“Best friend forever.”
Katamu. Dulu.
Tiga tahun kemudian kamu bahkan enggan menyapa.
Karena aku masih setia dengan roda dua, dan sahabat barumu bisa membuat kamu tidak kehujanan?
… Ingat favorite kita waktu itu?
Es teh manis.
Dengan banyak es batu dan banyak gula.
Sekarang?
Yang kamu bayar puluhan ribu itu, sebenarnya es teh manis juga.
“Kamu suka dia?”
“Tidak.”
Sebenarnya aku suka. Tapi aku mengalah.
Menyenangkan melihat kamu datang ke rumahku dengan senyum lebar.
“Dia juga suka aku.”
Sebulan kemudian dia menghianatimu.
Dan aku memelukmu semalaman.
“Aku tidak butuh dia. Aku punya sahabat terbaik.”
Kamu suka mie kuah.
Aku suka nasi goreng.
Dan kita dengan polosnya sering mencampur keduanya.
Rasanya aneh.
Tapi tetap habis.
“Mie kuah goreng,” teriakmu. Lalu memesan lagi segelas es teh manis.
“Siapa yang berubah?” tanyamu.
Waktu itu hujan.
Kita terdampar di pinggir toko. Basah kuyup.
“Memang tidak boleh aku bergaul dengan yang lain?”
“Kenapa tidak menyapaku saat kita bertemu kemarin?”
Kamu membuang muka.
“Aku tidak melihatmu.”
Aku jelas didepan mata, dan berat badanku 60 kg. Bisa tidak terlihat?
Kamu mulai memakai make up. Dan kamu cantik.
“Ini lipstik mahal. Hampir 350 ribu. Dia kasih ke aku gratis.”
Aku mengangguk.
“Dia itu orangnya baik.”
Aku mengangguk lagi.
“Mau aku kenalkan?”
“Boleh.”
Tapi aku tidak pernah diperkenalkan hingga saat ini.
Yang aku tahu dia cantik. Berasal dari keluarga berada. Mobilnya berwarna merah. Dan dia sahabat baru dari seseorang yang dulu adalah sahabatku.
“Kamu selalu menolak aku ajak pergi.”
Karena kamu tidak lagi mengajakku ke warung tenda.
Lalu kamu mulai menjauh.
“Aku sibuk.”
Ya, pasti.
Sibuk dengan dunia baru yang asing bagiku.
Anggap aku tidak pernah tau cara berbaur, menyatu dengan sekitar.
Tapi aku tahu cara menenangkanmu saat kamu datang dengan mata sembab.
“Mereka bertengkar lagi.”
Segelas teh manis panas. Kukis coklat. Dan telinga yang setia mendengar.
Tapi kamu sudah tidak butuh itu, mungkin.
“Dia tidak merubah aku. Tapi aku suka dengan semua hal yang aku lakukan sekarang.”
Lalu kita bertengkar.
Kamu bilang kamu berhak memakai uang yang kamu punya dengan cara kamu sendiri.
Aku memilih diam.
Melirik segelas teh manis panas yang mulai dingin, yang tidak juga kamu sentuh hingga kamu pamit pulang.
“Sampai besok,” katamu.
Besoknya kita bertemu. Tapi kamu membuang muka.
—
“Sebenarnya kalian ada masalah apa? Sudah hampir enam bulan,” tanya seorang teman.
Aku menatapnya seolah tidak mengerti.
Dia menghela nafas.
“Ya sudahlah. Urusan kalian.”
Nopember.
Dua minggu lagi kamu ulang tahunkan?
Aku ingat buku dengan sampul bunga yang aku serahkan tahun lalu. Yang kamu sukai. Dulu.
xxx @xxx_xxx
xxxx lipstik. $45. Mau.
Ck. Itu kode?
Aku tertawa kecil.
Lalu aku mendengar tawa khasmu.
Dan kamu ada disana.
Bersama sahabat barumu.
Dan teman - temannya yang pasti akan jadi temanmu juga.
Es batu di teh manisku sudah menghilang.
Lenyap seperti seorang sahabat yang kini sudah jadi sahabat orang lain.
Aku beranjak dari situ.
Melirikmu untuk setelahnya tidak lagi menoleh ke belakang.
Kamu akan dapatkan lipstiknya. Bukan dariku.
Karena yang akan aku kirimkan hanyalah doa sederhana.
Semoga kamu bahagia selalu.
Ya, berbahagilah.
Untukku.
Mala Tajna
Sukabumi,01 Nov 2016