Saya masih ingat betul kata-kata kakak pendamping Etos saya tentang pemimpin, tepatnya himpunan. Waktu itu beberapa pekan sebelum pendaftaran calon ketua himpunan teknik perkapalan dibuka, dan saya masih bimbang dengan pertimbangan ikut atau tidak. Kata-kata itu eperti ini, "Nanti saat udah di himpunan, jangan seperti penjaga toko. Kamu itu (nanti) ketua organisasi, bukan jagain toko yang harus stay di sana terus menerus." Himpunan di ITS terkenal dengan kekerengan dan kahimasentrisnya. Ketua himpunan berarti fokus dan harus stay di himpunan, tidak boleh tidak, satu waktu anggota himpunan menanyakan kehadirannya, maka disana harus ada ketuanya. Berlebihan? Mungkin ya, mungkin tidak, itu salah satu alasan kakak pendamping saya menyarankan agar tidak seperti penjaga toko ketika nanti menjabat ketua himpunan. Berjalannya waktu, saya diamanatkan Allah untuk mengendarai organisasi HIMATEKPAL periode 2014/2015. Satu sisi, saya bukan orang kultural himpunan yang terkungkung pikirannya hanya untuk himpunan. Saya ingin membawa himpunan ini lebih terbuka dengan potensi eksternal yang dimiliki. Alhasil, saran kakak pendamping saya, dilaksanakan dengan sangat baik. Tahu hasilnya? 3 bulan pertama, saya hanya menjalankan himpunan seperti tujuan saya. Bagus kah? Jelas bagus, namun ada sisi lain dari berhimpun yang harus dipahami oleh si ketua hima. Berhimpun dalam himpunan maka harus melibatkan anggota sebagai konstituennya. Tak boleh tidak, kalau hanya sebagai pelengkap belaka maka kehambaran akan sangat terasa dalam masa kepengurusan. Itu yang saya rasakan dan pada akhirnya saya harus merubah kendali bahtera organisasi. Saya menyadari, ada yang kurang dalam 3 bulan berjalan. Kesadaran ini harus diikuti dengan keseriusan untuk berubah. Berubah meski harus mengganti arah, bahkan sampai harus belok dari idealisme awal untuk sebuah perubahan itu sendiri. Saya fokus di himpunan sebagai "penjaga toko", sebenarnya itu hanya sebutan saja bagi saya sebagai kata ganti keseriusan. Saya bersungguh-sungguh dalam menjabat amanah ini. Saya tak ingin memperburuk citra himpunan yang telah dibangun oleh pendahulunya. Dan di titik ini saya bergerilya bak pejuang kemerdekaan, dari satu warkop ke warkop lain, satu base camp ke base camp lain, satu lab ke lab lain. Kehidupan yang tak pernah saya impikan sebelumnya, kehidupan sesungguhnya para "kahima". Seperti dugaan awal, ketika merubah haluan maka hal ini yang akan saya hadapi. Melawan arus akan baik jika semua elemennya siap untuk mendayung bersama, tapi mengikuti arus bukan berarti kita juga santai dan tenang. Justru, ketika mengikuti alur yang ada kita harus lebih ekstra hati-hati, mereka yang tak siap akan terbalik bahteranya oleh arus kencang, mereka yang berjuang dengan dayungnya itu yang akan selamat sampai tujuan, meski tak lagi memperjuangkan si perubahan seperti sedia kala. Keseriusan ini mengajarkan saya untuk dewasa dalam hidup. Berada di sekitar perokok membuat saya harus kuat dan tahan untuk bergaul bersama mereka. Membutuhkan manusia "kalelawar" (sering begadang) hingga sholawat sebelum subuh lebih sering membuat saya terkantuk-kantuk kala agenda asrama yang dilaksanakan setiap pagi ba'da subuh. Keseriusan ini mengajarkan saya arti dari waktu yang tak boleh dibuang sedikit pun jumlahnya. Mereka yang tak pernah merasakan pentingnya waktu tak heran hanya akan berleha-leha lantaran terbawa nikmatnya suasana. Keseriusan ini yang mengajarkan saya arti tanggungjawab, kala himpunan saya dirundung masalah dengan anggota keluarga mahasiswa lain di ITS, pilihannya hanya dua, Drop Out ketuanya atau pembekuan himanya. Berat memang menjadi ketua himpunan, tapi setidaknya pilihan saya untuk merubah haluan telah mengajarkan saya arti penting dari pengorbanan. Pengorbanan akan waktu yang setahun lamanya. Pengorbanan dari rasa kantuk akibat memilih bincang-bincang di warung kopi. Pengorbanan atas semua tujuan awal dan rencana. Termasuk pengorbanan yang harus dirasakan Ibu di Jakarta. Tapi saya percaya, keseriusan ini adalah investasi, bahwa hal ini tak pernah sia-sia, maka sejatinya pengorbanan ini hanya tabungan pengalaman, yang akan dipetik hasilnya kelak di masa depan. @panduheru #23