Tet Apam
Dua ikat pelepah kelapa kering rapi disiapkan. Cuprok Tanoh (periuk tanah) kecil nangkring di batu bata yang tersusun.
Api dihidupkan menyambar pelepah kering. Cuprok tanoh di atas bata dibaluri garam. Terasa panas, sekejap kemudian, adonan cair dari tepung beras dicampur santan dituangkan.
Seorang ibu terdengar menggumam "Allahuma barik lana, fi rajaba wa sya'bana wa balighna Ramadhana" (Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah hingga di bulan Ramadhan).
Api di pelepah terbakar ditiup hingga membara.
Tutup cuprok tanoh dibuka. Adonan telah menggumpal dan masak sempurna.
Adonan itu telah menjadi Apam. Pengganan paling banyak dibuat di bulan Rajab. Bulan yang padanya segala kebaikan diyakini mendapat pahala berganda.
Bulan yang menjadi tonggak ibadah, yakni adanya perintah salat bagi kaum mukminin.
Khanduri apam kemudian menjamur pada bulan ini di berbagai gampong di Aceh, khususnya di Pidie.
Berharap berkah dan juga demi menjaga budaya indatu, Tet Apam lestari.













