The Devil Interview
“ Jadi yang harus aku lakukan, hanya mengikuti perintah anda saja?” tanyaku pada Lucy, wanita yang sudah setengah jam bercakap-cakap dengan diriku.
Wanita necis ini tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya pelan. Aku dapat melihat rasa percaya diri yang luar biasa dari lawan bicaraku ini. Intonasi, gerak tubuh dan tatapan mata tersebut menunjukan bahwa dirinya adalah seorang pemenang. Dan seumur hidupku aku belum pernah menemukan wanita semenarik ini. Seluruh sudut yang ada di dalam dirinya sangatlah sempurna. Tubuh, suara, aroma tubuh bahkan ia seperti mempunyai sesuatu yang menyihirku untuk selalu ingin dekat dengannya.
Katanya tadi, ternyata ia sudah memperhatikanku dari lama. Mengamati bagaimana aku menjalani kehidupanku dan katanya aku sangat cocok untuk bekerja di perusahaan yang dipimpinnya kali ini. Aku amat yakin bahwa perusahaan yang dipimpinnya merupakan perusahaan yang amat besar. Dan untuk seorang sepertiku, kesempatan seperti ini hanya terjadi sekali seumur hidup. Memang Lucy belum menjelaskan apa perkerjaanku dan bergerak di bidang apa perusahaannya. Namun dari penampilannya aku amat yakin bila aku mengikuti wanita ini, hidupku akan berkembang melesat dengan cepat.
Walaupun aku baru bertemu dengannya kali ini, tapi hanya dalam waktu setengah jam ia sepertinya berhasil meyakinkan diriku bahwa aku harus segera menyambut penawaran menariknya. Namun sebelum aku dapat menjawabnya, telepon genggam wanita tersebut berdering lalu dengan segera ia mengangkatnya. Beberapa menit ia bercakap dengan seseorang di ujung telepon, dari intonasi bicaranya, sepertinya orang yang sedang meneleponnya ini adalah seseorang yang sangat diseganinya. Selagi bercakap-cakap ia berkali-kali memandang ke arahku. Aku mengira sepertinya mereka sedang membicarakanku atau mungkin sedang membicarakan perihal lowongan pekerjaan di perusahaan mereka.
Ia menatap mataku, menghembuskan nafasnya lalu berujar, “ Sepertinya sebelum kau menerima penawaran ini, atasan saya hendak bertemu denganmu terlebih dahulu.”
“ Atasan anda?” tanyaku penuh ragu. “ Ingin bertemu dengan saya?”
“ Yup!” balasnya segera.” Sepertinya Beliau tidak mempercayai penilaian saya tentang dirimu. Dia ingin menilai dirimu secara langsung.”
Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Aku rasa, aku bukanlah seorang yang mempunyai hal istimewa apapun. Aku juga yakin seumur hidupku sampai sekarang ini prestasi terbaikku hanyalah pada saat aku memenangkan kejuaraan berpidato pada saat kelas 1 SMP dulu, selebihnya aku hanya orang biasa-biasa saja. Apa sebenarnya yang dilihat oleh perusahan ini?
“ Tenang saja. Tidak usah takut.” Wanita itu mencoba menenangkanku,” Beliau adalah pribadi yang sangat luar biasa. Saya yakin hampir semua manusia yang ada di bumi ini akan berusaha menjadi teman terdekat atasanku.”
Aku berpikir sejenak kemudian kembali bertanya,” Lalu apa yang harus saya lakukan nanti?”
Ia tertawa kecil kemudian kembali mencoba menenangkan ketidak percaya dirianku, “ Beliau sangat baik kok. Tapi ada satu hal yang harus kuingatkan padamu.” Ia diam sejenak, menatapku serius kemudian kembali melanjutkan,” Beliau akan membujuk dirimu agar tidak bergabung dengan timku. Kamu jangan tertipu dengan segala ucapan yang nanti Beliau akan katakan. Beliau hanya ingin menguji integritasmu saja. Hal itu wajar menurutku. Seluruh pegawai kami adalah pribadi-pribadi yang penuh dengan integritas. Setiap dari kami melakukan pekerjaan ini dengan sepenuh jiwa kami. Tak boleh ada keraguan sama sekali.”
Aku menundukkan kepalaku sejenak,berpikir tentunya akan sangat berbeda keadaannya bila atasan wanita ini yang mewawancaraiku sebelumnya. Proses wawancaranya pasti akan lebih serius dan menegangkan dari yang sekarang ini. Walau wanita ini terus berusaha untuk meyakinkanku untuk tenang, namun aku tetap tidak bisa menutupi kegugupanku. Bagaimana tidak aku hanyalah seorang buruh pabrik, bertemu dengan wanita ini saja mungkin merupakan pengalaman yang cukup menegangkan untukku apalagi bertemu dengan atasan wanita ini yang juga pemilik dari perusahaan yang menawarkannya sebuah pekerjaan.
Aku memandang wajah cantik itu sekali lagi. Aku sangat yakin bahwa Lucy sangat berkeinginan merekrutku masuk bergabung ke dalam timnya. Namun aku juga belum tahu bagaimana hasilnya nanti karena semuanya bagaimana keputusan sang empunya perusahaan nantinya. Tanpa sadar tubuh ini menarik nafas panjang sekali lagi, hatiku sangat berkeinginan untuk bergabung dengan wanita ini, namun sepertinya tubuh ini mengenal kapasitas diriku yang sebenarnya. Aku hanyalah seorang pemuda dengan pendidikan yang sangat pas-pasan, bekerja di sebuah cubical kantor yang sempit saja merupakan sebuah fantasi yang luar biasa bagiku apalagi bisa bergabung dengan sebuah perusahaan raksasa seperti yang tadi telah disampaikan. Semua ini tampak tidak nyata untuk seseorang seperti diriku.
“ Jadi kamu tidak usah takut ya!” ucap wanita itu sambil terus tersenyum, “ Beliau pasti melihat bakat terpendam yang ada di dalam kamu. Yang harus kamu lakukan hanyalah menunjukkan tekad untuk segera bekerja bergabung dalam tim saya.”
“ Kapan saya bisa bertemu dengannya?” tanyaku pelan.
“ Kamu tunggu saja. Beliau sendiri yang akan menemuimu nanti.” Jawabnya lembut. Ia berdiri sambil memberikan tangannya.” Sampai bertemu lagi. Besar keinginan saya untuk bekerja sama denganmu.”
Aku segera berdiri lalu menjabat tangan itu. Tersenyum sambil berujar,” Tolong doakan saya. Semoga saya tidak akan mengecewakan anda dan atasan anda.”
Tanpa bicara ia membalas ucapanku tersenyum sambil menatapku yakin. Keyakinannya mudah-mudahan dapat meningkatkan kepercayaan diriku saat berhadapan dengan atasannya nanti. Aku juga yakin bahwa Lucy bukan orang biasa. Umurnya sepertinya seumuran denganku, tapi tingkat kematangannya sungguh jauh dia atas diriku. Kekagumanku meluap-luap saat berhadapan dengannya, bahkan kali ini aku merasa tidak ingin meninggalkannya. Namun sepertinya ia mempunyai tugas selanjutnya setelah ini, sedangkan aku harus mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan atasannya.












