Kunjungan
Yang duduk di ruang tamu adalah Owen, yang begitu melihat kedatangannya segera berdiri dan memberi salam. Walau begitu, biar wajah pria itu menunduk, ia bisa melihat sisa-sisa kekagetan yang berusaha disembunyikan.
"Tidak perlu kaku begitu."
"Maafkan saya, nyonya. Tapi kalau boleh tahu mengapa Anda..." Owen menelan ludah. Matanya bolak-balik melirik wajah Prim dan kursi roda yang dikenakannya.
"Kau mau menebaknya?"
Owen menggeleng. Entah tak punya keberanian menebak apa dan bagaimana Prim bisa duduk di kursi roda, atau memang tak bisa menyebutkan alasan yang tepat.
"Yah, tidak penting. Lagipula aku memintamu kemari bukan untuk ini."
"Maaf nyonya, kalau alasan Anda memanggil saya, rasanya saya bisa memperkirakannya."
"Bagus. Kalau begitu aku bisa mempersingkat waktu dan tak perlu bertele-tele. Kata-kataku mungkin akan terdengar kasar tapi kuharap kau mengerti bahwa pertanyaan-pertanyaanku ini tidak bermaksud menyudutkan apalagi menyalahkan tuanmu. Ini semua murni karena rasa penasaranku." Prim melihat Owen membuka mulutnya, mungkin hendak menyangkal atau meminta Prim memperbaiki caranya menyebut laki-laki itu tuannya Owen. Yang manapun, Ia tak peduli. "Yang paling aku penasarankan adalah, sebenarnya sejak kapan tuanmu menandaiku?" Lanjut Prim.
Owen membasahi bibirnya yang kering. Kepalanya sudah membentangkan peta percakapan dan bersiap menyalakan lampu ke arah yang, sebenarnya, sudah bisa ia duga. Tapi tetap saja berhadapan langsung dan memperkirakannya sendiri, berbeda. Selama tinggal di kediaman Gladstone, Ia tak pernah harus berurusan langsung dengan Prim. Jadi ia juga tak tahu kalau istri tuannya itu bisa membuat suasana di ruangan menjadi berat dan dingin. Terlebih, ia tak yakin dari mana hingga mana kisah yang boleh dirinya bagi sebagai orang terdekat.
"Err... kalau saya tak salah ingat, sejak musim penghujan lima tahun lalu, nyonya."
Prim terenyak. Matanya menutup. Jari telunjuk dan jempol tangan kirinya naik ke wajah, lalu meluruskan kerutan di antara kedua alis, yang sebenarnya tak ada.
"Selama itu?" gumam Prim yang lebih mirip bisikan.













