Entah untuk kesekian yang keberapa (?)
terimakasih telah hadir. Terimakasih telah memberikan begitu banyak pengalaman, kenyamanan, perhatian, dan segala sesuatu yang biasa teman (seharusnya kekasih) berikan.
hampir 1 tahun. Kebersamaan, kesedihan, kebagiaan, dan perasaan aneh apapun yang aku rasakan. Aku harap kamu paham.
selama ini, seperti aku yang mengharapkan dan kamu yang mengabaikan. Pernahkan kamu berfikir bahwa kepura-puraanmu itu menyakitkan?
jika dibolehkan, aku akan melemparimu banyak pertanyaan. Sungguh. Seperti . . apa artiku? siapa aku bagimu? apa arti perhatianmu selama ini? apakah kau juga melakukan hal yang sama ke perempuan lain?
tapi jika tak boleh, ijinkan aku untuk menanyakan 1 hal, perihal sebenarnya hatimu untuk siapa.
secara tidak langsung kau memberiku harapan. Kau timang lalu kau jatuhkan. Selalu begitu. Tapi sayang, tak pernah bisa aku bersikap benci dihadapanmu. (karna senyummu saja bisa selalu meluluhkan amarahku, sedahsyat itu) berlebihan~
bener kata bulek Hana, jika laki-laki seperti di doktin untuk tidak boleh menangis, maka perempuan harus menunggu, tak mungkin memulai duluan. Semenggelisahkan apapun penantian itu. Semenyakitkan apapun. Sepanjang apapun.
boleh aku bertanya kapan? atau sampai kapan? hufffftttttt rasanya aku tak sabarr !
sebenarnya inti dari kalimat panjangku adalah sebuah kepastian. Iya. Aku menanti itu. Entah untuk kesekian yang keberapa aku sisipkan dalam setiap kalimat-kalimatku saat berbincang denganmu. Tapi kamu........ah sudahlah~
sekarang, aku sedang menguatkan hatiku untuk memilih tetap menunggu, atau menyudahi semua harapanku. Untukmu.