Idealisme dalam (Mencari) Pekerjaan
1. Pekerjaan Bisa Menjadi Ladang Pahala untuk Akhirat
Ini poin ideal pertama kali yang saya tekankan saat keluar dari bangku perkuliahan. Pengalaman dari menyelesaikan skripsi yang lebih dominan hanya memenuhi kewajiban, menjadi hal yang sangat disayangkan ketika waktu habis untuk urusan dunia. Salah saya juga yang kala ini belum bisa meniatkan skripsi sepenuhnya untuk ladang akhirat.
Apalagi saat ini saya sedang menjalani pelatihan dimana pergi jam 8 pulang jam 5. Saya mikir, "Kalau gue dapet pekerjaan yang cuma ngehasilin uang, banyak waktu yang sayang banget dihabiskan untuk urusan uang aja. Padahal setiap detiknya Allah kasih kita kesempatan untuk beramal."
Uang emang bisa dijadikan pahala kebaikan, ini akan saya bahas di poin ketiga. Tapi kalau kita masih bisa melebarkan sayap dalam ibadah bekerja, kenapa gak kita manfaatkan.
Saya ambil contoh pekerjaan Dokter yang bertugas mengobati orang sakit. Disamping dia mendapatkan penghasilan, setiap detik yang dia gunakan dalam menjalankan pekerjaannya menjadi pahala sendiri yang malaikat catat. Bayangkan, betapa banyak investasi akhirat yang ditanam Dokter ini.
Jadi, cari bagian mana dari pekerjaan kita yang bisa dihubungkan untuk akhirat. Akan selalu ada ketika kita meniatkan.
2. Bidang Pekerjaan merupakan Passion Kita
Sering banget kan, ya, motivator ngucapin hal ini. Ikuti passion, penghasilan akan mengikuti. Makanya banyak juga yang keluar dari pekerjaan dengan alasan "itu bukan passion saya".
Tapi untuk poin ini kembali lagi ke diri masing-masing. Ada orang yang gak terlalu mempermasalahkan hal ini dan ada orang yang sebaliknya.
Saya berusaha untuk menjadi orang sebaliknya, yang ingin meniatkan pekerjaan menjadi passion karena saya sudah pernah merasakan ngelakuin hal yang gak saya suka.
Pengalaman saat kuliah, di semester 1 sampai 5, saya masih belajar kesehatan masyarakat secara umum. Kebanyakan berkutat ke bidang epidemiologi, AKK, Gizi, Biostat yang bukan terlalu bidang saya. Lalu datanglah semester 6 dimana kita udah dibagi di peminatan yang kita pilih. Saya pilih kesehatan lingkungan, peminatan yang saya incer bahkan sebelum diterima di FKM Undip.
Kalian tau beda nuansa belajar yang dirasakan dari sebelum peminatan dan setelahnya ? Saya lebih semangat tau teori-teori yang diberikan Dosen. Bahkan bagaimana cara saya memandang PPT di kelas itu berbeda. Di semester 6, setiap kali saya memandangnya terasa lebih indah dibandingkan semester sebelumnya.
Ditambah lagi, pengalaman di luar bangku perkuliahan, mencoba bidang-bidang baru. Hasilnya, saya setengah-setengah ngejalanin bidang yang bukan passion atau mungkin terpaksa. Berbeda dibandingkan bidang kebalikannya, tidak ada keterpaksaan dan potensi diri yang saya punya lebih mudah keluar.
Dari sinilah saya tau, passion menjadi pendorong saya untuk semangat dan mengeluarkan lebih banyak potensi diri.
3. Mendapatkan Penghasilan
Ini gak diragukan lagi menjadi sebab musabab orang mencari pekerjaan. Biar ga minta uang lagi sama orang tua buat kita yang baru lulus. Penghasilan buat bantu ekonomi orang tua. Penghasilan buat menafkahi anak dan istri. Disamping itu semua, ini lebih dari itu. Dengan punya penghasilan sendiri berarti kita sudah selesai dengan urusan diri sendiri. Apalagi kita yang mengabdikan diri untuk umat.
"Kita harus selesai sama diri kita sendiri."
Ini salah satu nasihat dari kakak tingkat yang saya pegang sampai saat ini. Juga jadi salah satu motivasi selesai mengerjakan skripsi saat itu.
Saya ambil contoh orang yang kurang berkecukupan ekonominya. Kenapa mereka tingkat pendidikannya rendah ? Karena mereka belum selesai dengan urusan perut mereka.
Tidak bisa dipungkiri untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, kita harus selesai dengan tingkat dibawahnya. Ketika kita selesai sama diri sendiri, kita akan lebih mudah untuk lebih fokus mengurus umat. Lebih fokus. Bukan berarti tidak bisa mengurus umat ketika belum selesai dengan urusan diri sendiri. Kefokusan itu insyaa Allah menambah keproduktifan kita bermanfaat bagi umat.
Kita juga sebagai umat islam, jangan pernah alergi untuk mendapat penghasilan sebanyak-banyaknya di dunia ini. Salah satu pengusaha di sebuat training menjadi inspirasi saya kala itu ketika dia memiliki visi untuk membuka cabang restaurannya 1000 tempat di seluruh Indonesia. Alasannya adalah agar dia bisa sedekah lebih banyak dari sedekah yang dikeluarkan dia saat ini.
Kalau kita menelisik sejarah para sahabat, kebanyakan dari mereka adalah pengusaha sukses yang hampir bahkan seluruh hartanya mereka waqafkan untuk dakwah. Abu Bakar yang kita tau sedekahnya tidak terkalahkan, bahkan oleh Umar. Utsman bin Affan, pengusaha, yang terkenal menjadi pemasok pundi-pundi kebutuhan dakwah Rasulullah dalam berperang. Gak jauh-jauh dari kehidupan Rasulullah, istrinya sendiri, Khadijah pun pengusaha yang menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan dakwah Rasulullah dengan hartanya hingga meninggal dalam keadaan miskin.
Inilah yang kita bisa lakukan dari hasil pekerjaan yang kita lakukan. Bukan sekedar memenuhi kewajiban menafkahi namun menjadi ladang sedekah untuk kehidupan selanjutnya.
Jujur, memegang poin-poin ini gak mudah. Kalau kata seseorang, idealisme kita akan diuji nantinya. Inilah fakta yang saya rasakan. Dari mulai pertanyaan orang-orang udah kerja atau belum. Ngeliat teman lain udah kerja. Lowongan kerjaan sedikit yang sesuai sama 3 poin ini. Belum lagi persaingan yang sangat ketat, 1 pekerjaan bisa diperebutkan ratusan orang.
Ingat, idealisme kita sedang diuji. Yang selalu saya berusaha ingatkan ke diri saya, bersabarlah. Akan ada keindahan setelah kesabaran yang kita lakukan. Allah selalu tau kok perjuangan kita selama ini.
Selain itu, yang saya bayangkan ketika saya stuck sama 1 pekerjaan, minimal setahun. Pertama, berpengaruh sama semangat bekerja. Kedua, sayang waktunya karena ketika kita menganggur pun, kita masih bisa mencoba ilmu baru ataupun menuntaskan hafalan yang gak selesai-selesai (saya malu sama ini). Ketiga, sekalinya stuck sama sesuatu, sulit untuk lepas. Ibaratnya kamu udah ngikutin arus sungai X, untuk beralih ke arus sungai lain, butuh usaha keras untuk mendayung ke sebelahnya. Ibaratnya lagi, dibidang X kita udah lumayan jauh dari garis start, ketika kita memulai bidang Y, otomatis kita mulai dari garis start lagi.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Entah itu terlambat memulai pekerjaan diawal, atau terlambat memulai karir baru di bidang lain. Pada akhirnya, kita akan bilang, "Thanks for being late."
Tetapi daripada terlambat, semoga kita menjadi orang yang tepat dalam memulainya.
P.S. Semoga saya kuat memegang idealisme ini.