Lemu ( depan ) yang sedang mencoba menenun kain lurik gedog, dengan disaksikan oleh Ayem ( belakang ). Hal yang sudah jarang dilakukannya belakangan ini, hal ini tak lain karena memang spesialisasinya yang hanya membuat kain gedog polos untuk bahan batik. Berbeda halnya dengan Ayem, dia merupakan salah satu sisa penenun yg masih aktif berkarya hingga kini. Sudah tak terhitung banyaknya karya yang sudah dia hasilkan, yang kebanyakan adalah pesanan para juragan batik di sekitar desanya ataupun dari luar wilayah tempat tinggalnya. Keberlanjutan tenun gedog lurik di wilayah ini sangat memprihatinkan. Selain tidak adanya penerus, kaum muda belum terlihat ada yg mau belajar menekuninya. Padahal ada banyak sekali motif dan teknik tenun dari wilayah ini. Kaum wanita muda lebih tertarik untuk membatik dibandingkan dengan menenun. Maka tak heran jika makin jarang terlihat karya tenun yang masih bisa kita lihat dihasilkan dari wilayah ini. Benar kiranya tentang tenun gedog ini, sama dengan batik, yakni sebuah warisan tak benda yang merupakan sebuah karya tutur. Dimana pengajarannya dituturkan secara turun temurun, dari orang tua kepada anaknya. Bagaimana tidak, dari puluhan motif tenun yang ada, dengan teknik yang pembuatan yg berbeda - beda hanya diajarkan melalui sebuah sobekan kain kecil, yang kemudian dijelaskan dan diuraikan bagaimana cara membuatnya. Sebuah karya indah yang membutuhkan tak hanya pemikiran untuk melestarikannya, namun juga biaya yang pantas agar kehidupan para penenun makin baik dan semakin semangat dalam berkarya. Lemu dan Ayem adalah salah satu potret pejuang kemandirian budaya yang sesungguhnya. #batikgedog #tenungedog #lurikgedog #tuban #tenuntuban #fabric #heritage #tubanheritage #tubanculture














