BERORGANISASI meski BERHATI- NURANI,bukan BEREKSISTENSI-SEMATA
“Organisasi ialah suatu kerangka terstruktur yang didalamnya berisikan wewenang,tanggung -jawab,dan pembagian kerja untuk menjalankan masing-masing fungsi tertentu.”
Planet Bumi ini sudah terlalu tua untuk selalu setia dan sedia bercerita tentang bagaimana:Manusia-manusia menjalankan suatu organisasi yang baik.Tuhan,Bumi,dan seluruh seisi bumi amat membenci terhadap visi-misi yang selalu dinistakan.Tentunya,hanya manusialah makhluk Tuhan yang berakal,berhati-nurani,lain tidak.
Dewasa ini marilah kita insyafi dan sepakati bersama.Bahwa dapat terbentuknya suatu wujud organisasi tidak lepas dari beberapa pengaruh citra aspek.Sepertihalnya,penyebaran gala upaya daya visi-misi serta aplikatif yang disaksikan oleh beberapa lapisan elemen rakyat (manusia) yang dibawahinya secara otoritatif setiap segmentasi dalam bidang dimensi ini.
Perlu diingat betul bahwa,suatu organisasi yang dianggap shah salah satu diantaranya yaitu;ialah dimana organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh rakyat-rakyatnya sekitar.Karena,dengan alasan yang kuat mampu memberikan suatu kontribusi yang ternilai,jeli dan nyata adanya dapat dirasakan bersama.Juga sifat apreatif,peduli,merasakan, mendengarkan apa yang rakyat rasa dan hendaki.
Manusia-manusia yang berada didalam lingkaran dimensi oraganisasi hendaknya belajarlah cara bagaimana bersetia kepada hati-nurani secara koherensif,tanpa terkecuali.Berbijaklah akan hal itu.Karena,pada hakikatnya pada manusia terdapat suatu ruangan yang didalamnya terdapat tata cara bagaimana apiknya merasa asa,apiknya berkata-kata,sesuatu yang bersifat lembut,serta nilai-nilai kearifan yang tinggi.Karena,hati-nurani merupakan suatu perisai kuat daripada kehendak-kehendak manusia dikala bernista dan berdusta dalam mecapai upaya-upaya identitas belaka,utopia semata.
Perihal eksistensi dewasa ini,manusia selalu saja menggebu-gebu hebatnya dalam suatu proses pencapaian daripada menuju suatu batas identias yang ada dimuka fana ini.Tentunya apayang yang menjadi lebih puitis sekaligus menyedihkan dari drama ini ? yakni,adanya suatu nilai luhur yang tersembunyi dan terkadang tak dapat kita sadari dewasanya ini yaitu tentang etimologi hakiki dari “personalitas”.
Eksistensi dan pencapaian suatu identitas bukanlah suatu bagian terpenting yang mampu menandingi arti nilai daripada personalitas.Eksistensi dan pencapaian suatu identitas bukanlah sesuatu hal yang utama daripada bagian kehdiupan yang berarti selama ini,diBumi.
Eksistensi dan identitas,selama ini selalu sukses mengikis habis-habis niali-nilai kejujuran,kearifan,kebijaksanaan,manusia-manusia diBumi ini.Membuat manusia lupa cara bagaimana berbuat sesuatu hal-hal yang berasaskan dorongan daripada bisikan-bisikan hati-nurani.
Eksistensi dan identitas dewasa ini telah menjadi suatu isme bagi pola-pola dimensi manusia,menjadikan manusia memiliki suatu objektivitas utama tersendiri,dan cara pencapaiannya hampir ekstrim.Jauh daripada substansi etimologi dan terminologi yang ia miliki secara hakikinya.Dewasa ini eksistensi dan identitas telah sukses menjadi Causa-Prima peradaban manusia.
Terminologi eksistensi dan identitas itu sendiri bagiku adalah suatu hal yang rasa –citranya sangat koherensif sekali dengan apa yang Kunamakan arogansi.Eksistensi dan identitas bagiku merupakan suatu candu yang mampu berkembang biak terus menerus dan pada akhirnya ini hanya akan menjadi toksin,bagi raga kehidupan kita diMuka Fana.
Eksistensi dan identitas tidak sah apabila dijadikannya kedua hal semacam pilar sandaran utama dari suatu pergerakan-pergerakan yang bahkan awalnya bernilai kebaikan,keadilan,kecintaan-manusia atas manusia.Ketahuilah eksistensi dan identitas hanya suatu output daripada sesuatu yang telah kita tempuh apabila kita menempuhnya.
Teramat bodoh apabila ada seorang terpelajar dan manusia berakal seakan-akan dalam dalam daya-upayanya dikehidupan berorganisasi men-Tuhankan eksistensi dan identitas semata.Maka dengan tidak terasa dan sadar bahwa ini telah menggugurkan apa arti hakiki dari bagian elemen manusia berakal,merdeka,dan terpelajar itu sendiri.
Saranku:bertindak dan bertanduklah dalam suatu ajang kebaikan,keindahan,perubahan,penumpasan kebodohan-pembodohan,kedaulatan bersama landaskan atas apa-apa itu pada akal yang sehat dan setianya kita kepada hati- nurani kita secara utuh lain tidak.