Wahai Bos, Jangan Seenaknya..
Aduh bos.. gajimu paling besar se-kantor dan fasilitasmu terlayak dibanding kami semua. Kekuasaanmu mencakup segala aspek termasuk keuangan keluarga-keluarga anak buahmu. Tapi itu berlaku saat jam kerja (yang pada umumnya 7Pagi - 5Sore), selepas itu kau cuma manusia biasa. Buktinya kau menelpon saudara yang jauh, mengomentari status teman lama, bercanda dengan anak, menanyakan aktivitas istri dan banyak lagi hal yang kau lakukan sama seperti kami. NAMUN ketika kau mendengar/melihat tentang kami, kau tiba-tiba ingat bahwa kau “pemilik” kami? TIDAK SEPERTI ITU. Setiap perbincangan kau dominasi, kau bengkokan obrolan tentang sesuatu yang asik menjadi taik. kami bertawa, kami berbahak. awalan ber- itu bermakna tidak spontan, bukan sesuatu yang muncul dari naluri. Itu hanya karena kami “segan” dengan leluconmu. haha ku dan haha nya hanya sekedar haha, bukan hahahahaha (saya tertawa saat mengetik ini). Memang saat ini derajatmu lebih tinggi dari kami tapi entah di lain masa. Akankah kau segera menyadari perilaku-buruk-mu itu? Sebelum Tuhan menunjukan kekuasaanNya dan waktu membuktikan ketepatannya, segeralah beranjak dari fana yang meliputi mata, pikiran dan hatimu, itupun bila pasal “hati” masih berlaku dalam undang-undang hidupmu.













