Cumi Besi di Dasar Laut : Tulisan tentang Instalasi Teguh Ostenrik
(Mas Teguh berpose)
(diangkat beramai-ramai dari darat ke tepi laut)
(penyelam master merangkai instalasi di dasar laut)
(begitu jadi, penyelam mengikat koral di instalasi)
(ternyata susah motret di dalam laut, hehe)
Perupa Teguh Ostenrik memasang instalasi Domus Sepiae lima meter di bawah permukaan laut. Proyek seni yang berkembang jadi upaya restorasi terumbu karang.
Lombok. Mei, 2014 - Di tengah laut, sekitar seratus meter dari bibir Pantai Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat, perupa Teguh Ostenrik terengah-engah mengatur nafas. Selang pernafasan yang terhubung dengan tabung udara di punggungnya ia lepas. Mengenakan pakaian alat selam lengkap, Teguh terapung, tubuhnya terombang-ambing oleh gelombang. Ia sedang rehat sejenak usai mengawal pemindahan karya instalasi Domus Sepiae dari darat ke tengah laut.
“Tidak semua orang bisa mengangkat beban seberat itu di dalam laut. Hanya penyelam master yang bisa,” kata Teguh, Jumat 23 Mei 2014.
Setelah nafasnya terkendali, Teguh menggigit kembali selang pernafasan dan memasang masker selam. Dengan bantuan kaki katak, Teguh berenang menyusul delapan penyelam “master” yang sedang sibuk di dasar laut. Tergopoh-gopoh para penyelam bule dari LSM Gili Eco Trust itu menyeret instalasi yang dibikin Teguh di Lombok selama 1,5 bulan. “Dalam Bahasa Indonesia Domus Sepiae artinya rumah cumi-cumi,” ujar Teguh.
Domus Sepiae adalah instalasi sebesar 6x10 meter, terbuat dari ratusan potongan besi rongsokan. Bagian atas instalasi terbuat dari lempengan besi berkarat setebal 2 centimeter yang dibolong-bolongi. Bagian kaki terbuat dari besi sebesar jari kelingking dengan panjang 85-190 centimeter. Jika ditotal berat instalasi itu mencapai 3,2 ton.
Setelah besi-besi itu dirangkai, bentuknya jadi seperti ubur-ubur raksasa. Saking besarnya Domus, Teguh memotong karya setinggi dua meter itu jadi 16 bagian. “Harus dibagi-bagi agar bisa dibawa ke laut,” ujar seniman 64 tahun itu. Domus ditempatkan di dalam laut agar menjadi terumbu karang.
Proyek instalasi di dasar laut ini tercetus ketika Teguh sedang menjalani residensi seniman di hotel Qunci Villas, Senggigi. Hotel itu mengundang seniman untuk menetap selama beberapa pekan untuk mengerjakan karya. Nantinya karya itu digunakan sebagai penghias villa. Teguh tak setuju jika karyanya hanya berujung jadi pemanis di lorong-lorong villa. “Benda seni itu berbeda dengan dekorator,” ujarnya.
Berangkat dari keprihatinan atas rusaknya terumbu karang di Lombok, Teguh mengusulkan agar instalasinya yang berbahan besi dibenamkan di laut. Teguh, yang sejak lama hobi menyelam, berharap Lambat laun karya itu akan bersalin rupa menjadi terumbu karang, rumah bagi segala hewan di laut. Ide itu disampaikan pada pemangku kepentingan di Senggigi. “Tahun 1984 saya ke Lombok, koralnya sangat bagus. Sekarang sudah rusak,” katanya.
Gayung bersambut. Lombok Hotel Association (LHA) bersedia merealisasikan dan mendanai proyek. LSM Gili Eco Trust bergabung untuk memadukan instalasi Teguh dengan teknologi Biorock. Perusahaan Contained Energy turun tangan menyumbang panel tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan listrik Biorock. Yang semula proyek seni semata berkembang menjadi proyek restorasi terumbu karang. “Kami berharap proyek ini memancing hotel-hotel lain berbuat serupa sehingga di dasar laut Pantai Senggigi penuh benda seni,” kata Chairman LHA Stephane Servin.
Sejak Februari lalu, dimulailah pembuatan instalasi di dasar laut ini. Teguh terus berkonsultasi dengan koordinator Gili Eco Trust Delphine Robbe selama proses pembuatan karya. Tujuannya, agar karya Teguh sesuai dengan spesifikasi teknologi Biorock. Delphine memberikan daftar hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Dari batasan-batasan itu Teguh mengembangkan ide. “Biasanya seniman mutung kalau diatur-atur. Saya justru berangkat dari batasan-batasan yang diberikan Delphine,” kata Teguh. “Mengembangkan ide dalam batasan-batasan itu malah menantang,” katanya.
Biorock mesti dibuat menggunakan besi-besi kurus. Hal Ini cocok dengan Teguh karena ia sering membuat karya berbahan metal. Karya-karyanya seperti Seribu Wajah, Tercium Kehadiranmu, dan Wanna Kiss You terbuat dari metal ratusan kilogram. Teknik-teknik mengelas, membengkokkan, dan menyambung besi ia pelajari ketika sekolah seni di Fine Art, Lette Schule dan Hochschule der Künste, di Jerman Barat, 1970-an awal. “Di sekolah seni Jerman, murid-murid mempelajari semua hal,” kata Teguh.
Pendidikan seni di Jerman lah yang membentuk Teguh sebagai seniman. Seniman didikan Jerman, kata Teguh, ciri-cirinya betah berlama-lama mematangkan konsep dan perencanaan. “80 persen waktu habis untuk dua hal itu,” ujarnya. Inilah yang tercerim dalam instalasi Domus Sepiae. Memindahkan karya 3,2 ton dari darat ke laut jelas butuh perencanaan. Teguh memotong karya menjadi 16 modul. Di setiap modul, ada 3-4 sendi. Sendi-sendi itu disambung dengan sekrup di dalam laut. Teguh bahkan menyediakan panduan Sudah menyambung sendi agar penyelam tidak kesusahan di dalam laut. “Karya seperti ini mustahil bisa jadi tanpa perencanaan matang,” katanya.
Pendidikan Jerman pula, kata Teguh, yang membuatnya tak keberatan diatur-atur oleh Delphine yang paham teknologi Biorock. Biorock adalah teknologi yang ditemukan peneliti maritim Wolf Hilbertz pada 1974. Teknologi ini bisa mempercepat pertumbuhan terumbu karang 3-5 kali dari waktu normal dengan memanfaatkan besi yang dialiri listrik tegangan rendah.
Dalam hal ini, instalasi Domus berperan sebagai konduktor katoda dan listrik yang mengalir sebagai anoda. Listrik di besi instalasi itu akan memecah kandungan air laut menjadi hidrogen dan oksigen semata. Hasilnya, di permukaan struktur besi akan terbentuk kerang solid yang tersusun dari kalsium karbonat dan magnesium hidroksida.
Setelah dipasang di dasar laut, penyelam akan mengikat koral-koral di sekujur instalasi. Koral amat membutuhkan kalsium dan magnesium untuk tumbuh. Biasanya koral mencari kalsium dan magnesium dari air laut, namun kini tersedia di rangka besi Domus. Pasokan kalsium dan magnesium yang mudah dan melimpah dari rangka besi itulah yang mempercepat pertumbuhan terumbu karang.
Proyek pembuatan Biorock sudah banyak dilakukan di laut Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali. Gili Eco Trust juga membuatnya di laut-laut Lombok bagian barat. “Semua proyek berhasil. Terumbu karang tumbuh lebih cepat,” kata Delphine. Delphine dan Teguh memilih pantai Senggigi sebagai lokasi penempatan instalasi karena karang di sana rusak berat.
Butuh waktu 18 jam kerja memindahkan Domus Sepiae dari darat ke laut. Selama dua hari, puluhan relawan turun tangan mengangkat bagian demi bagian. Perlu 20 orang untuk mengangkat satu bagian dari pinggir jalan ke bibir pantai. Di bibir pantai, delapan penyelam siap mengangkat potongan karya, membawanya beramai-ramai 100 meter ke tengah laut. Mereka harus bulak-balik 16 kali karena tak bisa membawa sekaligus dua. “Yang paling sulit adalah mengangkat besi-besi itu. Berat sekali,” kata Delphine.
Setelah semua modul terparkir di tengah laut, para penyelam bekerja merangkai potongan sehingga menjadi satu. Setiap sendi disekrup. Seterusnya koral-koral mati diikat di sekujur instalasi. Semua dilakukan di dalam air. Akhirnya, setelah matahari sempat terbenam kemudian terbit kembali, pada Sabtu 24 Mei siang, Domus Sepiae berhasil dipasang, lima meter di bawah permukaan laut.
Ananda Badudu
Versi edit dimuat di majalah Tempo edisi Mei 2014, lupa persisnya tanggal berapa.








