Di Balik One-Man-Show Reuni
Hari Sabtu kemarin akhirnya reuni kelas. Setelah... empat atau lima tahun, mungkin. Yang mana belakangan, seringkali teman-teman mengomentari foto-foto meet-up kakak-kakak kelas maupun adek kelas. Yang mereka meet-up sampe nyewa penginapan, lah. Yang ngumpulnya dresscode-an, lah. Yang ketemuannya di outdoor piknik ala-ala, lah. Sampe yang foto-foto lucu di studio. Semuanya aja pengen dilakuin. Tapi nggak ada yang mau mengorganisir. Hahaha
Lalu menjelang 10 hari terakhir Ramadan, muncullah kabar dari dua perantau yang mudiknya agak lama. Iseng, saya hubungi keduanya untuk bertemu. Saya coba ajak juga satu dua orang yang selalu siap sedia kalau diajak bertemu. Setelah mendiskusikan tanggal serta tempat, saya iseng (lagi) coba sebar undangan.
Tentu isi undangannya adalah tanggal dan lokasi yang sudah fiks. Sebab sebelum Ramadan kemarin, ketika membuat poling di grup untuk lokasi dan waktu, tak ada yang sesuai dengan hasil poling. Sudah mencoba berdemokrasi pun, masih saja ada nego. Kayak ngeliat miniatur nego calon pemimpin ke MK (eh). Yah, intinya langsung sebar undangan biar nggak ada yang nego lagi.
Apakah berhasil? Tentu tidak. Sudah hari H pun, masih ada yang komplain dan berharap lokasinya lebih dekat lagi. Masih ada juga yang komplain makanannya yang kurang menggugah. Ahaha. Di lokasi pun, masih nego tempat duduk dulu. Belum lagi komplain menu. Juga drama nyusul-ketika-kami-sudah-bersiap-pulang.
Kalau selama di Jakarta energi saya penuh setiap kali bertemu banyak orang, sekarang sebaliknya. Setelah bertemu mereka, bukannya energi jadi unlimited, malah capek banget banget. Despite the laugh and the chaos, their energy drains mine out.
"Ini yang terakhir kali, pokoknya!" Begitu yang saya katakan pada diri sendiri, nyaris, tiap tahun. Tapi tiap ada yang ngide meet up juga saya menghubungi mereka satu persatu atau membuat poling di grup atau sekedar mengajak diskusi. Yang mana tiap itu pula ekspektasi saya diinjak-injak dengan pembatalan mendadak. Melelahkan? Jangan ditanya. Sejak pertemuan ramai terakhir, I put the bar under my feet. Berusaha untuk tidak mengharapkan yang terbaik. Entah apa namanya perasaan yang lebih dari lelah ini. :)
Baru tadi saya baca grup lagi. Yang tidak bisa datang bilang kalau mereka ikut senang kami berkumpul. Yang datang meramaikan acara bilang kalau mereka masih punya lebih dari cukup energi sampai nanti (yang entah kapan maksudnya nanti itu). Bahkan mulai merencanakan pertemuan selanjutnya. Saya? Kosong. Memang ada rasa senang ketika kemarin acaranya bisa diikuti lebih dari 10 orang. Tapi nggak banyak. Bener-bener nggak banyak.
Rasanya seperti... Energi yang saya kumpulkan dari sejak libur sekolah dimulai, dan energi cadangan yang saya siapkan untuk kembali ke sekolah akhir pekan nanti, terserap habis di reuni kelas kemarin (malah kayaknya udah terserap sedikit demi sedikit dari pas nyiapin; diskusi waktu dan tempat, bikin undangan, mastiin yang hadir, ngedata menu pesanan, dll buat acaranya) Sebab sehabis acara, di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, yang ada di pikiran saya cuma kasur, game dan bacaan yang saya tinggal di kamar.
Apa saya merasa puas dengan acaranya? Nggak. Dibanding puas, saya malah merasa lega karena bebannya udah berkurang satu. Apa saya akan mengorganisir acara serupa lagi? Maunya sih enggak. Tapi kayaknya badan saya (atau alam bawah sadar saya, ya?) bakal ngide buat buka diskusi lagi. Cari kerjaan memang. Ckckck
Saya sendiri juga bingung.