Akhirnya dapat juga buku ini. #Read #Book #HebertMarcuse #OneDimensionMan #ODM #TeoriKritis #MazhabFrankfurt #Knowlegde #Philosophy #Filsafat
seen from China

seen from United States
seen from India

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from Colombia
seen from United States
seen from Venezuela
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
Akhirnya dapat juga buku ini. #Read #Book #HebertMarcuse #OneDimensionMan #ODM #TeoriKritis #MazhabFrankfurt #Knowlegde #Philosophy #Filsafat
Pengantar Craig Calhoun terhadap Habermas’s Public Sphere
Jürgen Habermas adalah seorang filsuf dan sosiolog dari Jerman yang juga adalah seorang pemikir generasi kedua dari Sekolah Frankfurt. Habermas meneruskan pemikiran-pemikiran pendahulunya yang kebanyakan berakhir dengan kepesimisan. Habermas mengembangkan teori-teori kritis dari para pendahulunya dengan konsep dan paradigma yang baru. Habermas terlihat terpengaruh dengan konsep pragmatisme, yang terlihat dari gagasan-gagasannya tentang komunikasi dan interaksionalisme simbolis dari para pemikir pragmatis. Konsep utamanya sebagai salah seorang pemikir kritis adalah mengkaji teori perencanaan yang dapat membebaskan masayarakat dari penindasan dan dapat membawa suatu semangat emansipasi (perubahan). Habermas tidak memandang negatif terhadap ilmu pengetahuan dan teknologu. Ia melihat bahwa dengan memanfaatkan ilmu-ilmu pengetahuan, pintu menuju emansipasi akan terbuka. Salah satu karyanya yang sangat terkenal dan menuai banyak kritik adalah The Structural Transformation of the Public Sphere tentang konsep ruang publik dan perkembangannya serta dampaknya pada sistem politik dan sosial suatu state (negara). Tulisan ini akan mengkaji apa yang dimaksud Habermas dengan ruang publik berdasarkan pemaparan Craig Calhoun dalam bukunya yang berjudul Habermas and the Public Sphere.
Public Sphere atau Ruang Publik dalam Pandangan Habermas
Buku Habermas yang berujudul The Structural Transformation of the Public Sphere ingin melihat kapan dan dalam kondisi seperti apa argumen-argumen dari sekelompok pihak bisa menjadi suatu dasar pemikiran otoriter aksi politik. Pemikiran Habermas banyak dipandang sebagai lanjutan dari orientasi pemikiran Hegelian-Marxist yang digabung dengan ide pemikiran Immanuel Kant. Habermas membedakan apa yang ia maksud dengan ruang publik yang juga telah lebih dahulu Kant definisikan dalam Structural Transformation sebagai ruang paling ideal untuk kaum borjuis pada masa itu menjadi sebuah ruang dimana status sosial tidak lagi berlaku sebagai penanda kedudukan seorang individu melainkan argumen-argumen dan opini.
Untuk dapat mengembangkan teori ruang publiknya, Habermas perlu memaparkan penjelasan tentang faktor-faktor ketegangan internal yang memicu terjadinya transformasi dalam ruang publik kaum borjuis Jerman pada abad ke-18. Ia juga harus bisa membongkar elemen-elemen potensial yang dapat melahirkan suatu sikap emansipatori dari para anggota ruang publik ini. Ketertarikan Habermas akan konsep ruang publik diawali dengan melihat bagaimana state mendominasi otoritas ruang publik pada masa itu dan civil society hanya bisa bergerak dalam sebuah private sphere atau ruang personal. Habermas ingin menegaskan peran ruang publik sebagai media agar para civil society menyampaikan pendapat-pendapat, opini, dan ketertarikan mereka terhadap masalah-masalah ekonomi dan politik.
Pada awalnya ruang publik kaum borjuis Jerman di abad ke-18 terdiri hanya dari beberapa komunitas orang-orang Eropa yang kebanyakan adalah kaum intelektual dan pemilik-pemilik properti atau singkat kata hanya terdiri dari kaum atas orang-orang Eropa pada masa itu. Mereka membicarakan dan membahas wacana tentang state yang hanya berorientasi pada kepentingan mereka dan terlihat sangat ekslusif pada orang-orang yang tidak bisa memasuki ruang publik mereka. Habermas dengan gagasan transformasi ruang publik yang ia bawa melebarkan ranah ruang publik tersebut dengan menambahkan anggota-anggota dari berbagai kalangan. Ia juga menggarap organisasi-organisasi sosial yang mampu menjad mediator pertemuan ini. Dengan adanya konsep ruang publik yang lebih demokrasi dan melibatkan suatu organisasi sosial kontemporer berskala besar, Habermas melihat vision ke depan bahwa ruang publik ini tidak akan kembali menjadi suatu ruang publik terdahulu yang terkesan bersikap terlalu elitist.
Habermas memandan adanya perkmebangan dan pertumbuhan pada sisi kapitalisme itu sendiri dan bagaiman ahal tersebut mempengaruhi keadaan masyarakat dalam periode modernitas Western. Bertambahnya perusahaan-perusahaan industri, masalah-masalah konsumsi yang dikarenakan kenaikan tingkat produksi juga adanya demokrasi massa yang terus berkembang menegasikan pemikiran klasik Marx akan kondisi kaum borjuis. Habermas melihat transformasi ini dengan membuat ruang publik sebagai moda integrasi sosial. Wacana publik atau yang Habermas kemukakan selanjutnya communicative action atau aksi komunikatif memaparkan tentang media-media koordinasi dalam kehidupan manusia yang selama ini dipandang hanya terbatas pada kekuatan negara dan pasar ekonomi. Tetapi pada dasarnya uang dan kekuasaan adalah hal yang non-diskursif dan hanya akan memperbesar potensi dominasi dan proses reifikasi suatu subjek. Hal ini membuat state dan ekonomi menjadi suatu topik kritis dalam wacana ruang publik yang demokratis.
Kritik terhadap Habermas’s Structural Transformation
Banyak kritiks bermunculan setelah Habermas menerbitkan bukunya tentang transformasi ruang publik tersebut yang bertitik berat pada isu rasionalitas dan apakah pemikiran tersebut didasarkan pada realitas yang benar terjadi ataukah hanya wacana debat kritis yang malah belum bisa dikembangkan. Beberapa kritikus seperti Benhabib, Fraser, Eley dan Ryan memfokuskan kritik mereka pada isu partisipasi dan keanggotaan dari ruang publik itu sendiri. Mereka memandang adanya keekslusifan gender tertentu dan perjuangan-perjuangan yang harus dicapai untuk mendapatkan tempat dalam gagasan ruang publik baru yang direncanakan Habermas.
Salah satu kelemahan dari Structural Transformation yang digagas Habermas adalah ketidakseimbangan persepsi terhadap ruang publik klasik dan ruang publik setelah masa transformasi dalam periode kapitalisme modern. Habermas cenderung menggambarkan ruang publik pada abad ke-18 berorientasikan Locke dan Kant, abad ke-19 lebih mengarah kepada Marx dan Mill, lalu abad ke-20 berasaskan tipikal penonton televisi suburban. Hal ini mengarah pada kepercayaan akan degenerasi ruang publik yang terlalu tinggi.
Habermas memandang media pada masa kapitalisme modern tidak lagi menampilkan debat-debat kritis dan isu kontroversial layaknya pada masa klasik, melainkan hanya menampilkan berita sebagai komoditas dan propaganda. Calhoun melihat ini sebagai salah satu kenegatifan dari tulisan Habermas mengenai media massa. Bahwa Habermas sepatutnya menyadari akan adanya strategi media demokratis alternatif. Issue lain yang dikritik dalam buku Habermas and the Public Sphere ini adalah tentang kebudayaan dan identitas. Menurut Eley, Habermas luput untuk meletakkan diskusi nasionalisme dan kepedulian akan wacana kebudayaan serta konstruksi identitas.
Kritik feminis menitikberatkan pada kegagalan Habermas untuk melihat kenetralan pada isu gender dalam ruang publik. Ia juga gagal menggagaskan solusi untuk masalah tersebut yang memperlihatkan bahwa pada dasarnya dikotomi publik atau personal itu sendiri mengandung logika kenetralan yang harus ditematisasikan secara positif. Habermas mengabaikan kenyataan bahwa dalam konsep ini kaum perempuan termajinalkan dalam komunitas kaum borjuis. Studi feminis menunjukkan adanya wacana politik bahwa ruang publik merupakan ranah rasionalisme dimana laki-laki dapat berpartisipasi dan kehidupan permempuan hanya sebatas kehidupan domestik.
Menurut Habermas terdapat konsumerisme publik atas media massa dan masyarakat adalah konsumen yang sangat dapat dimanipulasi oleh media. Hal tersebut menimbulkan kritik karena diragukan kebeneran akan ketidakadaan proses negosiasi yang dilakukan konsumen. Habermas mengemukakan isu tentang refeodalisasi ruang publik dimana penampilan seorang individu dalan debat politik lebih diutamakan dibandingkan opini atau gagasannya. Hal itu dikatakan tidak relevan dengan kenyataan politik pada masa kini yang mempunyai audiensi pendengar dari berbagai kalangan massa. Hegemoni kekuasaan publisitas kaum borjuis yang tak sempurna tidak dipaparkan secara lebih lanjut oleh Habermas dalam pengembangan ide tentang ruang publik yang didirikan tidak hanya sebagai pertahanan civil society juga sebagai pemeliharaan sistem dominasi dalam civil society. Hal ini menimbulkan inklusivitas yang lebih besar dan tantangan yang lebih dalam akan isu-isu baru.
Habermas merespons isu ketertarikan state untuk ikut serta dalam ruang publik dengan analisa intervensi state yang hanyak akan membantu berkembangnya konflik dan kepentingan-kepentingan sosial yang beragam dalam ruang publik. Habermas juga membuat pembagian antara sistem dan dunia kehidupan dimana ia mengatakan bahwa masyarakat kapitalis modern tidak bisa dikonseptualisasikan sebagai suatu totalitas sosial karena hal tersebut terbagi atas dunia-dunia yang terpisah yang terintegrasi pada basis-basis yang berbeda.
Tulisan Habermas mengemukakan poin-poin degenerasi suatu ruang publik dan argumen akan pergerakan haruslah dimulai dari akomodasi demokratis akan kondisi massa. Menurut Calhoun, bagian terpenting dari buku Habermas adalah bagian awal dimana Habermas mengkonstitusikan kategori historikal ruang publik dan menggambarkannya dalam sebuah ideal yang normatif. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana mengidentifikasi sejauh ideal teoritis melawan aktualitas praktikal akan ruang publik kaum borjuis yang sangat penting untuk sebuah konsep deksripsi historis.
Ketika menulis Structural Transformation, Habermas berharap dapat menunjukkan bahwa sebuah kondisi sosiohistorikal yang tidak bisa memenuhi konsep ke-ideal-an mereka malah justru akan memberikan motivasi untuk bertransformasi terhadap kondisi itu sendiri. Ruang publik mempunyai fungsi yang cukup penting dalam masyarakat demokratis sebgai ruang dimana opini dan gagasan kritis terhadap masalah yang berhubungan dengan state, politik dan ekonomi dapat terbentuk dan melawan ketidakadilan sosial. Walaupun banyak kritik yang berdatangan seriring dengan perkembangan pemikiran kritis – kritis lainnya terhadap konsep ruang publik Habermas, buku The Structural Transformation of the Public Sphere tetap menjadi suatu panutan untuk analisis dan studi – studi selanjutnya yang dapat melahirkan teori-teori baru.
Nurul~