Ketika pelajar Jepang dibuat takjub dengan cita-cita besar pelajar Indonesia, saya dibuat takjub dan seketika merasa kecil ketika tahu kesederhanaan cita-cita siswa-siswi Jepang pada masa itu.
Saya jadi ingat pengalaman tujuh tahun lalu ketika mendapat kesempatan menjadi salah satu peserta program pertukaran pelajar ke Jepang lewat program Jenesys. Saya bersama sekitar seratusan siswa lain ditempatkan ke dalam beberapa kelompok sesuai daerah tujuan. Saya kebagian kelompok Hyogo- Maiko, dengan basis kegiatan di kota Kobe.
Salah satu kegiatan yang berkesan adalah ketika kami, siswa-siswi Indonesia diberi kesempatan untuk berbagi cita-cita bersama siswa-siswi dari salah satu sekolah negeri di Jepang. Kami ditempatkan dalam sebuah ruang kelas besar, lalu saling tanya jawab dengan pihak sekolah (menggunakan Bahasa Inggris, dan yes, mereka takjub dengan kemampuan Bahasa Inggris orang Indonesia). Di akhir pertemuan, kami saling bertukar cita-cita.
Sebagian besar pelajar Indonesia dengan gegap gempita bercerita tentang cita-cita mereka: Pengusaha, wanita karir, pejabat, politisi, diplomat. You named it. Saya masih ingat bagaimana respon guru-guru dan pelajar Jepang: takjub! Bagi mereka, Indonesia memiliki masa depan yang cerah karena anak mudanya punya cita-cita yang besar. Namun, ketika giliran pelajar Jepang berbagi cita-cita, saya balik melongo mendengarnya.
Ketika pelajar Jepang dibuat takjub dengan cita-cita besar pelajar Indonesia, saya dibuat takjub dan seketika merasa kecil ketika tahu kesederhanaan cita-cita siswa-siswi Jepang pada masa itu: Pemadan kebakaran, pendidik, dan guru TK, adalah beberapa banyak profesi yang saya ingat disampaikan oleh mereka, termasuk host brother saya saat itu. Ketika ditanya kenapa, alasan mereka juga sederhana: Saya suka anak kecil dan berbagi cerita, ayah saya adalah seorang pemadam kebakaran yang keren, saya ingin berguna bagi orang lain. Yap, sesederhana itu. Bagi mereka, semua profesi itu terhormat selama berguna untuk orang lain.
Mungkin kita bisa berkilah: Ah, Jepang adalah negara maju, ah Jepang kesenjangan sosialnya rendah, Ah Jepang masyarakatnya bla bla dan bla bla. Tapi saya menulis ini tidak untuk berbicara batasan, tapi kesempatan untuk menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Pengalaman berharga ini mengingatkan saya bahwa kebaikan bisa datang dari mana saja, bahwa tidak ada profesi besar atau kecil, bahwa kita tidak harus besar untuk menjadi berguna, bahwa anak-anak dengan cita-cita sederhana bisa memberi perubahan yang besar.
Ah, saya kangen kembali ke sana. Saya kangen bercita-cita dengan sederhana.
Kobe, Juli 2010.
Mohon maaf foto-fotonya ga se-HD zaman sekarang, maklum kejadiannya 2010.
Foto-foto ini diambil oleh rekan saya, Mega Kurniadini: https://www.facebook.com/dheedeye/media_set?set=a.1531119125158.67503.1450159211&type=3#