(Oleg Tambulilingan, 2012. diambil dari penangmonthly.com)
(bedaya ibu pertiwi, 2012. Diambil dari fimela.com)
(Srihadi Soedarsono. Diambil dari fimela.com)
Mei, 2014 - Jalan hidup Srihadi Soedarsono teramat panjang. Dialah seniman yang hidup melalui empat zaman. Pada usia remaja ia ikut angkat senjata melawan penjajah. Ia bahkan ditangkap dan dipenjarakan karena ketahuan membawa granat oleh tentara Belanda. Di era Orde Lama, Srihadi masuk dalam daftar target operasi PKI sebagai orang yang harus dihabisi karena pernah studi di Amerika Serikat.
Pada masa Orde Baru, lukisan kritik sosialnya membuat geram mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Sampai-sampai Ali mencoret-coret lukisan Srihadi yang telah terpajang di ruang pameran. Di era reformasi, tema lukisannya berkembang menjadi meditatif dan spiritual. Pada usia senja ia masih aktif melukis di kanvas-kanvas raksasa. Ingatannya tajam, badannya bugar, jauh dari kesan renta. Bahkan masih bisa berlutut tanpa kesulitan apapun. Tempo merangkum hidup seniman yang sudah membuat ratusan karya ini.
Belasan kanvas ukuran raksasa ditata di teras studio lukis Srihadi Soedarsono yang beratapkan langit. Studio itu terletak di bagian belakang rumah Srihadi di bilangan Ciumbuleuit, kecamatan Cidadap, Bandung. Rumah yang dibangun pada 1973 itu didesain sendiri. Rindang oleh pepohonan, asri oleh rerumputan, berhias kolam ikan, sangkar burung, terbuka menyatu dengan alam.
Senin 12 Mei 2014 siang, ada lima kanvas ditata di sepanjang studio lukisnya yang berbentuk persegi itu. Kanvas paling kecil berukuran 2x2 meter. Paling besar 3x2 meter. Di atas kanvas itu tergambar sketsa penari-penari bedaya. Warna latarnya beragam, ada yang kuning, merah, dan putih. “Lukisan-lukisan ini belum selesai,” katanya. “Tapi harus segera selesai karena akhir Mei nanti ada jadwal pameran tunggal di Singapura.”
Srihadi memang terbiasa melukis banyak kanvas dalam sekali waktu. Baginya melukis tak ubahnya suatu meditasi spiritual. Oleh sebab itu butuh waktu panjang bagi dia untuk menyelesaikan sebuah lukisan. “Ada yang selesai dalam dua bulan, ada juga yang sampai enam bulan,” katanya.
Biasanya, pelukis yang sudah uzhur beralih berkarya di kanvas besar karena tak bisa lagi meladeni detail yang dituntut kanvas kecil. Namun hal itu tak berlaku bagi Srihadi. Ia masih menggunakan kuas kecil untuk detail figur penari bedaya. Sebuah tanda bahwa fisiknya masih tangkas dan kuat. Bahkan jika mood-nya sedang bagus, ia bisa melukis dari pagi hingga malam.
“Kalau sudah melukis, makan pun lupa,” kata Sitti Farida, 71 tahun, istri Srihadi yang juga menggeluti dunia seni. Srihadi dikaruniai dua putri bernama Tara Farina dan Rati Farini; satu putra bernama Tri Krisnamurti Syailendra; dan empat orang cucu.
Merangkum cerita hidup Srihadi bukan perkara mudah. Hidup pria yang lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 4 Desember 1931 ini kaya akan cerita menarik. Terlebih, ia masih ingat dengan rinci pengalaman-pengalaman yang pernah ia lalui. Jarang ia mengucap kata lupa ketika diwawancara. Istrinya, Farida, seorang sejarawan seni rupa, menemani di sisi Srihadi sepanjang wawancara. Berikut ringkasan cerita hidup Srihadi yang dituturkan kepada wartawan Tempo Dian Yuliastuti, Ananda Badudu, dan Fotografer Seto Wardhana saat bertandang ke rumahnya, Senin, 12 Mei 2014:
Saya lahir di Solo, di lingkungan keluarga yang terpelajar dan berlimpah harta. Kakek saya, Nojotjoerigo, adalah mantan penasehat Pakubuwono IX. Ia memilih keluar dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan merintis industri batik tulis. Batik bikinan Kakek adalah batik tinggi yang dihargai layaknya karya seni, dijual sampai ke luar negeri. Kakek punya banyak cucu. Tapi hanya saya cucu kesayangannya. Ke manapun dia pergi saya selalu dibawa-bawa.
Kakek berperan besar memperkenalkan saya dengan dunia seni. Saya terbiasa mendengar para penulis batik nembang lagu-lagu Jawa. Keluar rumah, saya tumbuh di lingkungan keraton dan terbiasa melihat penari-penari berlatih. Apapun yang saya minta, Kakek selalu penuhi. Pernah saya dibelikan seperangkat potlot dan cat air untuk menggambar. Saya juga dibelikan koleksi wayang yang banyak sekali. Kakek memperkenalkan saya dengan cerita-cerita wayang. Cerita Baratayuda dan Mahabarata sudah saya ketahui sejak kecil.
Sewaktu kecil, selalu ada pegawai Kakek yang meladeni dan menjaga saya. Mau minta apapun pasti dipenuhi. Jika ingin buku, akan disediakan mobil untuk mengantar ke toko buku. Padahal pada masa itu toko buku jauh, harus ke Semarang atau Surabaya. Nama toko bukunya Van Dorp. Kalau bukan dengan mobil, saya berjalan mengendarai kereta. Pada waktu itu mobil masih jarang, tapi keluarga kami punya mobil Ford.
Kakek wafat pada 1937 di Arab saat hendak naik Haji. Usia saya saat itu enam tahun. Walaupun pengalaman dengan Kakek singkat, tapi sangat membekas. Oleh Eyang Putri saya juga suka diajak ikut Tirakatan ke Gunung Kawi atau tempat-tempat lain. Pengalaman-pengalaman ini sangat membekas dan menempel di ingatan. Oleh sebab itu saya tak membutuhkan model ketika melukis tema-tema bedaya. Semua sudah terekam di kepala, tinggal gunakan imajinasi saja.
Penulis buku Srihadi dan Seni Rupa Indonesia (2012), Jim Supangkat, mengatakan Srihadi dibesarkan di kalangan priyayi Jawa, masyarakat terpelajar yang dikenal sebagi de mardijkers. De mardijkers adalah kelompok yang muncul pada Abad ke-19, mereka bukan pejabat dan bukan pegawai negeri, namun dihargai pemerintah kolonial karena umumnya terpelajar, cukup kaya, dan berbudaya.
Pada 1942 Srihadi menamatkan sekolah Hollands Indische School (HIS) dan melanjutkan studi Tsu Gakko, sekolah menengah pada masa pendudukan Jepang. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, ia pindah ke SMPN Solo. Di sana ia bersekolah sambil bertempur sebab Belanda kembali menjajah Indonesia. “Saya juga ikut menyelundupkan senjata, granat, dan dinamit,” kata Srihadi.
Pada masa perjuangan kemerdekaan inilah, di usia remaja, Srihadi bertemu dan bergaul akrab dengan pelukis-pelukis senior seperti Sudjojono, Salim, Affandi, Hendra Gunawan, Nashar, dan Oesman Effendi. “Masa itu adalah masa belajar melukis secara otodidak,” katanya. Sempat dipenjara karena ketahuan menyelundupkan granat di kantung celana, Srihadi mengalami masa disiksa tentara Belanda. Kemampuan Srihadi menggambar “menjerumuskannya” dalam peperangan. Di kemudian hari hal itu pula yang membuat ia terhindar dari maut.
Pada akhir masa pendudukan Jepang, saya bergabung dengan Tentara Pelajar (TP). Setelah Jepang menyerah, TP menjadi angkatan bersenjata. Salah satu tugasnya saat itu merebut senjata untuk gerilyawan. Saya ikut menyerbu gudang senjata Jepang di pabrik gula Colomadu. Pada 1946 Saya ditarik bagian Penerangan Tentara untuk membuat poster-poster propaganda. Tentara mencari orang yang bisa gambar. Di sana saya membuat puluhan poster propaganda.
Di tahun yang sama, keadaan Jakarta kacau sehingga ibukota dipindahkan ke Yogyakarta. Saat itu seniman-seniman senior yang tinggal di Jakarta berpencar mengungsi, ada yang ke Yogyakarta, ada yang ke Solo. Seniman yang mengungsi di Solo disediakan asrama di gedung teater Solo. Termasuk Sudjojono tinggal di asrama itu. Ada juga Ramli, Abdul Salam, dan seniman lainnya. Tempat tinggal saya ada di belakang gedung teater itu. Kawan saya sesama pelukis, Soerono, memperkenalkan saya pada pelukis-pelukis senior itu. Soerono yang lebih senior dari saya adalah teman keluarga yang pernah tinggal di Solo. Sejak dikenalkan, saya jadi ikut kegiatan mereka. Setiap hari kami berkarya bersama, saling mengomentari dan mendiskusikan karya. Setelah berkarya selalu ada sesi diskusi. Sebelum berdiskusi, biasanya Om Djon –panggilan Sudjojono- memberikan ceramah. Saya juga bergabung dengan asosiasi Seniman Indonesia Muda (SIM) yang dibentuk Om Djon. Saya menjadi anggota paling muda.
Pada 1947, Om Djon diangkat menjadi Ketua Bagian Kesenian Sekretariat Menteri Negara Urusan Pemuda oleh pemerintah. Oleh sebab itu harus pindah ke Yogyakarta, tempat pemerintahan berada. Atas kemauan sendiri saya ikut rombongan ke Yogyakarta. Fasilitas berkarya di sana lebih bagus. Kami berkantor di Taman Siswa, sekolahnya Ki Hadjar Dewantara. Sekolah itu adalah rumah Ki Hadjar. Pada siang hari, kami bekerja membuat poster propaganda untuk kepentingan perjuangan, malam hari bebas berkarya.
Sesekali Ki Hadjar suka datang melihat-lihat karya. Kadang-kadang ikut memberi komentar. Setahun kemudian Belanda menyerang Yogyakarta. Seniman-seniman kembali berpencar. Saya kembali ke Solo, jalan kaki dua hari satu malam. Tidak bisa menggunakan kendaraan karena jalanan ditebar batu dan rintangan oleh gerilyawan.
Di Solo saya ditugaskan menyelundupkan senjata ke daerah perbatasan untuk digunakan oleh gerilyawan. Pada saat itu keadaan di dalam kota cukup aman. Peperangan terjadi di luar kota. Saya biasa naik beca sambil bawa dinamit yang ditaruh di kolong kaki. Juga membawa granat dan diberikan pada gerilyawan yang sudah menunggu di perbatasan. Tidak ada yang mencurigai karena saat itu saya masih kecil.
Saya pernah mencoba membom tentara Belanda dengan dinamit. Saban pekan ada jadwal rekreasi tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) nonton film di Bioskop Sriwedari. Siang hari, saat tentara Belanda belum datang, saya menyusup membawa kopor kulit berisi dinamit. Kopor itu saya taruh di bawah proyektor.
Saat tentara KNIL berdatangan, saya nyalakan sumbu dinamit. Setelah sumbu menyala, saya keluar dari bioskop, menghamipiri teman yang menunggu di luar membawa sepeda. Sambil menunggu dinamit meledak, kami bersepeda mengelilingi bioskop. Sudah ditunggu lebih lima menit kok tidak ada ledakan? Saya heran, seharusnya dalam lima menit dinamit meledak.
Setelah sekian lama menanti, saya masuk kembali ke bioskop untuk mengambil kopor. Saya sendiri heran mengapa saat itu bisa terpikir untuk kembali masuk dan mengambil dinamit. Setelah diperiksa, ternyata sumbu dinamit mati terkena lelehan parafin. Itulah sebabnya dinamit tidak meledak. Tidak terbayang oleh saya jika dinamit itu benar-benar meledak. Bisa-bisa pemboman bioskop menyulut amarah Belanda dan memicu peperangan yang lebih besar, sebab yang di dalam bioskop itu adalah pejabat-pejabat tentara Belanda.
Sekitar Maret 1949, saya ditangkap tentara Belanda karena ketahuan membawa granat di kantung celana. Saya ingat waktu itu hari Minggu, subuh-subuh saya mengayuh sepeda ontel merk Gazelle menuju perbatasan. Di kantung kiri dan kanan ada granat tangan yang hendak dikasih ke gerilyawan. Saya pikir hari itu aman, karena hari Minggu, tentara Belanda seharusnya pergi ke Gereja. Tak tahunya di tengah jalan saya dicegat belasan tentara. Sepertinya mereka sudah mengincar saya. Mereka bersembunyi di balik pohon, ketika saya melintas, mereka keluar dan menyergap saya.
Saya dibawa ke pos terdekat. Di sana saya dipukuli dan ditendangi sampai dada dan leher saya menghitam terkena semir lars tentara Belanda. Saya disuruh jalan telanjang kaki dan dada ke pos lain sambil membawa granat. Ini cara Belanda menakut-nakuti warga agar tidak berbuat seperti saya. Teman-teman saya pasti berpikir bahwa Srihadi akan ditembak mati. Saya ditahan beberapa waktu dan sempat juga dijadikan tameng hidup. Saya disuruh ikut tentara Belanda yang patroli dengan Jeep, saya diminta duduk di depan, menjadi tameng buat mereka. Sepertinya saat itu saya tidak ditembak mati karena dianggap masih kecil.
Saya masih suka menggambar ketika berada di tahanan. Ada penjaga yang melihat dan meminta saya membuatkan sketsa wajahnya. Tak lama kemudian penjaga lain juga minta dibikinkan sketsa wajah. Tentara Belanda jadi senang dan saya tidak dipukuli lagi. Kendati menyeramkan, pengalaman itu tidak membuat saya trauma. Tidak ada perasaan takut ketika saya berada dalam tawanan Belanda. Setelah penyerahan kedaulatan Desember 1949, saya dibebaskan. Di kemudian hari saya diberi gelar Bintang Gerilya karena pernah dipenjara oleh Belanda. Kalau tidak dipenjara, tidak akan dapat gelar itu.
Pada 1952, Srihadi melanjutkan sekolah ke Balai Pendidikan Universiter untuk Guru Seni Rupa Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung. Ia lulus pada 1959, setahun kemudian lanjut menjadi pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Pada tahun yang sama Srihadi mendapat beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat, ia memilih studi di The Ohio State University di Colombus, Ohio.
Studi seni rupa di FTUI menandakan akhir masa pembelajaran otodidak Srihadi. Selanjutnya, melalui pelajaran di universitas, ia mulai bersentuhan dengan seni rupa modern. Pada masa ini, Srihadi, Profesor seni rupa yang membuat logo ITB itu mengeksplorasi beragam gaya lukisan, mulai dari kubisme hingga abstrak non-figuratif. Lukisan-lukisan yang dibuat pada masa ini antara lain Wanita-wanita (1957) dan Sindhu Sanur Bali (1955).
Namun Srihadi tetap tak bisa lepas dari realisme. Ia membuat belasan lukisan yang diangkat dari realitas sosial politik, seperti Air Mancar (1973), Anak-anak Irian dan Coca Cola (1974), dan Minyak di Irian Jaya (1974). Lukisannya realis yang mengandung kritik sosial.
Srihadi tak betah mengerjakan abstrak non-figuratif, oleh sebab itu lukisan-lukisan abstraknya tetap diberi judul dan tema. “Srihadi konsisten pada sikapnya yang tidak bisa meninggalkan realitas,” kata Jim Supangkat. Lukisan-lukisan Srihadi pada masa perjuangan kemerdekaan sering disebut sebagai lukisan periode propaganda. Setelah mengenyam pendidikan seni rupa, Srihadi mengalami periode kritik sosial, kubisme, dan abstrak.
Di Amerika saya mempelajari lukisan abstrak. Waktu itu semua mahasiswa seni rupa di sana mengembangkan abstrakisme. Walau tidak suka, saya tetap berikan yang terbaik. Setiap mata kuliah saya dapat nilai A. Cukup banyak saya melukis abstrak. Sampai-sampai setelah lulus sempat menggelar pameran tunggal bertajuk Srihadi yang diadakan di The Ohio State University Gallery dan Globe Theater.
Karena pameran itu lepas dari kepentingan akademik, saya memberi judul pada lukisan-lukisan abstrak saya. Biasanya di sekolah lukisan abstrak tidak ada judul, hanya komposisi I, II, III atau untitled I, II, III.Saya tidak suka dengan lukisan-lukisan abstrak. Malah sesampainya di Indonesia, lukisan-lukisan itu saya bakar.
Sekembalinya ke Bandung saya dan istri tinggal di kompleks dosen ITB, di Sangkuriang, Cisitu. Setelah Gerakan September Tiga Puluh, kami mengetahui saya dan istri sempat jadi target operasi PKI. Kami masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh, semata-mata karena kami pernah studi di Amerika. Hal itu diketahui setelah tentara menemukan alat-alat siksa dan daftar target operasi yang dikubur di sekeliling kompleks kami. Ada alat cungkil mata yang bentuknya seperti sendok es krim. Barang-barang itu sudah disiapkan. Sepertinya daftar itu dibuat oleh dosen ITB yang berhaluan komunis. Ketua RW kompleks kami.
Pada 1975, digelar pameran seni rupa di Paviliun DKI Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah. Lukisan saya yang berjudul Air Mancar membuat Gubernur Ali Sadikin marah. Saya melukis Jakarta penuh dengan reklame-reklame merk Jepang. Memang pada saat itu Jakarta penuh dengan reklame Jepang. Bahkan di atap hotel Indonesia ada reklame besar Hitachi.
Sebelum pameran dibuka, pada pagi hari Ali Sadikin menyempatkan diri melihat-lihat karya. Saya dapat laporan dari asisten Ali di bidang seni, Pak Tjiong (Wastu Pragantha –red), bahwa Pak Ali marah ketika melihat lukisan Air Mancar. Ia minta diambilkan spidol lalu Pak Ali mencoret-coret lukisan.
Menurut laporan Pak Tjiong, Pak Ali mencoret-coret dengan hati-hati. Dia menulis “Sontoloyo” kemudian mundur selangkah, memperhatikan lukisan, lalu menulis lagi “Bakero”, “Banzai”, lalu mundur lagi, setelah selesai ia memberi tanda tangan “Sadikin”. Gayanya yang maju-mundur itu sudah seperti pelukis beneran. Ali marah-marah karena pada malam harinya pameran itu akan diresmikan Presiden Soeharto dan ibu Tien. Ketika peristiwa itu terjadi, saya sedang berada di Taman Ismail Marzuki. Mendengar kejadian itu, saya tidak marah, malah ketawa-ketawa saja.
Selang beberapa hari, atas saran Ramadan KH dan Ajip Rosidi, Ali Sadikin meminta maaf. Ia mengundang saya makan di rumahnya di jalan Borobudur. Saya menghormati Pak Ali karena ia orangnya fair. Saat itu saya juga minta maaf kepada Pak Ali. Tidak ada pejabat yang punya sikap seperti itu. Biasanya pejabat walau salah sekalipun sulit untuk minta maaf.
Pak Ali bahkan meminta saya membuat lukisan raksasa untuk dipajang di ruang kerjanya, di lantai 23 gedung Balai Kota. Saya membuat lukisan 12x3 meter berjudul Jayakarta yang bercerita tentang perkembangan Jakarta sejak masa kolonial hingga Monas dibangun. Sekarang lukisan itu tak terawat.
Sejak ruang gubernur pindah, lukisan itu tak diperhatikan lagi. Ruangan di lantai 23 kini dipakai untuk acara pesta pegawai. Sebagian jadi rusak terkena panas saat pegawai bakar-bakar makanan. Pada masa kepemimpinan Fauzi Bowo sempat ada rencana untuk dipindah. Namun setelah lengser, rencana itu terkatung-katung. Untuk mengambil lukisannya saja saya kesulitan karena harus menempuh izin birokrasi yang berbelit.
Pada dekade 1990 dan 2000, Srihadi -yang punya rumah dan studio lukis di Jakarta, Bandung, dan Bali- fokus pada tema lukisan horison, bedaya, Bali, dan Borobudur. Ini adalah tema yang muncul terus-menerus sepanjang karir Srihadi. Ia melukis tema-tema itu tanpa butuh objek untuk diamati. “Semua sudah terekam di kepala. Tinggal gunakan imajinasi,” katanya. Lukisan-lukisannya di usia senja menunjukkan ekspresi emosi yang luar biasa. Ia menekankan pada renungan yang sifatnya meditatif dan spiritual.
Tema-tema itu tak lepas dari filsafat Jawa yang ia kenali sejak kecil. Melalui tema-tema itu Srihadi hendak mengingatkan manusia agar menjaga keselamatan hidup serta kehidupan di sekitar manusia. Menjaga keindahan dunia. Mengekspresikan budaya adiluhung. “Intinya adalah Memayu Hayuning Bawono,” ujarnya.
(Srihadi dan Farida Soeadarsono. Diambil dari Boyolalipos.com)
Ananda Badudu
Versi edit dimuat di Majalah Tempo, edisi 19 Mei 2014.