"Menikah adalah menjadi leluhur yang baik bagi generasi-generasi yang akan lahir kemudian"
todays bird
Jules of Nature

⁂

ellievsbear
Sade Olutola

izzy's playlists!
wallacepolsom
Today's Document
he wasn't even looking at me and he found me
Cosimo Galluzzi
we're not kids anymore.
cherry valley forever

Product Placement

pixel skylines
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
RMH
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

roma★
One Nice Bug Per Day
Alisa U Zemlji Chuda
seen from Argentina

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Finland

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Portugal

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Japan

seen from Poland

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Denmark

seen from Canada

seen from Italy

seen from United States
@duniakataku
"Menikah adalah menjadi leluhur yang baik bagi generasi-generasi yang akan lahir kemudian"
Menyambut Juni
Juni. Adalah batas yang ideal bukan? Setelah 6 bulan, setelah setengah tahun penuh atau satu semester tlah usai (lagi di tahun ini).
Sejauh mana ajaran para asatidz, murabbiyah, para guru ter-internalisasi. Seteguh apa karang yang membanggakan dan dibanggakan dulu itu?
Juni. Aku tau kamu akan dipenuhi laporan-laporan, case study dari stase-stase yang tumpang tindih itu. Waktu yang berkejaran, lalu? Sudah.. jalani prosesnya, asal ada prosesnya. Tidak stagnan kayak si..... ah sudahlah...
Ok... Juni kusiapkan kamu khusus untuk "sekolah" ini segera rampung. Mini osce/ujian bagian didepan mata, maka harusnya tak ada red flag yang mengganggumu.
Bahkan libur-libur dibulan Mei ini kuikhlaskan untuk diri ini memoles diri lewat jalur pendidikan, lagi dan lagi. Tahukah? Ada banyak ajakan yang ditepis, waktu kebersamaan yang sengaja dipangkas dan oh.... Pilates dan kelas renang yang kurindukan dengan kesungguhan.
Sudah sejauh ini... se dar der dor ini.. maka tak ada alasan untuk tak memilih Juni sebagai batasnya.
Harapannya setelah Juni, hari-hari yang musykil bisa terlewati dengan keindahan lagi.
But... wait........
Abis Juni, terbitlah persiapan UKOM dan OSCE!!!! 🫣🙌🙌🙌🙌🙌
Semoga lancar jaya menuju Yudis lalu..... Wisssss udah!!!!
.
.
Detik-detik tetap berjalan... tak menunggu siap atau tidak!
Maka abis Juni.....yuk... wisss udahh...!
🔥🔥🔥🔥🔥
30 Mei 2026
Pulang, Katanya~
Aku tak sengaja melihat lagi Rarins dengan kopernya yang banyak itu berjejer rapi di lobi sebuah gedung yang estetik..
"Mau kemana Rins?"
"Pulang... benar katamu" katanya.
"Ada apa? Gimana kali ini?"
"Dulu di peron biru itu sebelum kereta datang menjemputku pergi, aku ingat kamu bilang untuk tidak melupakan aku, diriku sendiri dalam perjalanan yang akan kukira panjang ini"
"Lalu...?" Kataku.
"Meski aku tidak larut dalam kecewa kali ini, aku tetap kerepotan sendiri akhirnya karena tidak mendengarkanmu saat itu. Satu-satunya yang paling kusesalkan adalah melupakan aku di perjalanan ini"
"Sekarang bagaimana?" Kataku. Aku hanya bertanya dan tidak perlu menghakimi karena aku tau Rarins sudah banyak belajar dari waktu-waktu yang banyak. Meski tidak pernah kulupa ketergesaannya saat itu membawa banyak sekali koper, dengan semangat membara untuk berangkat katanya. Sudah kuperingatkan itu bukan wahana yang di bayar dengan karcis, tapi sebuah waktu hidup yang dibayar dengan sisa umur dan tak bisa kembali.
"Disinilah aku, bersiap pulang. Aku sudah di depan pintu keluar" katanya membuyarkan ingatanku.
"Pulang ke rumah?" Kataku.
"Tidak sekadar rumah. Tapi pulang ke aku. Diriku sendiri. Jadi saat tak di rumah pun, aku tetap teguh dimana pun. Dan yang paling penting kembali pada aturan-aturan-Nya lagi"
"Rarins.. boleh aku memelukmu?" Aku senyum yang bangga sekali padanya kali ini. Kupeluk tulus ia yang lamaaaa. "Hati-hati di jalan yaa Rins..." aku mengucapkannya yang sungguh.
.
.
.
Nah.. Rarins... terima kasih pelajarannya.
Kita boleh keliru, boleh salah jalan. Tapi jangan jadi pelupa yang lama. Hakikatnya ketenangan ada bersama yang tak lupa jati diri.
Karena seluruh semesta ini, sudah ada di dalam diri kita masing-masing. Tak perlu mencari keluar. Hanya menggali lebih dalam, lalu tenggelamlah disana untuk berenang kembali menemukan-Nya lagi, dan lagi. Berkali-kali.
~~~~~~~~~~~~~~~
Suara Ayam mulai berkokok, bersahutan. Membangunkanku
Ternyata sudah dini hari menjelang fajar..
Mimpi apa tadi yaa?? Siapa tadi yang bawa koper banyak sekali seperti mau pindah rumah saja.. ckckck...
Hai April....
Let's bloom and blossom in the most beautiful ways... 🌸🌸🌸
Bismillah~~
Awalnya bagai kisah "Panah Konta" milik Adipati Karna.
.
.
Namun belakangan, bagai menunggu Godot di Salihara~
Patuh (Cukup Allah Saja)
Pelajaran hampir setengah Ramadhan ini, bahwa mendekat kepada Allah memang lebih utama
Berharap pada Allah adalah yang terbaik, sebab kepada makhluknya hanya berujungpangkal kecewa.
Maka saat kecewa, tak apa bersedih. Bersedih tak dilarang, hanya saja tak perlu berlarut. Toh dari awal memang sudah keliru mengaitkan pengharapan.
Padahal tadkir ini, hidup ini, jasad ini, ruh ini milik Allah semuanya, maka mengapa harus berlarut dalam kesedihan demi kesedihan, padahal yang menuliskan takdir ini adalah DIA Yang Maha Menuliskan Takdir Terindah kepada para Hamba-Nya"
.
.
Engkau cukup Ya Rabb
Tak cukup rasanya sekadar ucapan Terima Kasih Kepada-Mu atas segala penglipur lara, yang membesar-besarkan hati dikala terhimpit sendiri, yang memberikan keluasan dengan lapang ketika sempitnya sesak. Pada kalam-kalam terindah-Mu Engkau semai dan jadikan wasilah ketenangan serta ketentraman disana. Ya Rabb atas segalanya, Engkau cukup. Jadikan kami ridha untuk setiap qadar-Mu.
Tidak apa-apa jika salah baca tanda. Bukan berarti gagal. Hanya bagian dari perjalanan. Meski meleset sedikit. Tidak apa-apa.
Sebelum jauh tersesat, tidak apa-apa untuk kembali. Mengulang. Memulai lagi~
Sekali lagi.. tidak apa-apa.
Semoga dilain waktu, Mawar tidak lagi salah membaca berbagai pertanda-Mu~
#2026 #BrandNewDay
OctobeRain
Welcome back my Nirvritih 🤍
Alhamdulillah...
Allahumma shoyyiban nafi'an~
Apakah hanya bersinggungan? Tidakkah bertaut?
Sabtu, 16 Agustus 2014
Dari sudut-sudut mataku, terindra orang-orang entah dari mana saja, tiba-tiba memenuhi rumah, di halaman, kolong rumah, pelataran, ruang tamu hingga ruang tengah tempatmu berbaring.
Saat itu, rumah kita penuh tapi hanyalah suara nafasmu yang semakin pelan.. pelan.. lebih pelan lagi dan dzikir lirihmu yang terdengar oleh pendengaranku. Semakin lirih... sunyi.. kemudian hilang sama sekali..
16.04 Wita
Angin seketika berhenti berembus, luruh entah kemana, lalu waktu seperti berjeda. Tatapanku kosong, jiwaku serasa tak ditempatnya, sedang jiwamu sungguh telah terbang ke dimensi lain.
Air mata dan suara tangis orang-orang yang sejak tadi sama sekali tak kudengar suaranya itu, tiba-tiba terdengar serempak tanpa komando, menyadarkan bahwa ketiadaanmu memang sebuah hal yang niscaya.
Meyakininya, bulir air di pelepa mata luruh jua seolah membawa waktu yang berjeda tadi kembali berputar dengan nyata di hadapan. Mamaku (Rahimahallah) telah pergi dengan iringan dzikirnya yang tak putus dan nafas yang tenang sekali. Maasyaallah.. Semoga Allah selalu merahmati mama~
.
.
Sabtu, 16 Agustus 2025~
Mengenang hari itu, ternyata sudah 11 tahun kini. 11 warsa, telah 11 kali revolusi bumi namun bukan lagi kehadiranmu yang jadi "porosnya".
Maka sepanjang rentang waktu di selama ketiadaanmu itu, ada banyak hal yang ingin kuceritakan dan kutanyakan Ma..
Tapi sudah kubungkus dan kuhiasi biar jadi kado terbaik untukmu di setiap waktu. Kusampaikan semuanya kepada Sang Pemilik ruhmu dan juga ruhku.
Harusnya tak ada yang perlu kukhawatirkan.. bukan?
Maka semoga Sang Pemilik Rabbul'alamiin.. kembali mempertemukan ruh kita, akan kuceritakan segala kenyataanku ini diselama ketidakhadiranmu. Biar jadi reuni yang terindah.
Katanya nanti kita bakal seumuran Ma?
Insyaallah kita jadi bestie.. atau sesuai yang Allah ridha dan rahmati saja~
Rishika-ku
Baginya, lelah tak ada.
Di pundaknya ia ukir dengan purna susunan aksara agung, yang jika dibaca dari dekat akan jelas terangkai kata: tanggung jawab.
Tanggung jawab, agar kelak anaknya jadi yang lapang
Ketika kunyatakan tentang lelah lalu kesah,
Ia malah mendefinisikan ulang untukku tentang laku kerasnya menantang waktunya sendiri.
Kini.. pada keriput yang menghiasi wajahnya, rambut yang mulai memutih, bahkan raga yang tak lagi sekokoh dulu saat menggendongku.
Adalah saksi dan bukti.
Kembali kunyatakan untuknya jeda sejenak.
Lagi, dengan lantang ia katakan:
Lelah itu tak ada! Yang ada hanyalah tujuan. Katanya.
Ia yang tak pernah ragu sejak mula, untukku.
Yang selalu berkata "BISA!" padaku.
Bahkan saat-saat seluruh dunia mengingkari~
Jumat, 18 Juli
Udara bagaskara nan dingin sejuk berlomba menyambut seluruh permukaan kulit yang tidak tercover, adalah saat-saat kubuka pintu rumah.
Seakan-akan seluruh rahmah-Nya saat itu memelukku erat mengiringi hingga di sepanjang perjalanan menuju tempatku menerima pendapatan bulanan.
Alhamdulillah.. Alhamdulillahiladzi bini'matihi tatimmush-shalihat~
.
.
Aphelion..
Atau apapun nama fenomena yang membuat Bumi di bulan ini lebih kalem rasanya~
Juli... perlukah dirayakan lagi?
Alhamdulillahi rabbil'alamiin.. ⚘️⚘️
Kali ini...
Taman-taman dan kebun yang sirna serta layu mengering, mulai hijau kembali.
Kulihat pucuk-pucuk tangkainya mulai banyak di tumbuhi kuncup bunga warna-warni disana.
Jika saatnya tiba..
bermekaranlah dengan yang paling indah~
Jika saatnya tiba..
Bersemilah dengan cara yang paling menenangkan~
⚘️⚘️⚘️
Pekan Pertama Bulan Mei 2025
Ternyata masih ada rinai hujan..
Gerimis manis
Lalu..
kelabu dan mendung
Walau hadirnya tak bisa lagi prediksi
Bisa saja tiba-tiba hujan..
Deras.. deras sekali..
padahal cuaca sebelumnya di hari itu, sungguh cerah sekali..
Dan diantara cuaca, suhu, hiruk pikuk, nyanyian semesta raya yang silih berganti tak menentu itu, aku berterima kasih..
Khususnya di hari ini,. Aku berterima kasih kepada dua staff salah satu swalayan favoritku di kota ini.
Atas percakapan yang begitu saja masuk kependengaranku ketika kusekadar melewati mereka, yang sedang mengemas barang jualan lalu di tata pada rak bersusun tinggi menjulang.
Percakapan biasa sebenarnya, setidaknya begini:
A : Minggu depan libur, (di) hari senin [dengan sedikit nada antusias terselip disana]
B: liburkah?
A: iya tanggal merah di hari senin.
B: iyakah? Ada apa itu kenapa tanggal(nya) merah?
A: Israj Mi'raj (menjawab tanpa tedeng aling-aling dengan nada percaya diri, meyakinkan, sambil melenggang)
Aku yang tengah berlalu disana dan mengetahui betul bahwa libur nasional awal pekan depan yang dimaksud adalah perihal Hari Raya Waisak, seketika terbahak. Sedetik tertahan menunggu, mungkin ada penjelasan tambahan dari empunya jawaban tanpa dosa tadi. Bisa saja jawabnya bercanda. Ternyata tidak ada, maka purnanalah tawaku. Bahuku kurasakan berguncang sendiri cekikian. Lalu... mataku berair setelahnya~
Jika saja aku tidak sedang ditengah-tengah keramaian swalayan dengan suasana awal bulan, bisa saja kau akan melihatku terbahak-bahak.
Entah...
Namun dikeramaian yang riuh ini, waktu berjalan lambat sekali rasanya. Musim dingin yang kukira telah berganti menjadi saat-saatnya bunga-bunga bersemi, ternyata masih diselingi langit kelabu pekat yang hadirnya tak bisa di prediksi oleh piranti dari BMKG sekali pun.
Alhamdulillah 'alaa kulli haal, tawa cerah tetap bisa hadir bahkan di saat-saat udara hanyalah polusi yang terhidu. Suasana seperti kerikil-kerikil lancip memenuhi rongga paru-paru. Sesak.
Lewat percakapan sederhana.
Kedua mataku berair.. saking lucunya percakapan mereka bagiku
Juga sekaligus..
Sebuah manifestasi dari polutan-polutan yang memenuhi rongga, penuh. Penuh sekali. Hingga meluap-luap diangkasa.
Yang pernah kurayakan~
.
.
.
Satu yang kuyakini dari dulu, bahwa bahagia / tawa yang hadir dengan cara yang paling sederhana adalah sebetulnya bentuk mewah dari hadiah oleh Sang Pencipta Yang Maha Agung.
Alhamdulillahi Rabbil'aalamiin..
Terima kasih juga kepada kaka-kaka staff swalayan yang menjadi hikmah hari ini.
Barakallahu fiikum.
Oh yaa... jangan sampai memperingati Israj Mi'raj pekan depan yaa kaka-kaka... hehehheh
Ramadhan di Batas Waktunya~
Wahai bulan yang di nanti-nanti hadirnya sepanjang tahun..
Apakah kini, sudah tiba saatnya perpisahan itu? Kuliat engkau tengah berkemas.
Secepat itu engkau berada didepan pintu membawa semua barakah
Kuliat di beranda rumah, iring-iringanmu telah siap lagi mengangkutmu pergi menjauh.. jauh sekali...
.
.
.
Tapi.. sebelum Rabbul'alamiin betul-betul mengusaikanmu di detik-detik akhir ini..
Ya Rabb... tolong simpankan untuk kami energi keimanan serta azzam itu untuk tetap ada pada kami setelah Ramadhan Engkau selesaikan.
Tolong jangan bawa pergi bersama Ramadhan cinta yang kami usahakan utuh, penuh, seluruh padaMu ya Rabb selama Ramadhan ini,
Meski jauh sekali dari kata yang purna..
Dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaan di hadapan-Mu..
Serta kelalaian yang tak henti..
Dengan segala Keagungan-Mu, Kemuliaan-Mu yaa Rabb.. Wahai Yang Maha Penyayang..
Terimalah segala amalan dari kami ini walau tak seujung kuku sampai sama seperti pada generasi awal-awal menghamba pada-Mu.
Tolong jaga kami Rabb selepas ini..
Titip cinta ini dikedalaman fu'ad yang murni
Jaga iman kami yang rentan tanpa penjagaan-Mu, biar mengindah di dasar Lubb yang Engkau anugerahkan.
Temani selalu kami Ya Rabb..
Iringi langkah ini sampai pada Ramadhan tahun depan, hingga Ramadhan tahun-tahun yang akan datang lagi,
dengan Izin-Mu yaa Rabbi..
Semoga cahaya dan barakah yang Engkau ridha karuniai lewat Ramadhan, tak akan pernah redup menerangi untuk selalu bergegas menuju-Mu, Allahu Rabbi..
Mohon petunjuk-Mu hingga akhir hayat ya Allah
Hingga Engkau ridha mengambil ruh ini kembali pada-Mu dalam keadaan Engkau sangat cintai
Dan jangan Engkau keluarkan kami dari dunia ini dalam keadaan Engkau tidak Ridhai Yaa Rabb..
Cinta di Malam ke 25
Kamu kenal Osho?
.
.
.
Sama. Aku pun tidak.
Tapi aku yakin ada cinta yang amat besar, hingga teori-teori cinta Osho ini sampailah kepadaku di menjelang fajr ke 25.
Atau barang kali, beberapa dari kalian sudah tahu tentang Osho, mungkin kamu gemar ngaji filsafat. Itu luar biasa.
Jadi tentang cinta oleh Osho ini menarik, mengagumkan, sekaligus membawa riak-riak gelombang pada ego.
Bahwa cinta itu keadaan.
Tidak terbatas pada kepemilikan,
Bukan sekadar memiliki.
Tanpa ingin mengubah apa yang dicintai, tetapi saling membebaskan.
Sebuah paradoks, bahwa bersama tetapi tetap saling sendiri.
Pahit?
Begitulah katanya ego itu.
Tapi jiwa insan itu akan tumbuh karena bukan memberi makan ego belaka. Setidaknya begitu tambahan keterangan dari Dr. Fahruddin Faiz.
Maka inilah tanpa pamrih itu~
Dewasa sekali!
Bukan tentang yang dicinta, tapi tentang pencinta itu sendiri dengan segala karakternya.
Sama seperti mencintai bunga, maka jangan memetiknya karena akan berubah menjadi sesuatu yang tidak disukai lagi, ketika bunga itu layu begitu saja.
Kata Osho lagi, jadilah budak cinta!
Bukan menjadi budak seseorang atau pelayan yang kekasih,
Tetapi pelayannya cinta!
"Gagasan murni tentang cintalah yang harus dilayani cinta"
Bunga, bulan, kekasih, anak, ibu, ayah semua hanyalah wujud di gelombang lautan cinta.
Semua keberadaan hanya mengandung jutaan manifestasi dari gagasan murni tentang cinta.
Selalu ingat, bahwa kekasih hanyalah wujud ekspresi kecil~
Maka para pencinta, bersiaplah!
Memberi!
Sebagaimana cinta adalah kata kerja, maka lakukan sebagai karakter pencinta.
Bukan di beri.
.
.
.
Maka sudahkah kamu kenal Osho ini?
Sama. Aku pun lagi-lagi belum
Semoga dilain waktu aku sempat mengenalnya lewat jejak-jejak yang telah ditinggalkannya~
Untuk udara pagi yang selalu bermakna~
Ketika cicit-cicit kolibri yang kicaunya masih malu-malu di cakrawala
Ada tetes-tetes embun yang enggan beranjak lagi, seakan berdiam kokoh di dedaunan yang basah jejak hujan semalam, atau gerimis barusan.
Atau saat-saat hawa sejuk leluasa merasuki tiap jiwa-jiwa yang lelah nan penat, untuk kembali teguh dan teduh
Pada raga yang utuh, penuh, seluruh
Untuk segalanya..
Alhamdulillah..
Alhamdulillahi Rabbil'aalamiin.. 🤍
20 Ramadhan 1446 H
20 Maret 2025