Kota Mojokerto terkenal akan sejarahnya, terutama yang berkaitan dengan Kerajaan Majapahit.
Tari Mayang Rontek merupakan salah satu tarian tradisional khas Kabupaten Mojokerto yang kental akan nuansa Majapahit. Tarian ini mulanya terinspirasi dari prosesi pernikahan Mojoputri (prosesi pernikahan adat khas Mojokerto).
Pada era 1990-an, Bupati Mojokerto, Machmoed Zain melihat keunikan dari prosesi pernikahan Mojoputri, kemudian beliau mengutus salah seorang seniman bernama Setu untuk menghadirkan tarian untuk melengkapi prosesi adat tersebut. Sejak saat itulah, seniman Setu mulai mengerjakan dan merekonstruksinya, kemudian terciptalah Tari Mayang Rontek.
Tari Mayang Rontek memiliki makna filosofi yang unik. Kata "Mayang" memiliki arti Bunga, Sedangkan "Rontek" sendiri merupakan hiasan rumbai-rumbai yang ada di atas tombak. Sehingga jika disimpulkan, Mayang Rontek berarti sebuah kembang (bunga) yang merumbai-rumbai yang kemudian menjadi salah satu persembahan dalam prosesi pernikahan.
Tari khas Mojokerto ini digambarkan seperti Kerajaan Majapahit ketika baru mengenal Islam. Hal tersebut diperkuat dengan digunakannya rebana sebagai alat musik pengiring tari Mayang Rontek. Serta busana penari berupa kebaya berwarna kuning oranye yang tertutup juga memperkuat pernyataan bahwa kala itu Islam baru diperkenalkan di tanah Majapahit.
Tiap ayunan gerakan memiliki makna terselubung. Salah satunya yaitu mengenai kehidupan yang harus memilih dan menerima dua sisi yang berlawanan. Dengan disimbolkannya Songgo Nompo yang memiliki arti menyangga dan menerima setiap kehendak yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Tarian ini biasanya ditampilkan oleh remaja perempuan sebagai simbol manten (pengantin wanita) secara individu atau juga berkelompok dengan jumlah 5-9 orang.
Masih banyak budaya dan tradisi khas Indonesia yang belum tampil dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tugas kita adalah terus melestarikan tradisi budaya yang ada agar hal tersebut tak menjadi cerita dongeng semata.
















