Cinta di Malam ke 25
Kamu kenal Osho?
.
.
.
Sama. Aku pun tidak.
Tapi aku yakin ada cinta yang amat besar, hingga teori-teori cinta Osho ini sampailah kepadaku di menjelang fajr ke 25.
Atau barang kali, beberapa dari kalian sudah tahu tentang Osho, mungkin kamu gemar ngaji filsafat. Itu luar biasa.
Jadi tentang cinta oleh Osho ini menarik, mengagumkan, sekaligus membawa riak-riak gelombang pada ego.
Bahwa cinta itu keadaan.
Tidak terbatas pada kepemilikan,
Bukan sekadar memiliki.
Tanpa ingin mengubah apa yang dicintai, tetapi saling membebaskan.
Sebuah paradoks, bahwa bersama tetapi tetap saling sendiri.
Pahit?
Begitulah katanya ego itu.
Tapi jiwa insan itu akan tumbuh karena bukan memberi makan ego belaka. Setidaknya begitu tambahan keterangan dari Dr. Fahruddin Faiz.
Maka inilah tanpa pamrih itu~
Dewasa sekali!
Bukan tentang yang dicinta, tapi tentang pencinta itu sendiri dengan segala karakternya.
Sama seperti mencintai bunga, maka jangan memetiknya karena akan berubah menjadi sesuatu yang tidak disukai lagi, ketika bunga itu layu begitu saja.
Kata Osho lagi, jadilah budak cinta!
Bukan menjadi budak seseorang atau pelayan yang kekasih,
Tetapi pelayannya cinta!
"Gagasan murni tentang cintalah yang harus dilayani cinta"
Bunga, bulan, kekasih, anak, ibu, ayah semua hanyalah wujud di gelombang lautan cinta.
Semua keberadaan hanya mengandung jutaan manifestasi dari gagasan murni tentang cinta.
Selalu ingat, bahwa kekasih hanyalah wujud ekspresi kecil~
Maka para pencinta, bersiaplah!
Memberi!
Sebagaimana cinta adalah kata kerja, maka lakukan sebagai karakter pencinta.
Bukan di beri.
.
.
.
Maka sudahkah kamu kenal Osho ini?
Sama. Aku pun lagi-lagi belum
Semoga dilain waktu aku sempat mengenalnya lewat jejak-jejak yang telah ditinggalkannya~












