Terpana dan Ter-influence
Seketika gue langsung suka sama genre musik yang diusung oleh Goodnight Electric. Dari segi musikalitas, ‘GE’ biasa gue menyingkatnya, menyuguhkan ornamen suara yang fresh dan terdengar baru, setidaknya untuk telinga gue waktu itu. Dari lagu berjudul ‘Am I Robot?’ beserta video music-nya, membuat gue tergugah nge-dalamin dan nyari tahu band ini sebenarnya apa dan siapa di baliknya.
15 tahun yang lalu…
Buat anak kelas 1 SMP, bebunyian synthesizer menjadi daya tarik tersendiri. Di samping itu, aksi panggung tiga orang nyentrik ini: Henry ‘Batman’ Fundation (vocal), Oomleo dan Bondi ‘Goodboy’ (synth) rasanya rame banget, udah kaya format full band. Sepanjang yang gue tahu, GE ini termasuk salah satu band yang sukses menarik brand fashion baik lokal ataupun internasional untuk ngedukung penampilan mereka. Brand Adidas misalnya, dengan lini tracktop-nya jadi saksi bisu jogetan eksentrik mereka di atas panggung yang terekam kamera foto ataupun video liputan majalah atau zine yang ternama saat itu. Beberapa zine itu sebagian kini tidak lagi eksis.
Terus terang gue belum pernah menyaksikan langsung penampilan live mereka. Selain gue masih sangat bocah saat itu, beberapa venue tempat GE manggung seinget gue awal-awal banyak dihelat di pub, bar, atau lounge dan sebagainya. Di awal kemunculannya, mereka besar di tempat-tempat yang asing buat gue. Gue banyak tahu informasi jadwal manggung dan seluk beluk lainnya, selain dari majalah atau zine yang di-supply sama kakak perempuan gue (secara usia dia beda enam tahun di atas gue, kira-kira waktu itu dia udah SMA). So, ini lumayan membantu gue untuk dapetin informasi dan update tentunya.
Sebagai gambaran, sekira tahun 2005-2007 tuh pensi yang diadain sama sekolah-sekolah Jakarta lagi seru-serunya. Cara mereka promosiin pensinya tentu ngga sama kaya saat ini yang ngandelin sosial media. Dulu itu, kekuatan desain flyer atau pamflet acara musik beserta line-up para artis yang bakal tampil jadi ‘kunci’. Papan mading (majalan dinding) di sekolah-sekolah itu selain berisi informasi seputar akademik (jadwal remed ujian misalnya hehe), juga banyak sekali bertumpuk flyer pensi yang rata-rata sekolahan Jakarta. Dulu di sekolah gue terbilang ngga banyak yang nempelin sih, dan lagi-lagi gue sering dapat oleh-oleh dari kakak perempuan gue sepulang sekolahnya. Dapat flyer dan dikoleksi aja udah seneng rasanya hehe.
Band skena musik Indie memang dibesarkan dan diuntungkan dengan masifnya pensi di sana-sini. Kalau masih ingat, dulu itu ada program MTV di Global TV kalo ngga salah, bahkan ngga ragu buat masukin mereka ke chart tangga lagu. Selain itu, tontonan gue sepulang sekolah, sebuah acara di TVRI yang gue lupa nama programnya, nampilin video music band-band dari skena Indie. Jam tayangnya itu sekitar maghrib sampai jam 7-an malam, ya sebuah waktu yang tidak pas sih karena harus mengadu antara iman dan nafsu untuk nonton hehehe. Entah kenapa, di sini ngga pernah sekalipun video music GE ditayangin. Padahal band-band lainnya lahir dari circle yang sama. Yang selalu diputar setiap pekannya, antara lain The Adams, Sore, White Shoes and The Couples Company, Rock N Roll Mafia, Zeke and The Popo, The Brandals, dll.
Pertengahan 2008…
Gue sempet nge-band dan bawain lagu-lagu ber-genre emo. Secara waktu, musik emo emang lagi hits di tahun-tahun ini. Lagu-lagu ini pun tersebar antar satu handphone ke handphone lainnya lewat sambungan bluetooth. Sampai di mana gue diajak untuk ngisi vocal ngebawain dua lagu My Chemical Romance (MCR) yang judulnya ‘I Don’t Love You’ dan ‘Famous Last Word’. Kali pertama gue manggung, waktu itu di acara perpisahan sekolah. Selain bawain MCR, gue juga bawain lagu band Ungu – Berikan Aku Cinta. Sedap ngga tuh hehe.
Lingkungan di sekitar gue memang demam dengan band emo khususnya dari luar negeri. Gue saat itu masih terjebak ngedengerin GE album Love and Turbo Action. Musik dan lirik yang ‘dalam’ di track ‘Rocket Ship Goes By’ masih belum ada yang bisa ngalahin menurut gue, timeless banget. Ditambah gue baru aja nge-akuisisi album kedua GE bertajuk Electroduce Yourself yang gue beli versi cassete tape. Gue masih mengenang gimana cara gue membeli kaset itu. Sore hari setelah mandi, gue menggowes sepeda BMX merah dari rumah ke daerah Pamulang XXI (dulu masih ada bioskop ikonik di Pamulang Tangerang Selatan :D). Dari etalase, sorot mata gue udah ngincer kaset GE untuk bisa gue bawa pulang. Sayangnya, kaset itu hilang tapi case beserta artwork albumnya masih ada saat ini.
Nyokap, adik dan kakak perempuan gue barangkali sampe muak ketika gue setel lagu ini pakai cassete tape jadul kesayangan bokap gue (keluarga gue nyebut cassete tape ini dengan sebutan ‘salon’, entah ini istilah yang lazim di Jawa kali ya). Saking seringnya, mereka sampai hafal dan bisa menyanyikan sepenggal track ‘Lasergun Electroboy’, salah satu track yang jadi single di album Electroduce Yourself. Album ini rilis tepatnya di 2007, gue lagi-lagi ngga kesampean untuk nonton launching-nya karena klo ngga salah venue yang dipilih di Embassy Jakarta. Selain ngga ada temennya, gue yang masih SMP ngga berani sendirian nonton hehe.
Penghujung 2011…
Ini kali pertama gue menikmati GE secara live. Panggung ini kerasa sepi, ngga banyak penonton, mungkin jam perform-nya yang ngga pas habis maghrib, jam orang lagi pada break makan setelah salat. Oh ya, ini adalah event yang jadi saingan acara clothing tahunan di Senayan gitu, namanya ‘Market Place Jakarta’. Selain gue mau lihat GE, di sini juga ada kompetisi fixed gear freestyle (FGFS) yang sempet hype pada saat itu. Dari acara ini pula, awal mula gue mulai tertarik memproduksi pakaian jadi karena gue dipertemukan tanpa sengaja dengan orang yang membuka jalan dan pengetahuan gue di bidang ini (insyaAllah gue akan cerita nanti hehe).
Kembali ke aksi panggung GE, gue cukup menikmati keseluruah penampilannya dan ngga ada complain. Mereka bawain full album Electroduce Yourself yang keseluruhan track udah terinternalisasi di telinga gue hehe. GE juga bawain single barunya ‘Teenage Love and Broken Hearth’ yang mana dirilis pertengahan 2010. Mungkin itu panggung GE terakhir karena setelah panggung itu, GE hanya sesekali aja muncul di panggung atau gigs kecil, misalnya waktu GE ngerilis album Love and Turbo Action dalam format vinyl tahun 2015, rangkaian Radio Rock Tour (event garapan Ruru Radio) tahun 2016, 12 Tahun Album Matraman milik The Upstairs, dan momentum kebangkitan GE lewat pameran arsip GE (2004-2012) dan peluncuran album “The Electronic Renaissance”, yang berisi single b-side, demo track, serta kolaborasi dan remix pada April 2018 di Jakarta.
Hampir kelupaan. Sekitar tahun 2012, itu gue sempat ikut nongkrong sekali sama anak-anak ‘Good Friends’, sebutan bagi fans GE, di daerah Jaksel untuk ngomongin rencana buat ngadain acara kecil sebagai ajang silaturahmi buat GE dan para fans-nya. Di hari H, sayangnya gue yang entah lagi ada ujian atau apa malah ngga jadi datang ke acaranya, sayang banget. Acara ini diberi nama Good.Team “Friends Night” yang waktu itu volume ke-5 di daerah Kuningan – Jaksel. Beruntung gue menemukan arsip foto acara itu di sini. Terima kasih buat yang telah mendokumentasikan :D.
Well, kurang lebih itu sekelumit cerita tentang GE yang buat gue pribadi kaya jadi ‘pintu masuk’ buat gue ke skena Indie tanah air hingga saat ini. Oh ya, gue juga sempet menikmati genre musik lain misalnya di tahun 2008-an di mana saat itu Pee Wee Gaskins dan rekan-rekannya seperti Killing Me Inside, Sweet As Revenge, Thirteen, dll berhasil mengalihkan perhatian gue sejenak dari GE. Tahun 2008-2011-an itu adalah fase di mana gue mencari musik mana yang pas untuk gue. Seperti di tahun 2009 – 2011 awal, gue sempet bergabung di band metal namanya Extincion. Beberapa kali gue manggung di gigs seperti Rossi Fatmawati atau SS Pamulang.
So, ketertarikan gue dengan GE akhirnya membawa gue jatuh lebih dalam menyenangi dan mendalami jenis musik yang ‘beda’. Saat gue menyenangi band-band Indie ini, gue sembari belajar gimana band-band ini tumbuh dan besar. Di era yang pada waktu itu internet belum tumbuh seperti sekarang ini, mereka sudah bisa mengepakkan sayap selebar ini, salut!. Dari pengamatan gue pribadi, gue belajar dari mereka bahwa dari passion, mereka bisa bertahan hidup hingga saat ini. Idealisme itu bahkan masih gue rasakan hingga sekarang dan meng-influence gue untuk tetap memegang teguh keyakinan sesulit apapun kondisinya…
(Foto ini gue ambil saat pameran dan peluncuran album The Electronic Renaissance di Gudang Sarinah Ekosistem, April 2018)
















