Tiap orang pasti mengalami sedikit demi sedikit perubahan pada pemikiran maupun sudut pandang mereka. Tak akan pernah sama. Untuk apa mereka bergerak ketika mereka mau maju. Kalau cuma hidup cuma sekadar hidup, babi di hutan juga hidup.
Sebuah transformasi, memang tak pelak selalu dibutuhkan. Bayangkan saja, seorang yang dulunya cuma suka mengurung otak dalam kerumunan variabel rumus fisika sekarang mampu berbicara bagaimana memimpin sebuah tim di depan khalayak. Bagaimana ia berproses dari seorang yang berpikiran memajukan negeri hanya dengan membuat penemuan hebat menjadi bergerak bersama dengan manusia peduli negeri lainnya untuk mengubah atau bahkan memimpin negeri ini. Iya, jika ditanya apa yang menyebabkan dirinya berubah, dengan mantap ia akan menjawab,
Cukup kontroversial? tentu saja, tidak.
Tahun pertama mengajarkan bagaimana ia harus menjadi manusia. Peduli sesama, merubah mindset terhadap negara, mencari passion, hingga mulai berencana ia kelak akan kemana. Ia tak lelah mencari teladan, para manusia inspiratif yang tak lelah memberi nasihat penuh makna. Saat inilah ia sedang sibuk melempar mimpi ke angkasa, merangkai apa saja yang dibutuhkan untuk untuk melebihi pencapaian generasi sebelumnya.
Tahun kedua mengajarkan bagaimana rasanya menjadi di tengah, dilema ketika berperan sebagai seorang kakak dan adik dalam waktu yang bersamaan, mulai belajar tentang tanggung jawab serta konsekuensi yang kelak diterima, hingga memimpin sebuah tim, yang satu mengajarkannya untuk memiliki sebuah arti dalam satu warna, sedangkan yang lainnya mengajarkan indahnya perbedaan dalam satu rasa. Tak jarang ketika ekspektasinya tak sampai, ia kecewa. Pada akhirnya, skenario Tuhan memang yang terbaik. Selama ia berjuang, ia selalu mendapat ganti yang pantas, bahkan lebih. Siapa sangka ia akan menyampaikan gagasannya di depan sekelompok manusia yang terkenal kerasnya itu? Bagi teman-teman nya yang terdahulu, tentu saja tak akan pernah terpikirkan.
Tahun ketiga mengajarkan bagaimana menanggung sebuah amanah, mengatur waktu dengan cekatan, melatih endurance, mendengar semua kritik dengan legawa, bekerja sama dalam setiap keadaan, mempersiapkan generasi penerus, mulai berubah dari manusia yang dulunya mencari teladan menjadi contoh, panutan tiap orang yang ingin berjuang. Semuanya jelas tak akan lagi sama, lagi-lagi mulai pemikiran hingga sudut pandang tentang setiap hal. Dulu, ia selalu kesal lantaran seorang pendiam sepertinya tak pernah diberi perlakuan khusus. Sekarang, tak jarang ia memulai percakapan sebab ia benar-benar mengerti sulitnya seorang pendiam untuk membuka mulut akan apa yang ia ingin sampaikan. Ia tak pernah berpikiran bahwa balas dendam adalah cara terbaik untuk melampiaskan semua kekecewaannya. Ia selalu berpikiran, jadilah mereka yang lebih baik, maka mereka akan menyesal pernah bersikap sedemikian rupa pada mu.
“Apakah mereka sudah menyesal?”
“Belum, aku masih harus belajar banyak”, ujarnya pelan.
*Cerita mengenai seorang pendiam yang berjuang mencari arti, tak pernah lelah walau kadang ketika ia sudah berlari sejauh mungkin, menghabiskan tenaganya, para penonton bilang bahwa garis finis nya lah yang dibawa ke garis start, tanpa merasa bersalah. -Ananta-