0
Masalah saya dalam menulis pada umumnya adalah kemalasan dan ketidak-percayaan-diri. Yang pertama tidak usah kita bahas karena tidak menarik dan klise. Alasan kedua juga tidak menarik tapi ingin saya bahas (lho, haha). Acapkali ketika menemukan sesuatu yang menarik, saya tidak sabar ingin menuangkannya dalam tulisan. Jadilah saya membuka blog dan mulai mengetik. Selang beberapa baris, ketikan saya terhenti karena writer's block. Bingung bagaimana mengelaborasi tulisan tersebut jadi sesuatu yang menarik, maka saya klik tombol "draft" dan saya putuskan untuk berhenti dahulu sembari berharap saya bakal dapat wangsit untuk melanjutkan tulisan tersebut.
Tentu saja menunggu wangsit adalah hal yang sia-sia. Yang justru terjadi adalah : beberapa hari setelahnya saya membuka kembali draft tulisan saya, membacanya ulang, sedikit mengernyitkan dahi, lalu bergumam "kenapa saya nulis sampah begini" lalu bergegas membuang tulisan tersebut. Saya sering merasa bahwa tulisan saya tidak cukup menarik untuk kategori daily life, terlalu dangkal untuk membahas hal-hal yang berat, tidak lucu untuk masuk kategori komedi, dan tidak puitis untuk menyentuh hati orang. Pun ketika menulis ini, saya berpikir untuk membuangnya lagi karena saya berpikir "kenapa pula saya menulis tentang kebingungan saya menulis". Benar-benar tidak ada faedahnya.
Namun kemudian saya berpikir, siapa pula orang yang membaca di sini? kenapa repot sekali harus memikirkan tulisan ini harus ada maknanya. Toh nggak semua hal di dunia ini punya arti. Seperti fungsi pentil pada laki-laki contohnya. Cuma nangkring di buah dada tanpa saya tahu fungsinya. Keluar susu nggak bisa, dilihat pun tidak menarik. Tapi dia ada. Jadi saya anggap saja tulisan saya seperti pentil laki-laki. Ada namun nggak harus punya fungsi. Toh satu dari satu orang yang berkunjung di website ini adalah saya sendiri jadi kenapa pula saya pusing?
















