Tolenjeng
Tak banyak yang kenal dengan sambal satu ini, hanya orang-orang ber-KTP USA (Urang Sunda Asli) yang mengenalnya, sambal tolenjeng, atau dikenal juga sambal "goang". Tolenjeng adalah cermin kesederhanaan, low profile, down to earth atau melarat, itu terserah kamu yang menafsirkan.
Tolenjeng simbol kesederhanaan, hanya ada pedas dan asin seperti hidup yang biasa kita rasakan. Tolenjeng adalah pahlawan orang sunda untuk selamat dari (yang katanya bencana) kelaparan, hanya dengan nasi hangat, lalap rumput liar yang kami petik dari galengan sawah, dan satu cowet tolenjeng, kami bisa makan dengan puas, nikmat, seolah tak perlu lagi makanan mewah lain. Teman makan paling mewah bersama tolenjeng adalah mendoan tempe hangat, atau kerupuk. Tolenjeng pantas mendapat gelar mahkota kuliner tatar priangan.
Betapa sederhananya, sambal ini hanya berisikan garam dan cabe rawit atau cengek, kalau saat saya merantau di Andalas, disebut cabe sayur. Cabe dan garam digerus dengan cowet dan mutu batu, jangan sekali-kali menggunakan yang berbahan kayu atau tanah liat, dijamin tidak akan halus. Setelah semua bahan tercampur dengan halus, biarkanlah beberapa lembar kulit cengek tak habis tergerus, bila kamu adalah orang yang sedikit beruntung, kamu bisa menambahkan sesendok minyak goreng panas ke atas sambel tadi untuk menambah rasa nikmatnya melebihkan usaha. Jika kamu tambahkan terasi, atau tomat, kamu terlalu bermewah-mewah!
Aku berani bilang bahwa tolenjeng sangatlah susah ditemukan selain di tanah sunda, berani bertaruh? Jika menemukan nama "tolenjeng" atau "goang" dalam menu rumah makan atau restoran yang klaim dirinya tempatnya makan sambal di Kota Yogyakarta, aku mau makan di situ! Bahkan, saat aku makan di tempat yang berani membuat sambal sesuai permintaan pelanggan jika tidak ada dalam daftar menu, mereka tidak bisa menyajikan, bahkan kebingungan dengan permintaanku untuk dibuatkan tolenjeng, setelah kujelaskan sekalipun. Saat itulah aku proklamirkan, tolenjeng hanya milik orang sunda!
Tolenjeng adalah pahlawan kami dimanapun berada, apapun keadaannya, di perantauan, di rumah, senang, sedih, sakit, bahkan saat patah hati, tolenjenglah yang mampu membangkitkan kembali selera makan. Perlu bukti? Seseorang di sebelahku sedang dilanda sakit gigi dan tidak punya nafsu makan selama tiga hari, dengan tolenjeng? Sepiring penuh nasi dia habiskan sendiri.
Tolenjeng adalah sambal ajaib, kamu hanya akan merasakan pedas di lidah, tanpa merasa panas di perut, tidak harus takut besok kamu mencret karena terlalu banyak makan sambal satu ini, itu yang dulu nenekku katakan, dan aku mengamini. Cukup dengan segelas air hangat, beberapa saat kemudian kamu akan lupa kalau tadi sudah menghabiskan sambal mahapedas dan ingin melakukannya lagi.
Pssttt.... Cara paling nikmat menghabiskan tolenjeng adalah dengan menambahkan nasi ke cowet, lalu kamu tumbuk dengan mutu tadi, dan sisa-sisa sambal yang tertinggal di pori-pori batu akan menempel pada nasi menambah nikmatnya suapan nasi terakhir. Jangan biarkan tolenjeng tersisa sedikitpun!
Kalau Meggy Z bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati, aku bilang lebih baik makan tolenjeng. Daripada akhirnya kamu bunuh diri.










