[How Do You Connect with Your Ancestors?]
Jadi semua ini berawal dari pertanyaan simpel, bagaimana caranya (merasa) terhubung dengan leluhur? Perasaan ganjil ketika diri ini merasa binggung atas basa basi "kamu orang mana?", akhirnya berakhir pada kesimpulan bahwa diri ini tidak memiliki keterkaitan maupun pengetahuan terhadap asal usul ibu dan bapakmu. Sejarah panjang dan pohon keluarga yang berbelit serta individu yang mudah lupa, benar-benar bikin kamu nggak ngerti yang namanya urutan panjang silsilah yang dilontarkan ibumu.
Pertama kali saya mengetahui pertanyaan tersebut, rasanya ada yang menggelitik. Wah memang seorang individu di era post-modern bisa terhubung dengan leluhurnya? Tapi setelah diamati, pertanyaan ini bukan tentang berkomunikasi melainkan untuk 'merasakan' adanya keterikatan.
Tahun 2020 akhir adalah waktu ketika tante saya menikah di Gombong, tempat masa kecil kebanyakan kerabat dan keluarga yang kini sudah dituakan. Gombong yang saya rasa hanyalah tempat singgah ketika pulang kampung, ketika berlibur, ketika mengunjungi saudara-saudara jauh. Berbicara mengenai Gombong, yang teringat itu Benteng Van der Wijck, Stasiun Gombong, Pasar Wonokriyo, Jalan Yos Sudarso, apalagi? Ingatan ini benar-benar lemah kalau diminta berbicara hal lain yang seringkali jarang terpikirkan. Kalau boleh cerita disela waktu mengunjungi Gombong kemarin, saya sempat mampir ke kafe Rumah Martha Tilaar. Di sana saya menemukan buku berjudul "Ngomong Gombong". Ada perasaan lucu sekaligus tertarik ketika berpikir bahwa kok bisa-bisanya saya yang sedang dalam fase mempertanyakan akar latar belakang diri, dipertemukan dengan buku semacam ini? Tentu saja saya beli, untuk berkenalan dengan kota yang selama ini berada di pelupuk mata.
Siapa sangka, ketidaktahuan saya atas kota ini, sampai tidak mengetahui bahwa Kasino Warkop mengaku putra Gombong. Loh kemana aja? hahahaha tidak apa.. dimaklumi, toh informasi itu sudah terhitung lintas generasi.
Buku "Ngomong Gombong" membeberkan banyak cerita, mengenai 2 versi asal usul kata Gombong; mengenai periode kekuasaan; mengenai silsilah, adat, budaya beberapa keluarga asli Gombong; serta mengenai bangunan-bangunan tua. Setelah membaca, ada satu hal yang ingin saya tanyakan ke dunia: untuk apa kalian ribut soal perbedaan Sunda dan Jawa? Mungkin pertanyaan ini lebih ke protes akan dogma yang ada dalam masyarakat. Penyelesaian saya ini kemudian hanya sesuai bagi putra dan putri keturunan daerah Gombong, ditulis dalam buku bahwa Gombong pernah masuk dalam bagian Kerajaan Galuh, Pajang, maupun Mataram. Dengan mengetahui itu, kini sudah tidak ada masalah lagi bagi premis pernikahan Jawa dan Sunda, karena secara silsilah semuanya berkaitan dan keduanya ada dalam darah kami.
Kembali ke prahara identitas diri ini yang selama ini belum bisa diselesaikan, izinkan saya menceritakan suatu cerita unik. Hal ini benar-benar terjadi pada keluarga jauh saya di Gombong. Secara singkat, seorang bidan dengan tidak sengaja menukar bayi dari 2 keluarga; keluarga yang tumbuh di lingkungan Jawa totok dan keluarga yang tumbuh di lingkungan Jawa-Tionghoa. Ketika sudah besar, melihat betapa berbedanya mereka dari aspek fisik semata, akhirnya pihak keluarga menyadari adanya perbedaan dan hal itu ditelusuri. Kemudian berhubung Gombong bukanlah kota besar, satu keluarga bisa menemukan keluarga lain yang berhubungan langsung dalam masalah ini. Kedua orang yang tertukar kemudian dipertemukan dan dipersilahkan untuk rekonsiliasi serta berdiskusi mengenai identitas masing-masing. Pihak anak menemui orang tua asli mereka hingga pada akhirnya dikembalikan pilihan kepada 2 anak yang tertukar tersebut; mau kembali atau mau hidup sebagaimana adanya? Mereka memilih hidup sebagaimana adanya, dengan identitas dan keluarga yang tertukar namun tetap dengan perasaan syukur dan berterimakasih terhadap ibu dan bapak yang asli.
Cerita ini semacam bisa jadi jawaban atas krisis identitas dan resolusi atas pertanyaan 'perasaan terhubung' saya kepada leluhur. Dengan membaca buku ini, saya sudah lebih kurang mengetahui beberapa aspek tentang leluhur (yang dimanifestasikan dalam latar belakang orang tua), tentang lingkup kehidupan mereka, dan apa saja yang pernah terjadi di sana. Diceritakan dalam buku "Ngomong Gombong" tentang anak-anak blasteran indo-eropa yang kerap merasa asing jika dituturkan mengenai kisah-kisah dari Negeri Belanda, palsu ketika diminta hormat kepada bendera merah-putih-biru, namun riang ketika bermain di sawah dan menunggang kerbau untuk memandikannya di sungai. Aneh? tidak, bahkan rasanya ada kemiripan dengan yang saya rasa.. Lalu bacalah kutipan YB Mangunwijaya dalam buku "Impian dari Yogyakarta" sebelum saya menyimpulkan opini akhir terhadap cara saya bisa merasa terhubung dengan leluhur:
".. telah tumbuhlah benih-benih pengakuan, bahwa yang benar-benar penting dalam sejarah justru adalah hidup sehari-hari, yang normal yang biasa, dan bukan pertama-tama kehidupan serba luar biasa dari kaum ekstravagan serba mewah tapi kosong konsumtif. Dengan kata lain, kita mulai belajar, bahwa tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali di antara kaum rakyat biasa yang sehari-hari, yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan."
Perkataan tersebut menyadari diri ini bahwa leluhur saya terhubung dalam kota ini, hadir pada orang tua dan keluarga jauh, dan dimaknai dalam pengertian akan apapun yang bisa saya peras dalam bentuk pengetahuan mengenai sejarah di dalamnya.