Tidak ada takdir yang salah, aku tidak menyesal pernah memilihmu dan menjalani rumahtangga denganmu, menjadi bagian dari keluarga mu, tapi aku akan menyesal jika tetap berdiam dijalan ini dan menyiksa diriku sendiri didalam ikatan ini.
Semua usaha sudah ku lakukan, segala langkah sudah ku ambil untuk memperjuangkan dan memperbaiki, tapi tak ada perubahan darimu, segala salahmu sudah ku maafkan meski tak mungkin untuk aku lupakan.
Caraku mendo'akanmu sudah tak lagi sama, aku tak berputus asa untuk berdo'a, namun aku tau tak semua do'a yang aku panjatkan selalu Allah kabulkan, Allah tahu yang terbaik, Allah tampakkan cahaya petunjukNya.
komunikasi kita sudah seperti orang asing, aku seperti mengejar kelinci yang terus berlari, akhirnya aku lelah dan menyerah.
Memang, Allah tidak menyukai perpisahan, Namun kita terus menerus menumpuk dosa, pahala-pahala yang aku harapkan untuk bisa didapat dengan hanya hal-hal kecil yang dilakukan bersama setelah menikah ternyata tak mudah.
Saat aku ingin terus bertahan, ku fikir apa yang sedang aku pertahankan, tak ada cinta, perhatian, bimbingan apalagi uang, hanya bertahan demi anak itu bukan sebuah pilihan jika anakku pun tak merasakan bahagia darimu.
semoga keputusan ini terbaik untuk kita, kamu bisa belajar untuk berusaha bertanggungjawab atas kewajibanmu sebagai seorang Ayah, cukup itu saja, semoga kamu bisa belajar untuk bersyukur dan mengupayakan sebaik mungkin untuk memenuhi tanggungjawabmu.
Terimakasih atas semuanya, dan maaf untuk segalanya.









