[8/30]
Terdapat dua orang yang awalnya saling berbagi tanpa membahas timbal balik kebaikan atau keburukan yang telah dilakukan masing-masing. Mereka berada di kamar no.12 ujung dekat tangga yang dimana sedang diuji akan kesetiaannya, yaitu setiap harinya diisi kesalah pahaman.
Mereka adalah temanku. Bukan tanpa sebab pertikaian itu terjadi dan selalu berakhir tangis, tekanan batin, saling diam hingga sindir menyindir. Berharap hanya sementara, tetapi keadaan berkata tidak. Alasan yang terdengar sepele menjadi sangat besar sepertinya sulit untuk merujuk kembali seperti dulu.
Rasa ego diantara mereka sungguh besar ditambah sifat yang bertolak belakang memicu pertikaian yang tak ada ujungnya. Bukankah makna pertemanan itu salah duanya saling melengkapi dan mengisi? Atau hanya sebatas tulisan tanpa makna? Aku tak mengerti...
Beberapa pihak ketiga sebagai penetral turut serta. Berusaha untuk mendamaikan, tapi semua hanyalah sia-sia. Mereka tetap bungkam dan tak mau lagi menatap. Untuk saling memaafkan pun hanya angan. Turut sedih melihatnya, bagaimana tidak 24/7 ku bersama mereka dalam satu atap.
Pada akhirnya tercetus lah "Mantan Teman" kasarnya "Dia bukan lagi teman gue". Sakit tapi tak berdarah, ya seperti itulah saat ku mendengarnya. Semudah itu mengucapkannya yang menurutku arti sebuah pertemanan itu cukup berharga.
Memang menjalin pertemanan itu tidak semulus wajah oppa korea, akan ada rintangan didalamnya, tetapi jika kita paham tentang "saling" pada makna pertemanan semua akan baik-baik saja. Karena pertemanan itu bukan berarti tanpa perbedaan.
Pertemanan adalah bagian dari perjalanan hidup, untuk menghadapi dunia yang cukup keras perlulah saling bahu membahu. Sebab dengan pertemanan pula silaturahim terus terjaga dan menjadi sumber kebahagiaan didalamnya.
Jagalah hubungan pertemanan kalian, seperti menjaga mutiara dalam kerang di dasar laut. 😊










