Kalau ada kata-kata di atas Terima kasih yang lebih tinggi lagi, akan kuucapkan selalu berkali-kali 🥺
Ya Allah, terima kasih. Terima kasih banyak sudah sayang Aku, sudah undang aku, sudah panggil aku ke sini 🥺
Terima kasih ya Allah. Terima kasih 🥺😣
seen from China

seen from United States

seen from China
seen from France

seen from Türkiye

seen from China

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States
seen from China
seen from Norway

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Russia
seen from Russia
seen from United Kingdom

seen from Canada
Kalau ada kata-kata di atas Terima kasih yang lebih tinggi lagi, akan kuucapkan selalu berkali-kali 🥺
Ya Allah, terima kasih. Terima kasih banyak sudah sayang Aku, sudah undang aku, sudah panggil aku ke sini 🥺
Terima kasih ya Allah. Terima kasih 🥺😣
Ke Rumah-Nya
Ada fase dalam hidup ketika lelah tidak selalu datang dari banyaknya aktivitas, tapi dari hal-hal yang entah sejak kapan terbiasa dipendam sendirian.
Aneh sebenarnya. Kita dikelilingi orang. Punya keluarga. Punya rumah. Tapi tetap saja ada hari-hari ketika isi kepala terasa penuh, dan pertanyaan yang muncul: talk to who?
Bukan karena tidak ada yang peduli. Namun justru karena terlalu tahu siapa yang paling peduli.
Orang tua, misalnya.
Bagiku, mereka adalah definisi rumah yang paling nyata. Tempat pulang yang rasanya selalu ada. Tempat di mana kita diterima, bahkan saat dunia terasa… complicated.
Tapi semakin dewasa, ada rasa sungkan yang ikut tumbuh. Tidak semua resah terasa enak untuk dibawa pulang. Tidak semua lelah terasa ringan untuk diceritakan.
Bukan menjauh. Hanya… enggan merepotkan cinta yang sudah terlalu tulus. Jadi kita memilih diam. Terlihat baik-baik saja— setidaknya dari luar. Menata wajah sebelum masuk rumah.
Sampai di satu titik lelah yang sulit dijelaskan, aku mulai mengerti— bahwa ada satu tempat pulang yang tidak pernah direpotkan oleh cerita seberat apa pun. Tempat di mana riuh di kepala tidak harus disusun rapi dulu. Tempat di mana air mata tidak perlu dibendung agar terlihat kuat.
Kepada Allah.
Dan di antara doa-doa yang kupanjatkan lirih, ada satu rindu yang terus kembali: ingin lebih dekat, ingin pulang dengan cara yang berbeda.
Umroh.
Bukan sekadar perjalanan, tapi keinginan untuk bernafas lebih tenang, meletakkan lelah tanpa perlu berpura-pura, dan merasa pulang… dengan cara yang paling utuh. Semoga Allah mampukan untuk menuju ke rumah-Nya.
•••
:: 4 Ramadan 1447H
Home is where the Haram is.
Akhir tahun 2025 akan selalu saya kenang sebagai akhir tahun paling damai sepanjang hidup. Tidak ada notifikasi whatsapp dan dering annoying MS Teams yang memang sengaja saya matikan, paling tidak selama dua minggu. Tujuannya satu, mengunci ingatan untuk selalu pasrah dan berserah diri kepada Allah SWT di tempat paling suci di dunia.
Perjalanan dimulai dari April 2025. Saya, ibu, istri, dan Ocean dengan seizin Allah dan dengan niat tulus, akhirnya mendaftar program umroh untuk bulan Desember 2025. Niat yang memang sudah lama kami ingin wujudkan, qadarullah baru bisa terlaksana bulan Desember 2025.
Sepanjang April s.d. November, hati dan pikiran saya seolah sudah dibawa terbang. Setiap ada masalah, baik di keluarga maupun di pekerjaan, hati selalu berbisik, "Tenang, tunggu sampai bulan Desember. Kita tumpahkan semua di sana." Pun ketika momen bahagia, pikiran selalu datang, "Segeralah bulan Desember, kita bagi kebahagiaan ini di sana."
Perjalanan menuju Desember bukan tanpa hambatan. Cobaan fisik dan materi tak pernah luput. Beruntung, istri selalu mengingatkan dan menguatkan. Itu lah yang semakin mempertebal niat dan tujuan kami untuk lekas pergi dan mengadu di rumah Sang Maha Pencipta.
Waktu yang dinanti tiba. Kami tiba di Madinah, tempat peristirahatan terakhir Nabi Muhammad SAW. Baru hari pertama kami menginjakkan kaki di Madinah, Allah langsung mengabulkan salah satu doa paling besar saya.
Jauh sebelum berangkat, saya berdoa agar kami sekeluarga selalu diberikan keharmonisan dan ketenangan bersama. Alhamdulillah, doa saya langsung diijabah di hari pertama kami di Madinah. Sungguh, keajaiban umroh seperti yang orang banyak bilang benar adanya.
Total lima hari kami di Madinah. Bagi saya, 24 jam serasa kurang. Madinah terlalu tenang dan damai untuk dihabiskan hanya dalam waktu 24 jam.
Saya yakin, perasaan itu muncul karena kami berada begitu dekat dengan Rasulullah SAW. Masjid Nabawi terasa begitu hangat kapan pun kami ke sana. Suhu ketika kami shalat Subuh pertama di Masjid Nabawi itu 4 derajat Celcius, tapi hampir tak terasa ketika kami sampai di pelataran Masjid.
Assalamualaika ya Rasulullah..
Madinah dan Masjid Nabawi begitu istimewa. Suasananya, orang-orangnya, mereka semua seolah menyambut ramah setiap orang yang datang ke sana. Saya seperti dipeluk dari belakang sambil berbisik, "Sudah lah, apa yang kamu kejar di dunia. Datanglah ke masjid, ibadah lah. Nikmati kota ini seutuhnya."
Qadarullah, saya belum sempat masuk ke dalam Raudhah, taman surga tempat bersemayam baginda Nabi Muhammad SAW. Tasreh yang tak kunjung keluar dari agen travel dan usaha sendiri lewat instant track Nusuk pun tetap belum bisa.
Beruntung, istri bisa masuk karena jamaah putri ijin Tasreh bisa keluar. Saya yang sedang berdua dengan Ocean langsung mengirim chat paling romantis yang pernah saya kirim ke siapapun.
Hati benar-benar bergetar, air mata tak hentinya keluar saat menulis chat singkat itu. Ada perasaan sedih sekaligus senang. Sedih karena belum bisa berkunjung langsung, senang karena paling tidak, istri dan ibu bisa merasakan pengalaman paling berharga di Madinah itu.
Setelahnya, saya hanya berpikir, mungkin inilah cara Allah SWT agar saya kembali ke Madinah lagi tahun ini. Bismillah, ya Allah. Aamiin.
Saatnya kami menuju tujuan utama kami. Ibadah umroh di tanah Haram. Pertama kali turun dari Stasiun HHR, langsung begitu terasa perbedaan kota Makkah dan Madinah.
Makkah bagi saya adalah kota hustle. Semua orang ingin beribadah sedekat mungkin dengan Allah. Semua orang dari seluruh penjuru dunia ingin sedekat mungkin untuk berdoa di tempat yang paling mustajab. Semua orang begitu bersemangat dan berlomba-lomba menuju kebaikan.
Hal yang sangat wajar, karena di sana lah rumah Allah. Semua ingin menjadi tamu Allah yang tidak merugi. Apapun dilakukan untuk meraih beribu kali lipat pahala dari Allah SWT.
Satu yang paling saya takutkan sebelum saya berangkat ke tanah suci. Bahwa perasaan saya akan kosong ketika melihat Ka'bah. Hati tak bisa menangis seperti jamaah pada umunya ketika melihat Ka'bah secara langsung pertama kali.
Tapi semua sirna seketika. Langkah pertama setelah tawaf dimulai, dada langsung terasa sesak. Di tengah ribuan jamaah lainnya, saya menangis begitu putaran pertama tawaf.
"Ya Allah, saya sampai di sini. Di tempat yang semua umat Islam impikan untuk datang. Saya sudah di sini Ya Allah. Bersama ibu, anak, dan istri. Betapa beruntungnya kami ya Allah."
Makkah benar-benar mengajarkan saya bahwa dalam beribadah, semua perlu diperjuangkan. Melihat begitu kerasnya usaha semua orang untuk ke Hajar Aswad, bagaimana panjangnya antrean untuk bisa ke Hijr Ismail, serta gigihnya jamaah yang berusaha meraih Multazam, sungguh begitu menyenangkan.
Bagi saya, ungkapan "undang kami" atau "panggil kami" untuk menjalani ibadah umroh kurang tepat, karena menurut keyakinan saya, kita semua sudah diundang Allah SWT untuk ke Baitullah. Tinggal apakah kita mau menghadiri undangan tersebut atau tidak.
Memang perlu lebih dari sekadar fisik yang mumpuni dan materi yang berkecukupan. Terlebih dan yang paling penting, adalah niat dan keikhlasan untuk beribadah dan bertamu ke rumah Allah yang menjadi dasar itu semua.
Makkah dan Madinah adalah satu-satunya tempat di dunia ini, di mana saya merasa pulang ke "rumah", padahal belum pernah sekalipun pergi ke sana sebelumnya.
Normalnya, dimanapun kita pergi, akan selalu menyenangkan untuk pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Tetapi, saya benar-benar merasakan mixed feeling ketika meninggalkan Makkah dan Madinah. Hati terasa penuh, tetapi juga hampa di saat yang bersamaan.
Tidak ada lagi keringat yang menetes karena berdesakan tawaf, tidak ada lagi sepertiga malam yang begitu sunyi dan tenang di Masjid Nabawi, tidak ada lagi teriakan askar yang menyuruh kami segera bergegas.
Ada tarikan magis yang sungguh tak bisa diutarakan dengan mudah ketika ditanya kenapa begitu ingin ke sana lagi.
"Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah sebagaimana seekor ular kembali ke dalam sarangnya."
(HR Bukhari: 1876, Muslim: 147)
Bismillah. Mudahkanlah kami untuk bisa kembali ke Haram ya Allah. Secepatnya. Setiap tahunnya. Aamiin.
#SerakahDalamIbadah
Jika serakah yang mendasari sikap kita, dalam ibadah misalnya, maka apa yang terjadi?
Ya benar...
Shalatnya emosional, zikirnya emosional, doanya emosional, dan membaca Al-Qur'an dengan emosional.
Dengan performa yang seperti itu, rasanya kita bisa menilai kualitas ibadah yang setingkat itu. Rasa-rasanya, ibadah dengan model yang emosional seperti itu adalah ibadah yang tak membawa bekas apa-apa.
Mengapa? Allah itu hanya menyapa jiwa yang tenang.
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya."
(QS Al-Fajr [89]: 27-28)
Niat baik, diganti baik
Kalau sesuatu itu sudah menjadi rezekimu, terkadang kamu diuji untuk melepasnya, tapi ia akan berbalik menujumu dengan cara-cara yang tak kau tahu.
Cerita ini hanya beberapa orang yang tahu.
Aku sudah sejak dua tahun lalu menginginkannya, "Pak Buk aku mau ikut umrohnya abah ya? Tak nabung ya?" Saat itu pikiranku sesimpel, mumpung uangku hakku sendiri, belum berpasangan. Dan beberapa kali pula Bapak dengan guyonannya "Loh Barangkali dapat rezeki diumrohkan pondok", saat itu selalu aku jawab, ah aku ini siapa, anak baru kemarin yang belum banyak berperannya, bismillah aku mau nabung aja!
Dan bukan aku kalau tidak banyak pemikiran menyeruak, Kalau aku berangkat duluan dari orang tuaku, apa tidak apa-apa? Kalau orang tuaku tiba-tiba harus melunasi haji, siapa nanti yang membantu? Dan suatu hari pertanyaan itu tanpa ditanyakan dijawab oleh salah satu gus saya. Bahwa kita harus mendahulukan yang wajib meski tidak terlihat pasti. Bahwa niat baik untuk orang tua kita pasti akan berbalas baik bagi kita.
Akhirnya awal tahun ini aku berusaha berkompromi dengan keinginanku sendiri. Separuh untuk menunaikan kewajibanku dan separuh untuk meringankan kewajiban orang tuaku. Keinginan untuk berangkat umroh itu masih ada tapi kubisikkan pada diriku sendiri, kita nabung lagi ya... barangkali 4 tahun lagi kekumpul.
Tapi Allah itu mendengar bisikan yang bahkan tidak berani untuk dijadikan doa. Tidak perlu 4 tahun, tidak perlu menabung, jika seluruh dunia bilang ngga mungkin, nggak mampu, tapi kalau Allah bilang mungkin dan mampu mau apa?
Hanya 7 bulan berselang, benar kata Ustadku dulu "Rezeki yang paling indah adalah yang Min Haitsu laa yahtasib, dari arah yang tidak disangka" guyonan bapak ibuku menjadi kenyataan. Bumi Shalawat memberikan reward prestasi padaku, dengan umroh sama persis seperti pamflet yang pernah kutunjukkan kepada orang tuaku.
Aku jadi mengerti bahwa dalam kondisi putus asa, dalam usaha kita berkompromi dengan keinginan kita dan kebaikan bersama, Kita selalu disaksikan, kita selalu diberikan balasan yang termanis yang bahkan tidak pernah kita bayangkan.
Terimakasih sangat besar untuk Bumi Shalawat, Abah Kyai Ibu Nyai, Ning Dawik dan Gus Burhan serta semuanya. Dalam doaku semoga dimampukan dan dilomankan seperti beliau beliau.
Tentu juga pada Bapak Ibuk dan adik2ku yang selalu mengimbangi sifat logis-pesimisku dengan doa-doa dan segala nasihat. Aku jadi yakin untuk teman2ku yang menginginkan hal sama dan kemarin meminta doa. Aku yakin Allah akan memampukannya dengan berbagai caranya yang selalu indah.
The Story of My First Spiritual Journey. Umrah. 🕋
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
Arab Latin: "Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syarika lak."
Artinya: "Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian dan kenikmatan hanya milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu"
Atas segala titik terindah ini, atas undangan istimewa ini, atas segala kemurahan rezeki darimu, dan rasa syukur dan bahagia yang tak terhingga ini. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Terima kasih yaa Allah untuk panggilan terindah dari mu. Aku adalah hambamu yang penuh dengan dosa, yang pernah dan masih sering melakukan hal tidak baik, yang sering sekali mengeluh ketika engkau berikan ujian. Namun maha baik nya engkau, engkau mempersilahkan aku menjadi tamu mu untuk beribadah di tanah suci mu. Engkau memanggil ku dengan penuh kelembutan, engkau berikan kemudahan jalannya, engkau kirimkan orang orang baik untuk meyakinkan hatiku, dan semua nya tersusun dengan sangat rapih dan indah sejak awal tahun 2024 ini. Engkau menyambut ku dengan penuh kehangatan suka cita, memberikan jamuan yang begitu nikmat, Ya Allah.... Terima kasih banyak. Semua yang terjadi selama disana, aku nikmati setiap detailnya dengan penuh rasa syukur karena rasanya engkau begitu sangat dekat. Begitu banyak cerita yang aku sampaikan dan begitu banyak doa yang aku mohonkan. Semoga engkau mengabulkan segala doa doa ku ya Allah. Dan rasanya aku tidak sabar menunggu kembali panggilan terindah mu lagi ya Allah untuk beribadah kembali di tanah suci. Semoga segera panggilan indah dari mu itu datang untuk ku. Aamiin.
A journey to dig deeper of my inner peace, a trip back to fitrah and an unforgettable experience that humbled me. From Jeddah to Mekkah to Madinah.
Masjid Abdullah Ibni Abbas
Masjid Qu'u
Masjid Saidina Ali
Rose Factory Taif
Masjid Qarnul Manazil
Jabbal Thsur ( Gunung Tsur)
Jabbal Rahmah ( Gunung Rahmah)
Masjid Ja' Rannah
Ladang unta
Muzium al Haramain
Wadi Berakah
Masjid Hudaibiyah
Muzium al Ahmoudi
Kota Badar
Masjid al Areesh
Makam & Tugu nama Para Shuhada Badar
Jabbal Malaikat (Gunung Malaikat)
Telaga Rauha
Perkuburan Baqi
Masjid Ghomamah
Saqifah Bani Sa'dah
Makam Rasulullah s.a.w
Masjid Quba'
Ladang Kurma
Melintasi Masjid Qiblatain, Masjid Tujuh
Jabbal Uhud ( Gunung Uhud)
Ziarah Raudah
Persiapan Umroh Perdana
Pernah berdoa, “Ya Rabb, semoga kelak bisa umroh sebelum usia 30 tahun.” Berdoa saat masih di bangku putih biru. Dan ternyata Allah kabulkan di usia 28 tahun. MasyaAllah tabarakallah.
Melihat antrean haji saat ini yang sangat panjang, yang kadang tak masuk akal, menunaikan ibadah umroh bisa menjadi motivasi yang perlu didahulukan. Buat teman-teman kawula muda yang merencanakan perjalanan umroh perdana, barangkali tulisan sederhana ini bisa menjadi gambaran. Sekilas kutuliskan bekal-bekal yang harus disiapkan. Tentunya ini berdasarkan pengalamanku. Akan berbeda kisahnya dengan orang-orang dari belahan bumi lainnya. Yang penting, niat dulu. Rezeki sudah ada yang mengatur.
1. Pentingnya afirmasi Sesederhana follow medsos Mekkah Madinah, nonton live streaming IG biro umroh dan haji, nitip doa dan tulisan pada teman yang umroh di sana. Mungkin cara itu bisa dicoba. Silaturrahimlah ke orang-orang yang akan berangkat atau pulang dari tanah suci. Karena aku suka menggambar, detail kubah hijau masjid Nabawi dan sketsa kecil masjidil Haram kubuat sebagai afirmasi. Sambil disholawati setiap hari. Cara ini mungkin akan berbeda versi, disesuaikan kesukaan teman-teman sendiri.
2. Perbanyak doa Betapa baiknya Allah, telah disediakanNya waktu-waktu mustajabah untuk berdoa. Di perjalanan, di saat hujan, di antara adzan dan iqomah, di hari jumat selepas ashar, dll. Saat-saat itulah harus kita maksimalkan untuk berdoa. Jangan lupa, doakanlah orang lain karena kebaikan itu akan kembali pada yang mendoakan. Serta jangan lupa untuk berdoa setelah melakukan kebaikan-kebaikan. Karena Allah Maha Mendengar, Maha Teliti terhadap apa yang kita kerjakan.
3. Niat karena Allah Niat adalah kunci dari segalanya. Bismillah, beribadah hanya untuk Allah. Perbanyak berdzikir, perbaiki ibadah wajib, maksimalkan ibadah sunnah. Semoga upaya yang demikian bisa menjaga niat kita, murni hanya untuk Allah. Semoga Allah menguatkan langkah-langkah kita. Aamiin.
4. Persiapan administrasi Kalau misalnya saat ini sudah punya paspor dan masih berlaku, itu sebuah rejeki. Saat ini, persyaratan untuk umroh hanya vaksin Covid dosis 1- 2 dan vaksin meningitis saja. Tak kalah pentingnya, jika teman-teman sebagai pekerja kantoran, ASN yang terikat jam kerja. Jangan lupa menyiapkan izin cuti kerja jauh hari sebelumnya. Akan berbeda cerita dalam mengurus cuti kerja ini. Bagi para freelancer, tentunya akan lebih mudah mengatur waktunya.
5. Persiapan tabungan Bagi pekerja keras yang memprioritaskan ibadah umroh, harus memperbaiki managemen keuangannya. Tidak perlu iri kalau ada teman yang senang membeli barang mahal, suka liburan, dll. Sah-sah saja. Tidak perlu repot karena memang itu uang mereka. Selama kita tahu tujuan awal, hati akan tenang dan fokus mencapai tujuan. Biaya umroh 13 hari perjalanan rata-rata kisaran 30 juta. Belum termasuk uang saku, vaksin, paspor. Lain cerita kalau umroh di bulan Ramadhan, biasanya biaya menjadi lebih tinggi. Perbedaan harga biasanya tergantung dari fasilitas yang ditawarkan dan lama perjalanan. Jadi sudah siap mengupayakan biaya untuk ibadah?
6. Persiapan fisik Meskipun saat ini merasa kuat dan sehat-sehat saja, jangan lupa untuk rajin berolah raga. Karena saat umroh nanti akan banyak melakukan ibadah fisik. Mulai sekarang, boleh dibiasakan sering jalan kaki, latihan lari, atau melakukan olah raga sesuai hobi. Bagi teman-teman yang memiliki keluhan penyakit, bisa disiapkan membawa obat sesuai kebutuhan. Pengalaman beli obat di apotek Mekkah Madinah harga lebih mahal. Oh ya, khusus bagi para muslimah, sebelum keberangkatan sebaiknya cek ke dokter kandungan untuk konsultasi haid bulanan. Bila perlu, dokter akan meresepkan obat penunda haid yang harus diminum tepat waktu sebelum berangkat sampai umroh selesai. Rugi kan kalau sudah sampai sana tetapi tidak bisa ibadah maksimal?
7. Persiapan ilmu Akan lebih khusyu’ sholatnya, jika kita paham maknanya. Akan lebih maksimal ibadahnya, ketika kita tahu keutamaanya. Akan lebih baik sebelum berangkat umroh, kita tahu ilmunya. Akan lebih berkesan selama di sana kalau kita tahu tentang siroh nabawi. Semangatlah belajar tentang sejarah ka’bah dan silahkan mencari tahu keutamaan beribadah di tempat-tempat bersejarah lainnya. Juga pengetahuan tentang sholat di perjalanan, wudhu dengan air yang terbatas, dan macam-macam sholat sunnah. Di Mekkah dan Madinah sangat terbiasa melakukan sholat jenazah. Saat Ramadhan, imam juga sering melantunkan bacaan surat al Quran untuk sujud tilawah. Juga doa qunut yang panjang menjadi hal biasa. Tak kalah pentingnya, jagalah adab-adab selama perjalanan. Tidak sembarangan mengambil gambar atau video call di masjid karena bisa jadi tampak aurat yang bukan mahram. Jangan sungkan meminta pertolongan jika membutuhkan. Menurutku, persiapan ilmu menjadi porsi yang besar. Kita perlu mengetahui hal yang boleh dilakukan dan tidak selama di sana. Yang diharamkan, yang menjadikan batal, yang bisa diganti kemudian, perlu kita pahami sejak awal.
8. Persiapan mental Namanya ibadah, pasti ada ujiannya. Mari memperbanyak istighfar. Tetaplah bertawakkal hanya kepada Allah. Tetaplah menjaga hati dan lisan. Kalau ada ujian, disabari dan disyukuri. Tak pernah salah soal ujian kehidupan, bisa jadi kita salah menjawab persoalan tersebut. Bertaubatlah memohon ampunanNya. InsyaAllah banyak hikmah setelahnya. Karena Allah selalu tahu yang terbaik bagi kita. Karena semua terjadi atas izin Allah.
9. Cus, segera daftar InsyaAllah, Allah akan memampukan siapa saja yang terpanggil hatinya. Karena di Al Quran, umat muslim sudah dipanggil oleh Allah. Ibadah haji dan umroh adalah sebuah kewajiban bagi yang mampu. Yuk, segera daftar! Syukur-syukur, mendapat hadiah diumrohkan orang lain. MasyaAllah, mari perbanyak doa kepada Allah. Yuk, tentukan waktu yang pas untuk melakukan perjalanan. Kalau bisa, kenali perubahan musim-musim di Arab Saudi. Alhamdulillah, dulu saat pergi ke sana masih di musim peralihan. Cuaca sejuk, tidak terlalu panas. Meskipun suhu siang hari di Mekkah saat itu pernah mencapai 53 oC, semua terasa nikmat adanya. Menambah semangat ibadah :)
Semoga dikuatkan langkahnya untuk menjadi tamu Allah.
Biidznillah, man jadda wa jada.