seen from Italy
seen from China
seen from Japan
seen from Germany
seen from United States
seen from Italy

seen from United States
seen from Bulgaria
seen from Spain

seen from Russia
seen from Lithuania

seen from Albania
seen from Russia

seen from Russia

seen from Germany
seen from Hong Kong SAR China

seen from Uruguay

seen from Australia

seen from Belgium
seen from China
0
Masalah saya dalam menulis pada umumnya adalah kemalasan dan ketidak-percayaan-diri. Yang pertama tidak usah kita bahas karena tidak menarik dan klise. Alasan kedua juga tidak menarik tapi ingin saya bahas (lho, haha). Acapkali ketika menemukan sesuatu yang menarik, saya tidak sabar ingin menuangkannya dalam tulisan. Jadilah saya membuka blog dan mulai mengetik. Selang beberapa baris, ketikan saya terhenti karena writer's block. Bingung bagaimana mengelaborasi tulisan tersebut jadi sesuatu yang menarik, maka saya klik tombol "draft" dan saya putuskan untuk berhenti dahulu sembari berharap saya bakal dapat wangsit untuk melanjutkan tulisan tersebut.
Tentu saja menunggu wangsit adalah hal yang sia-sia. Yang justru terjadi adalah : beberapa hari setelahnya saya membuka kembali draft tulisan saya, membacanya ulang, sedikit mengernyitkan dahi, lalu bergumam "kenapa saya nulis sampah begini" lalu bergegas membuang tulisan tersebut. Saya sering merasa bahwa tulisan saya tidak cukup menarik untuk kategori daily life, terlalu dangkal untuk membahas hal-hal yang berat, tidak lucu untuk masuk kategori komedi, dan tidak puitis untuk menyentuh hati orang. Pun ketika menulis ini, saya berpikir untuk membuangnya lagi karena saya berpikir "kenapa pula saya menulis tentang kebingungan saya menulis". Benar-benar tidak ada faedahnya.
Namun kemudian saya berpikir, siapa pula orang yang membaca di sini? kenapa repot sekali harus memikirkan tulisan ini harus ada maknanya. Toh nggak semua hal di dunia ini punya arti. Seperti fungsi pentil pada laki-laki contohnya. Cuma nangkring di buah dada tanpa saya tahu fungsinya. Keluar susu nggak bisa, dilihat pun tidak menarik. Tapi dia ada. Jadi saya anggap saja tulisan saya seperti pentil laki-laki. Ada namun nggak harus punya fungsi. Toh satu dari satu orang yang berkunjung di website ini adalah saya sendiri jadi kenapa pula saya pusing?
Bawa aku... . . . Bawa aku kemanapun... Kemanapun, asal itu menenangkan hati menyejukkan jiwa dan melebur segala angan dan janji-janji yang semu. Bawa aku kemanapun... Kemanapun, ketempat dimana ragaku tak ingin pergi dan imajinasiku hilang... . . . Bawa aku... #tidakjelas #asalkata https://www.instagram.com/p/BsbIfmSAFJF/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1e3wj21z3hqrj
Selamat Hari Batik Nasional Kuucapkan di tengah awan yang tak kuasa membendung keinginan hujan untuk bertemu Bumi Ketika tumbuhan mendapat nutrisi untuk hidup Ketika lampu penerangan kelas mulai dimatikan Ketika mahasiswa baru bersuka cita magang di LK pilihannya Ketika ada orang yang ingin pulang tetapi hujan Ketika aku sendiri menatap indahnya langit Untukmu, seseorang yang kutunggu dari Lauhul Mahfudz. Ah apakah engkau mengucapkan salam ini kepadaku? Mungkin iya, tetapi seringnys kau jawab dengan tidak #belajarmenulis #tidakjelas #selamatharibatiknasional #2oktober (di Gedung G FKM UI Depok)
They Said = Katanya
Katanya
Semua orang itu memiliki takdir yang ditentukan, semuanya telah ditentukan
Katanya
Aku tidak bisa melakukan ini, itu, semua hal tersebut
Katanya
Sebuah tembok tak terlihat itu selalu ada
Katanya
Orang lain itu merupakan penilai, kita adalah peserta
Katanya
Semua itu hanyalah kata-kata, opini khayalak luas. Karena semua orang bebas beropini, dan haram menjerat.
Bergelut dengan rindu yang tak kunjung temu, makin menumpuk hingga menjadi pupuk; yang harusnya menyuburkanmu.
Tumbuh karena rindu yang telah bau.
.
Ceritanya kepingin nulis, tapi gak tau apa yang mau ditulis. Yaudah ngetik aja ngalor-ngidul sambil dengerin lagu melankolis. Ya kali aja ntar keluar ide buat ngetik pengalaman sok romantis. Tapi sayang, kisahnya tragis. Udah deh gak jadi nulis. Ngapain ya gais?
Aha, pasang status agamis! Ah tapi ntar dituduh teroris. Emang sih setelanku klimis. Tapi ya kali, tega nian buat ngebom orang yang belum tentu sinis.
Malam yang gerimis nan tiris emang enaknya cukur kumis. Eh, bukan maksudnya ngemil malk*st. Gula-gulanya itu duh bikin melayang sampe ke Atlantis. Ya kalo gak kesampean, minimal boleh Prancis. Kan keren tuh kesana, foto-foto pake setelan Necis?
Aku gak terlalu suka buncis. Iya tau ini gak penting bro, sis. Tapi ya seenggaknya peduli atuh sama aku teh yang telah ditinggal dengan sadis. Ceilah curhat mulu dah bang kumis.
Iya, iya deh iya bukan ditinggal dengan sadis, tapi menggantungkan tanpa harapan optimis. Iya aku tau persis. Udah deh jangan bahas kayak gituan mulu, mending kita narsis. Ini kan lagi jamannya ya gais?
Kelewat fatal nih zaman sampe waktu tatap muka aja abis. Kepala bisanya cuma nunduk doang, geser-geser layar pasang foto yang paling manis. Idih, kalo kata pelawak sih itu namanya najis. Tapi emang bener ini zaman lagi serba-praktis. Sampe aku juga kadang-kadang suka gitu sih, persis.
Belum lagi tuh pejabat-pejabat oportunis. Katanya mau bela rakyat, ada sama rakyat, eh diminta kunjungan ke daerah alasannya lagi ada urusan bisnis. Mau melayani atau mau kita iris-iris?
Korupsi juga bikin idung kembang-kempis. Kayak lagi nahan pipis. Milyaran duit digarong tanpa permisi sampe abis. Duh, ini zaman bener-bener bikin miris.
Makanya gak salah kalo kebanyakan kita malah apatis. Terus kalo semuanya apatis, siapa yang mau ngerubah keadaan jadi lebih humanis? Aku juga ini teh ngetik gak jelas rimbanya sok-sok puitis.
Ah, sudahlah aku kehabisan diksi, Bung dan Nona. Lain malam kita lanjut saja ya dengan ketikanku yang mahagakjelas ini.
Kalau mengerti, anggukkan kepala Anda. Kalau nggak, baca lagi dari awal. Bye!
Indahnya Bahasa Indonesia.
Bandung, 26 Desember 2014
Tsunami telah berlalu, tapi kamu? Akan ada selalu, disana. Bukan disini
(Membaca tulisan ini menyebabkan gangguan sudut pandang dan penilaian terhadap sosok penulis. Biarkan saja, sedang mencoba 'warna' yang lebih humoris. Sampai jumpa)
Sebentar saja, Ingin menghela nafas berkali kali, Untung saja kesadaran ini tingkat tinggi, Menyimpan duri terlalu lama suatu ketika akan melukai. Harusnya tak mendekat jika tak berani, Tak memberi jika tak mau membagi.. Ini hati tak setebal baja, Hany saja ia setebal pengalaman hidupnya.