itu, gue ke Perpus buat belajar lebih banyak tentang semuanya.”
Semuanya, bukan hanya tentang mata kuliah melainkan juga nilai dalam diri tentang sebuah arti kata “IDEALISME.”
@ Panduheru