Aceh di Tahun Ke-13
Gempa 9,1 SR pada tahun 2004 di Samudra Hindia adalah bencana yang kemudian didaulat sebagai bencana terhebat di abad 21. Gempa ini memicu gelombang tsunami yang menghantam Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, Pesisir Timur Afrika, dan juga Aceh, Banda Aceh. Gempa bumi yang berlangsung sampai 10 menit memang tidak seperti gempa-gempa pada umumnya. Gempa ini merupakan gempa terbesar kedua dalam 100 tahun terakhir, yaitu pada tahun 1960, sebuah gempa yang terjadi di Chile dengan catatan gempa berkekuatan 9,5 SR.
Gempa dan tsunami di Aceh ini menggerakkan dunia dalam satu jalur bersama keprihatinan. Sumbangan negara-negara asing mengalir deras melalui Multi Donor Fund (MDF) atau pun lembaga swadaya mandiri lainnya.
Minggu, 26 Desember 2004, pukul 7.59 gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 SR mengguncang dasar laut di barat daya Sumatera, sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Kemudian, hanya beberapa jam saja, gelombang tsunami dari gempa itu mencapai daratan Afrika.
Deras air adalah suara terhebat, disusul jeritan tangis bayi, ibu hamil, para pedagang, bahkan pengemis.
Senin, 27 Desember 2004, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tsunami di Aceh sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi.
Kamis, 30 Desember 2004, Sekretaris Jendral PBB saat itu, Khofi Annan, menyebut jumlah korban sedikitnya 115.000 orang tewas. Jerman mengirim pesawat militer yang berfungsi sebagai klinik darurat ke kawasan bencana. Militer Jerman Bundeswehr dikerahkan untuk membantu korban bencana.
Jumat, 31 Desember 2004, Indonesia dinyatakan sebagai kawasan bencana tsunami terparah. Pemerintah Indonesia menyebut korban tewas akan melebihi 100.000 orang.
Dan pada semua orang bersuka atas pergantian tahun, Sabtu 1 Januari 2005, Kapal induk Amerika Serikat "USS Abraham Lincoln" tiba di perairan Sumatra untuk membantu evakuasi korban dan penyaluran bahan bantuan. Helikopter Amerika Serikat dikerahkan dari kapal induk untuk membagikan bahan bantuan terpenting ke kawasan bencana di Aceh.
Masih banyak lagi lainnya sumbangan kemanusiaan dari negara-negara asing untuk Aceh.
Adalah hati yang tergerak untuk bergerak, segala negara, suku, dan agama.
Bagaimana korban-korban di sana? Apa saja yang sudah hilang dan apa yang masih bisa kembali?
Kerusakan rumah-rumah warga dan harta benda mereka adalah yang hilang dan tak bisa kembali, termasuk nyawa. Ada sekitar 230.000 orang yang tewas di 14 negara yang disebabkan tsunami ini. Di Aceh sendiri sekitar 170.000 korban tewas.
Apakah kemungkinan ada yang selamat?
Mereka adalah orang-orang yag sedang menyelam di tengah laut, mereka merasakan arus air yang lebih kencang, tetapi mereka tidak mengalami apa-apa. Selain itu, juga para nelayan yang sedang melaut, tidak merasakan akan ada gelombang raksasa. Dan orang-orang yang dengan cepat bisa melarikan diri menjauh dari laut atau mencari dataran yang lebih tinggi, serta berpegang pada benda-benda yang kuat menahan terjangan air.
Apakah sebelumnya ada peringatan bagi penduduk?
Di Aceh sendiri saat itu tidak ada pihak yang mempunyai rencana darurat tsunami. Pusat peringatan tsunami justru datang dari Amerika Serikat yang ada di Hawaii. Mereka yang ada di sana mneyadarinya, bahwa ada gempa hebat dan ancaman munculnya geombang besar dan dahsyat. Akan tetapi, mereka tidak tahu pihak mana yang harus dihubungi di kawasan bencana, termasuk di Aceh. Jadi mereka mengeluarkan peringatan secara umum.
Bagaimana Aceh sekarang?
Pada 14 Maret 2005, Indonesia dan Jerman membangun sistem peringatan dini tsunami. Perangkat teknisnya merupakan sumbangan Jerman kepada Indonesia, senilai 40 juta Euro. Sistem itu dikenal sebagai GITEWS (German Indonesian Tsunami Early Warning System). Tahun 2008 dikembangkan menjadi InaTews (Indonesia Tsunami Early Warning System).
Tulisan ini murni untuk mengenang bencana tsunami Aceh. Tidak ada hubungannya dengan gempa yang belum lama terjadi.
Untuk apa mengenang? Karena hidup memang ada masa lalu dan masa depan, entah untuk selalu bersyukur atau selalu was-was.
Sekali lagi untuk kita semua, Tak perlu tertawa atau menangis, pada Gunung dan Laut, karena Gunung dan Laut tak punya rasa. (Cerita Tentang Gunung dan Laut - Payung Teduh).
Sumber laman:
nationalgeographic.co.id
www.dw.com
Sumber foto:
www.dw.com













