My article is here @Regranned from @storialco - 📢[Friting Tips] Membuat Tulisan Bergizi dari Non-Fiksi📢 — Non-fiksi adalah genre yang membuat kita bisa menikmati bacaan tanpa perlu banyak berimajinasi. Rata-rata non-fiksi memang ditulis dengan rangkaian fakta dan juga tanpa adanya konflik. Jenis tulisan non-fiksi juga bermacam-macam contohnya dari biografi, otobiografi, esai, opini, artikel berita dan lain-lain. Meski tidak membutuhkan tokoh dan juga alur cerita yang berganti-ganti seperti pada fiksi, menulis non-fiksi juga membutuhkan strategi yang tepat agar pembaca dapat tetap menikmati hingga akhir. Menulis buku non-fiksi juga membuka kesempatan yang baik untuk penulis genre apapun. Karena di dalam non-fiksi kamu tidak perlu belajar memahami karkater tokoh yang kamu tulis, kamu cukup belajar untuk mengolah data serta membuat tulisan bergizi yang dibutuhkan banyak orang. Saat ini sudah cukup sering kita temui jajaran buku best seller yang justru dipenuhi dari rak buku non-fiksi. Tulisan bertema how-to dan juga motivasi selalu dicari pembaca. Jika kamu ahli dalam satu bidang tertentu, juga bisa saja dituliskan dalam bentuk buku. Baca informasi selengkapnya yang ditulis oleh Reffi Seftianti (akun Storial: reffi25) di https://blog.storial.co/tagged/fritingtips #fritingtips #fritips #tipsjumat #tipsmenulis #fritingtipsstorial #menulisnonfiksi #nonfiksi #tulisanbergizi #tgif #fridaywritingtips #penulislokal #penulisindonesia - #regrann
Kalian suka memakai simbol titik dua dan kurung tutup untuk berkirim pesan dengan teman-teman? Ya, kita mengenalnya dengan istilah smiley. Smiley, bagian dari emotikon, tentu semua akrab dengan bahasa tulisan yang kita kenal; karena semua pasti pernah menggunakannya. Namun, tahukah kalian bagaimana simbol ini tercipta dan menjadi begitu universal?
Sejarah Smiley/Emotikon: Berawal dari Saltik?
Salah satu dokumen publik tertua yang memampangkan smiley untuk kali pertama adalah transkrip pidato Presiden Abraham Lincoln dari Amerika Serikat yang dimuat di New York Times, tahun 1862. Setelah kata laughter, terketik sebuah titik koma yang diikuti tanda kurung tutup. Mirip dengan simbol "wink" (mengedip) di zaman sekarang. Sebagian pihak menganggap itulah titik kelahiran smiley secara resmi, meskipun sebagian lainnya menganggap bahwa itu hanya saltik. Puck Magazine, di tahun 1881, juga memuat artikel pendek berjudul Typographical Art. Di sana ditunjukkan bagaimana cara mesin cetak zaman dahulu mengetik smiley. Kreatif.
Seabad kemudian, seniman Harvey Ball menciptakan sebuah lingkaran kuning dengan wajah tersenyum dalam rangka menyemangati karyawan perusahaan asuransi yang menyewa jasanya. Kampanye senyum di tahun 1963 ini berhasil mengembalikan atmosfer positif di sana. Namun, simbol ini baru dikomersialkan di tahun 1970-an oleh Bernard dan Murray Spain. Mereka membuat kaos, mok, stiker, pin, dan berbagai pernak-pernik bergambar smiley kuning ini. Hasilnya: laku keras! World Smile Day pun dicanangkan sebagai momen untuk bersikap positif dan menyebarkan energi baik ke sesama.
Fenomena sang smiley pun menyeret Scott Fahlman. Di tahun 1982, Fahlman mengemukakan idenya untuk memacak sekumpulan tanda baca menjadi simbol-simbol pada sebuah forum komunitas ilmu komputer di Carnegie Mellon. Kumpulan tanda baca inilah yang kemudian kita sebut sebagai emotikon. Dalam proposalnya, ia berdalih bahwa pesan-pesan satir mungkin tak tersampaikan dengan baik apabila hanya mengandalkan diksi. Bisa timbul respons yang tidak diharapkan, bahkan bencana. Rupanya, konsep (dan dalih) ini disambut hangat oleh kalangan ilmuwan komputer saat itu. Emotikon pun resmi menjadi bagian dari bahasa tulis.
Belasan tahun kemudian, ketika berbagai aplikasi obrolan mulai berkembang, pemakaian emotikon pun makin mendunia. AOL Instant Messenger, ICQ, Yahoo! Messenger, dan MSN Messenger memasukkan emotikon dalam aplikasi masing-masing, turut memelesatkan popularitas emotikon ke jagat maya. Tidak asing, kan? Dari aplikasi-aplikasi ini, barulah kemudian emotikon berkembang lebih pesat menjadi bagian dari menu harian aplikasi ketik di berbagai gawai saat ini.
Etimologi: Beda smiley, emotikon, dan emoji
Seperti yang sudah kita bahas tadi, smiley adalah gabungan antara tanda titik dua atau titik koma dengan kurung tutup; bisa tergambar dalam sebentuk lingkaran menyerupai wajah, ataupun berdiri sendiri.
Sementara itu, emotikon adalah tampilan tipografik yang memiliki cakupan lebih luas. Tidak hanya memuat smiley, namun emotikon ini juga memuat berbagai kombinasi tanda baca yang menimbulkan emosi berbeda-beda. Namun, emotikon hanya digunakan dalam format teks biasa.
Pengembangan lebih lanjut dari emotikon melahirkan emoji. Dalam bahasa Jepang, rangkaian "e" dan "moji" berarti "piktograf"; yang tak lain adalah simbolisasi emotikon dalam rupa gambar. Jadi, wajah-wajah bulat kuning dalam berbagai ekspresi yang biasa kita lihat di aplikasi obrolan daring... itu adalah emoji, bukan emotikon.
Penggunaan: Awas Salah Tempat!
Meskipun kita akrab dengan emotikon di dunia obrolan daring, kita perlu mewaspadai penggunaan yang salah tempat. Konon, kekeliruan ini bisa berakibat serius, lo!
Sebuah liputan dari CNN pada pertengahan Agustus 2017 lalu mengungkap bahwa berdasarkan hasil survei, smiley ternyata dapat menurunkan respek lawan bicara, apabila digunakan dalam konteks formal atau pekerjaan. Eits, jangan dikira turunnya respek ini sepele. Dampak selanjutnya; kepercayaan dan kerja sama antartim bisa terganggu.
Nah, coba intip ponsel masing-masing. Sudah pakai emotikon apa saja hari ini?
#FritingTips ditulis oleh: Henny (@triskaidekaman)