Yakin, Walaw kami memulainya dari bawah. Pria ini dengan dukungan dan kesabaran wanitanya akan melesat tinggi baik karir, pengalaman, ilmu agama, Dan akhlaknya..

ellievsbear
Phantogram Three
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Sade Olutola
The Bowery Presents
Fai_Ryy

izzy's playlists!
One Nice Bug Per Day
Cosmic Funnies
$LAYYYTER
macklin celebrini has autism
Interview Vampire Daily
No title available
ojovivo

@theartofmadeline
🪼
Cosimo Galluzzi

Jar Jar Binks Fan Club

#extradirty
seen from United States
seen from United States

seen from Libya

seen from Canada
seen from India

seen from India

seen from Türkiye
seen from Mexico

seen from United Kingdom

seen from Brazil

seen from United States
seen from Kenya
seen from Maldives

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from France
seen from United States

seen from Colombia

seen from Malaysia
seen from United States
@samudralangit
Yakin, Walaw kami memulainya dari bawah. Pria ini dengan dukungan dan kesabaran wanitanya akan melesat tinggi baik karir, pengalaman, ilmu agama, Dan akhlaknya..
اليوم العالمي للمرأة ..
اليوم العالمي للمرأة ..
bukankah hijrahnya diri itu ikhlas karna yang di Atas, tiada kepentingan pribadi di dalamnya, bahkan untuk meminta balasan atas hidayah yang diberi sangat tidak pantas.
Yang sekarang ini semuanya ilusi, sementara, fatamorgana. Kita bisa ikhtiar semaksimalnya sedang garisan takdir sudah tertulis sejak dahulu.
فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
-Surat Hud, Ayat 49
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,
-Surat An-Najm, Ayat 39
JANGAN BERSEDIH...
Seorang lelaki yg sedang dirundung kesedihan datang menemui shahabat Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu, ia pun berkata ;
“Wahai Amirul Mukminin, aku datang kepadamu karena aku sdh tdk mampu lagi menahan beban kesedihanku.”
Ali Radhiyallahu anhu menjawab, “Aku akan bertanya dua pertanyaan dan jawablah !”
Lelaki itu berkata, “Ya, tanyakanlah !”
“Apakah engkau datang ke dunia bersama dengan masalah-masalah ini?”
“Tentu tdk” jawabnya.
“Lalu apakah kau akan meninggalkan dunia dengan membawa masalah-masalah ini?” tanya Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu
“Tidak juga” jawabnya.
Lalu Sayidina Ali berkata, :
“Lalu mengapa kau harus bersedih atas apa yg tdk kau bawa saat datang dan tdk mengikutimu saat kau pergi?”
“Seharusnya hal ini tdk membuatmu bersedih seperti ini.
Bersabarlah atas urusan dunia. Jadikanlah pandanganmu ke langit lebih panjang dr pandanganmu ke bumi dan kau pun akan mendapat apa yg kau inginkan.
Tersenyumlah ! karena rizkimu telah dibagi dan urusan hidupmu telah diatur.
Urusan dunia tdk layak utk membuatmu bersedih semacam ini krn semuanya ada di tangan Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur.”
Kemudian Sayidina Ali bin Abi tholib meneruskan ungkapannya,
“Seorang mukmin hidup dlm dua hal, yaitu kesulitan dan kemudahan.
Keduanya adalah nikmat jika ia sadari.
Dibalik kemudahan ada rasa syukur. Sementara Allah berfirman,
“Allah akan Memberi balasan kpd org yg bersyukur.” (QS.Ali Imran: 144)
Dan dibalik kesulitan ada kesabaran. Allah berfirman,
“Hanya orang2 yg bersabarlah yg disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS.Az-Zumar: 10)
Bagi seorang mukmin, kesulitan dan kemudahan adalah ladang utk menabung pahala dan hadiah dari Allah Subhanahu wa ta'Ala
Mari kita perbaiki hati..
Barokallahufikum.
Kuala lumpur , Malaysia.
22 Desember 2015.
Ust. Syuhada Hanafi,
Founder CRS
Ibn Al-Qayyim reported: Sheikh Ibn Taymiyyah, may Allah have mercy on him, said to me, “What can my enemies do to me? My paradise and my garden are in my heart. They are with me wherever I go and they never leave me. If I am imprisoned, then it is seclusion for worship. If I am killed, then it is martyrdom. If they expel me from the land, then it is tourism.”
Source: al-Wābil al-Ṣayyib 1/48
_ عن ابن القيم قَالَ وَقَالَ لِي شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ رحمه الله مَرَّةً مَا يَصْنَعُ أَعْدَائِي بِي أَنَا جَنَّتِي وَبُسْتَانِي فِي صَدْرِي أَيْنَ رُحْت فَهِيَ مَعِي لَا تُفَارِقُنِي أَنَا حَبْسِي خَلْوَةٌ وَقَتْلِي شَهَادَةٌ وَإِخْرَاجِي مِنْ بَلَدِي سِيَاحَةٌ
1/48 الوابل الصيب من الكلم الطيب
Pilih Baju atau Buku??
As-Sakhawi dalam bukunya Adhau’ Al-Lami’ menegaskan profil singkat ahli bahasa, Imam Muhammad ibn Ya’qub Fairuz Abadi bahwa beliau menyeleksi buku-buku yang berharga. Sebagaimana sebagian orang pernah mendengarnya berkata, “Aku telah membeli berbagai buku seharga 50.000 mitsqal emas (Rp 21 Milyar 250 Juta). Meski buku-buku itu harus diangkut beliau tetap membawanya ketika berpergian. Setiap beliau singgah di suatu tempat, tak lupa beliau keluarkan buku-buku itu untuk dibaca. Dan apabila hendak melanjutkan perjalanannya beliau pun menaruh buku-buku tersebut ke tempat semula.”
Sederhana itu mulia. Sebab ia dihias rasa cukup tanpa selalu merasa kurang. Kehidupan kaum terpelajar pun seharusnya seperti itu. Agama yang jadi tuntunan mengajar akhlak ini. Penampilan yang rapi walau sederhana itu menarik. Tak perlu yang mewah untuk tampak sebagai kaum terpelajar. Yang harus dikayakan adalah akhlak dan ilmu.
Dewasa ini, sifat hedonis menjangkit kaum terpelajar hingga sampai pada titik yang sangat buruk. Alih-alih menghias diri dengan yang baik, tanpa sadar mereka sampai pada sifat boros dan berlebih yang sangat dicela Allah dan Rasul-Nya.
Di kalangan mahasiswi Islam hal ini tampak sangat mencolok. Tidak mengherankan seorang mahasiswi menamatkan pembelajaran selama empat tahun; jumlah sepatu dan baju jumlahnya berlipat-lipat dari jumlah bukunya. Fenomena ini menggambarkan satu lingkungan yang tidak pantas ada pada kaum terpelajar.
Dr. Abdul Karim Bakkar menggambarkan fenomena ini dalam salah satu bukunya,
“Sangat mengherankan seorang wanita barat lebih memilih sederhana dalam penampilan dan pakaiannya. Disaat yang sama perempuan muslimah menghabiskan pengeluaran yang banyak untuk itu, padahal seharusnya muslimah lebih berhak bersikap seperti itu.”
Menyisihkan sebagian uang bulanan untuk membeli buku terasa sangat berat jika dibanding dengan mengeluarkan uang beratus ratus ribu saat diskon di mal-mal. Sifat henonis di kalangan kaum terpelajar ini adalah hasil dari kurangnya peran kampus dan para guru untuk menghidupkan semangat ini. Ditambah lagi sekitar kampus dipadati dengan penjual baju dan aksesorisnya.
Pilih baju atau buku?
Baju yang ada cukuplah untuk dipakai walau sederhana. Memaksakan diri untuk terus mengikuti perkembangan trend dan style yang ada, hanya akan membuat kaum terpelajar itu semakin kehilangan indentitas dan tujuannya. Pahamlah bahwa ilmu yang ada pada diri seorang pelajar lebih dibutuhkan masyarakat dari penampilan yang harus selalu terdepan.
Pilih baju atau buku?
Pengetahun lah yang seharusnya terus diperbahurui. Itu di dapat dari membaca buku-buku yang mendukungnya. Pilih baju atau buku menentukan sikap kita yang sebenarnya dalam melalui perjalanan menunutut ilmu. Kaum terpelajar memilih baju yang rapi sederhana walau sudah lama dan menghabiskan banyak uangnya untuk terus menambah pengetahuan melalui buku-buku bacaannya.
Hidupnya penunut ilmu ada pada tumpukan buku, bukan ditumpukan baju dan sepatu.
Wallahu'alam bis shawab
Clingy
من اتخذ القرآن منهجاً أعطاه الله جميع العلوم. - ابن القيم
Whoever makes the Quran the curriculum of his life, Allah will bestow upon him all the sciences. ~Ibn al-Qayyim
Source: araseel, via IslamicArtDB
Adab dan akhlak
Prof. Al.attas menyebutkan istilah pendidikan sebagai Tadib. Dimana tujuan pendidikan itu adalah membentuk manusia yang beradab dan kata pendidikan sendiri digunakan hanya untuk manusia.
Secara simpel perbedaan adab adan akhlak itu erat kaitannya dengan ilmu. Jika akhlak adalah sesuatu yang memang melekat pada diri seseorang sehingga melakukannya tanpa kesadaran (spontanitas).
Sedangkan adab terdapat basic ilmu di dalamnya, sehingga dalam kitab-kitab tidak ada judul “akhlak ke dalam wc, akhlak terhadap pasangan, akhlak terhadap orang tua… melainkan adab ke dalam wc dan seterusnya.” Olehkarenanya adab tidak melulu dilakukan dengan spontanitas, terkadang dilakukan dengan kesadaran atas dasar ilmu yang sudah dipelajari.
Prof. Al.Attas menyimpulkan bahwa adab merupakan bagaimana menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Didalamnya terdapat hieraki dan jenjang-jenjang dalam mempraktekkannya.
Misalkan saja manusia, baik dalam hal spiritual, keilmuaan, dan material, seseorang mempunyai tempat-tempat yang sesuai dengannya.
Bagaimana murid memposisikan sebagai murid dan guru sebagai guru dan orang yang berilmu di posisikan sebagai orang yang berilmu.
Dan orang yg dapat menempatkan sesuatu pd tempatnya (berperan baik sesuai posisinya) dialah orang yg beradab.
#Pandangan Alam Islam
#Prof. Syaid. Naquib Al. Attas
#Pak Wendi Zarman
#sabtu 23 feb
#IamRoses
Kau tahu kenapa ketika melihat langit, hatimu terasa sejuk dan damai?
Sebab ketika dunia tak memberimu ruang, selalu ada ruang mengadu di langit.
Ketika yang di bumi tak peduli padamu, Yang di langit sangat-sangat menyayangimu.
—sebuah tulisan yang membuat saya diam, diam, diam dan seketika menjadi luruh. :’
Barakallaahu fyk, from snapgram @edgarhamas
Catatan Sang Musafir; Avi Zhahira Nida’