Kuil Wakaura Tenmangu (Wakayamashi)
Kali ini aku akan sedikit bercerita tentang salah satu kuil yang ada di kota tempat tinggalku, yaitu Wakayamashi.
Terletak di sebelah selatan kota Wakayama, tempat ini dinamakan Wakaura. Ada dua kuil yang terkenal di Wakaura, yaitu kuil Toshogu dan kuil Tenmangu.
Kuil Tenmangu adalah kuil yang terkenal di kalangan pelajar, karena kuil itu menyembah dewa pengetahuan. Mau tahu bagaimana ceritanya?
Sebelum itu, kita lihat dulu foto-fotonya ya!
Keren bukan?
Namun teman-teman kalau mau ke sini harus super duper hati-hati, karena tangga yang kita naiki nanti cukup curam dan berbatu. Meskipun begitu ada jalanan menanjak yang cukup aman, sebagai alternatif hehehe~
Pemandangannya indah sekali, ya?
Nah, orang ini adalah dewa pengetahuan yang aku ceritakan tadi. Orang ini bernama Sugawara no Michizane. Orang Jepang suka menyebutnya dengan Tenjin-sama, yaitu istilah untuk menyebutkan Sugawara no Michizane sebagai dewa pengetahuan.
Siapa sih, Sugawara no Michizane ini?
Sugawara no Michizane hidup di era Heian (1100 tahun lalu), merupakan seorang cendekiawan, penyair, politikus yang diakui oleh kaisar. Suatu saat, ia ditugaskan untuk pergi ke Kyuushuu karena banyak orang yang iri padanya. Tanpa kembali ke Kyoto, ia meninggal. Banyak kejadian alam yang aneh setelah ia meninggal, seperti hujan yang tidak turun sehingga tidak bisa memanen, orang-orang yang mengejarnya ke Kyuushuu banyak yang meninggal di usia muda, serta turunnya halilintar di kediaman kaisar. Orang-orang yang ketakutan segera membuat kuil dan menobatkan Sugawara no Michizane sebagai dewa pengetahuan supaya “amarahnya” reda. Kuil Tenmangu yang terkenal adalah kuil yang berada di dekat tempat meninggalnya Sugawara no Michizane, yaitu Fukuoka, bernama Kuil Dazai Tenmangu.
Adanya dewa pengetahuan, pasti berhubungan dengan pendidikan, bukan?
Kuil Tenmangu sangat populer di kalangan pelajar, mahasiswa, dan juga orang kantoran. Mereka pergi ke kuil Tenmangu, berdoa supaya diberi kelancaran dan ilai bagus dalam ujian, lulus ke universitas yang diinginkan, maupun sukses dalam pekerjaan.
Aku, misalnya.
Setelah mendaki tangga yang curam itu, aku segera mengambil berbagai foto dan mampir ke toko kecil di dekat gerbang. Di situ aku membeli ema (papan kayu bergambar) dan omamori / jimat kelulusan. Karena ahun 2017 merupakan tahun ayam, gambarnya pun disesuaikan.
Segera setelah membeli, aku disodorkan spidol dan pulpen. Di meja terdekat, aku menulis permohonanku dalam bahasa Jepang. Kira-kira isinya begini jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Semoga bisa lulus tepat waktu di 2018. Chika Imelda”. Amin. Setelah itu, aku menggantungkan ema di tempat yang disediakan,
Oh, aku juga berdoa dan melempar koin juga. Begini langkah-langkahnya.
1. Menunduk sekali
2. Membunyikan lonceng
3. Melempar koin ke dalam kotak persembahan. 5 dan 50 yen sangat direkomendasikan karena dipercaya membawa keberuntungan.
4. Memunduk lagi sebanyak dua kali
5. Menepuk tangan sebanyak dua kali
6. Berdoa dalam hati
7. Menunduk sekali lagi
8. Berjalan menuju torii, balik badan menghadap kuil, membungkuk sekali lagi
Fiuh. Itu kali pertama aku berdoa di kuil.
Untuk jalan turun, aku mengambil rute turunan karena aku terlalu takut untuk menuruni tangga curam tadi hahaha~
Bagaimana, cerita yang menarik bukan?
Alamat : 2 Chome-1-24 Wakauranishi, Wakayama, Prefektur Wakayama 641-0024, Jepang
Tel : +81 73-444-4769













