Selamat Hari Sumpah Pemuda 🇮🇩🐱

seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Argentina
seen from China
seen from Russia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Maldives
seen from United States
seen from United States
seen from France
seen from Ecuador
seen from Maldives
Selamat Hari Sumpah Pemuda 🇮🇩🐱
Refleksi Sumpah Pemuda dari Pengukir Sejarah
Ialah Pemuda harapan sebuah bangsa, pelanjut estafet kemajuan suatu negara, dan harapan seluruh masyarakat. Powernya yang mengkilau menyimpan banyak dukungan dari berbagai lini, meski tak sedikit yang berusaha meredupkan berbagai pergeraknnya. Semangatnya yang selalu menggelora tak pernah padam, kecintaanya pada agama dan negerinya adalah jawaban dari pertanyaan “kenapa kamu mau pusing, berlelah-lelah”?
Semua mengambil peran, dari yang memilih turun ke jalan, terjun ke masyarakat, membentuk komunitas pendidikan maupun sosial, menjadi penyeru kepada kebenaran, menciptakan karya-karya baru dibidang teknologi, menyampaikan ide di berbagai forum, hingga kembali ke daerah membangun desanya dll. Mereka adalah pemuda yang tak tingal diam namun memilih jalan berbeda untuk berkontribusi. Menuju sebuah cita-cita besar memang perlu strategi dan peran berbeda dari setiap manusia. Yang menjadi pertanyaan adalah “sudahkah saya menjadi salah satu bagian dari itu”. Selanjutnya kita kan menyelami kisah heroik dari para pemuda pengukir sejarah, sesuatu yang membuat kita mungkin malu karena belum bisa berbuat apa-apa.
Syaikh Musthafa Al-Ghayalini dalam Idzatu'n-Nasyi'in mengatakan, "Sesungguhnya di tanganmulah (kaum muda) persoalan umat dan dalam kebangkitanmulah kehidupan (masa depan) suatu bangsa."
Pada Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia, 27-28 Oktober 1928, 91 tahun silam yang lalu dalam pidatonya, Moh Yamin menyerukan pentingnya peran serta pemuda. Tokoh pergerakan pemuda ini berujar, "Di manakah tempatnya pemuda Indonesia di tengah-tengah kebangsaan dan persatuan Indonesia? Dengan pendek kita dapat menjawab, 'Tempatnya tiada sekali-kali di luar atau di pinggir daerah persatuan dan kebangsaan, melainkan di tengah-tengah persatuan kita, kalau tiada menjadi pusatnya.' Maka kunci dari semuanya adalah kolaborasi dalam karya.
Sebagaiman sebuah sumpah yang agung, maka cerminannya adalah para pengukir sejarah. Kita kembali memaknai sumpah pemuda dari yang sungguh memantik perhatian. Ketika sumpah pemuda yang menggagas sumpah nasionalisme, yang hanya terbatas pada tempat tertentu , maka dalam Islam, rasul telah menjelaskan bahwa ada sumpah yang sangat agung dibanding sumpah pemuda, yaitu bersumpah penghambaan hanya kepada Allah saja. Sebuah kalimat yang teguh, kalimat Tauhid, kalimat yang menjadikan orang-orang yang mencetak sejarah, pemuda-pemuda yang mengubah sejarah, pemuda-pemuda yang rabbani, mencetak pemuda harapan dunia.
Aqidah mempersatukan hati-hati orang mukmin,jika kita lihat proses tarbiyah Rasulullah bagaimana ketika beliau mempersiapkan para pemuda dengan aqidah yang benar, karena memang generasi mereka yang akan memegang tampuk kepemimpinan kedepan. Lihat saja bagaimana pada usia 8 Tahun Ali bin Abi Thalib sudah mengikuti proses tasfhiyah(pemurnian aqidah), dan tarbiyah (pendidikan). Suatu saat menjadi khalifah besar. Arqaam bin Abil Arqam pada umur 12 tahun, Abdurrahman bin Auf , Usamah Bin Zaid yang baru berumur 19 tahun diamanahkan memimpin perang melwan Romawi, Mu’adz bin “Afra” dan Mu’adz bin Amru bin Al Jamuh yang membunuh pemimpin kafirin Abu Jahal pada perang Badar, atau Ibnu Umar yang meminta dimasukkah pada pasukan perang padahal umurnya baru 13 tahun
Itulah potret generasi pemuda yang disatukan oleh aqidah, berlanjut pada zaman setelahnya, Umar bin Abdul Aziz yang menjadi khalifah saat umur 37 tahun, dan diyakini sebagai khalifah rasyidah. Imam Syafii yang pada umur 11 tahun sudah mengajar dan dimintai fatwa, Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani yang saat muda menghafal kitab-kitab dan dipercaya menjadi qadhi saat usia muda. Dan menorehkan penanya dalam kitab sangat berharga yaitu Fathul Baari. Generasi terus berlanjut, Muhammad Al Fatih yang saat itu berumur 21 tahun dikisahkan membebaskan konstantinopel ,meruntuhkan imperium romawi timur,seperti yang dijanjikan rasulullah
Dan orang-orang tersebut telah dicatat sejarah, dengan sumpah yang paling agung, melebihi sumpah apapun. Pemuda-pemuda yang namanya mendunia, pemuda-pemuda yang berkarya dan karyannya dapat dirasakan sampai sekarang. Sebuah ikatan yang dibangun datas dasar aqidah, melebihi kepada ikatan kerabat, keluarga, bangsa, dan juga Negara.
Sumpah Pemuda, mengajak kita berpikir, bahwa pentingnya peran pemuda, mengingat bahwa ternyata ada sumpah yang jauh lebih agung, tidak hanya terbatas pada suku, bangsa,dan wilayah tetapi sumpah kepada sebuah kebenaran. Melihat generasi-generasi lalu, agaknya kita dapat mengambil pelajaran, bahwa peran pemuda sangatlah penting. Sampai-sampai nanti Allah akan mempertanyakan usia muda kita dihabiskan untuk apa?
Rasanya kita harus merenungkan perkataan dari imam Hasan Al-Banna: “wahai pemuda perbaruhilah iman, kemudian tentukan sasaran dan tujuan langkah kalian. Sesungguhnya kekuatan pertama adalah iman, buah dari iman adalah kesatuan, dan konsekuensi logis dari kesatuan adalah kemenangan yang gemilang. Oleh karenanya berimanlah kalian, eratkanlah ukhuwah, sadarilah, dan kemudian tunggulah datangnya kemenangan.
Yogyakarta, October 28 th 2019
Tak usah merasa bangga jika kau mampu membahagiakannya dengan bermacam cara yang mengaduk rasa. Egois, bukan? Ketika kau tanpa sadar, kehilangan duniamu sebelum kehadirannya karena enggan membahagiakan kedua orang tuamu terlebih dahulu.
Pemuda, tak usah kau menyertakan janji-janji pada perempuanmu lewat kata-kata. Yang kau ramu sudah terlampau jemu - jika tak satupun kaurealisasi.
Realitas “Zaman Now”
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Terlontaar pada tahun 1928
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu kemudian saling menikam menggunakan lidah dunia maya.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bangsanya satu kemudian lebih menggilai bangsa lain.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia kemudian hanya sebatas dibangku pendidikan saja.
Realitas “Zaman Now”
Ah sudahlah, saya pemuda yang mungkin hidup di zaman yang bernafas pun salah.
Kejam.
31 Oktober 2017, ditulis untuk meramaikan writing project REKBER (Retrospeksi Akhir Oktober)
cc : @kitajabodetabek
Putra dan Putri Bangsa. Selamat berjuang dengan apa yang selama ini sudah menjadi tujuan. Sudah saatnya rasa yang selama ini terpendam untuk segera di ungkapkan. Sudah bukan saatnya memendam cinta dalam diam. Bukan saatnya menyembunyikan cinta pada tunduk kepala. Selamat berjuang dan memerdekakan cinta yang selama ini kau sembunyikan.
@kitajateng
Luka Kita
Kids Zaman Now, katanya.
Prestasi atau sensasi? Harga diri atau harga mati?
Ah, lebih banyak sensasi hari ini Prestasi ada malah tak peduli. Hidupnya sensasi Prestasi ada; pengikut yang dibeli. Pemuda bersumpah! Pemudi bersumpah! Banyak sumpah yang habis, Hanya jadi lalapan sehari-hari ; Indonesia, sedih.
Hari ini, Bolehlah kita berprestasi untuk negri
Jangan buat bangsa sedih.
@kitajabodetabek
Semoga Pemuda
Pemuda bukan saja tentang belia, melainkan berkelakuan dengan rasa.
Pemuda bukan saja tentang semangat yang menggebu, juga sopan dalam berperilaku.
Pemuda bukan saja dia yang menggampai mimpi, juga dia yang berani bermimpi.
Pemuda adalah kita yang bertanggung jawab pada semua yang telah diperbuat. Semoga.
Cc @kitajabodetabek
Sumpahnya perihal mengabdi, nyatanya saling mengkhinati
Sumpahnya tinggi jiwa mencintai, nyatanya saling membenci
Sumpahnya saling melindungi, nyatanya kejam membully
Lalu apa kabar dengan diri? Sudahkah bertoleransi? Yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Rupanya telah terjadi anomali. Tetapi menyatakan punya harga diri dan hati. Lantas buat apa berkata mengabdi, mencintai dan melindungi bila akhirnya diingkari. Mari saling memperbaiki, dimulai hari ini. Kini saatnya menyatukan persamaan, melupakan perbedaan itulah pemuda-pemudi masa kini. Jaya Indonesiaku!
31 Oktober 2017
@kitajabodetabek