Ombak Penuh Hikmah
Deringan beker membangunkanku. Melenyapkan mimpi-mimpi indah semalam. Usai sepenuhnya mengumpulkan nyawa, kukucek mata dan beranjak dari kasur empuk tempat tidurku. Dengan gontai aku melangkah menuju kamar mandi dan mengambil wudu. Sayup terdengar azan mulai berkumandang, tanda waktu subuh telah tiba.
Setelah mengganti pakaian dengan kemeja rapi dan sarung bercorak, aku keluar dan tidak lupa mengunci pintu sebelum berangkat ke masjid. Di perjalanan menuju masjid, aku bertemu beberapa tetangga di sekitar rumahku yang juga ingin ke masjid. Kami pun berjalan bersama-sama di tengah kesejukan subuh.
Sesampaianya di masjid, aku langsung salat dua rakaat dan memanjatkan doa diantara azan dan iqamah. Iqamah didengungkan, aku pun salat subuh berjamaah dengan khusyu’. Selepas salat pun aku tak lupa berzikir dan melantunkan doa-doa yang dianjurkan Nabi di pagi hari. Setelah mengahabiskan waktu cukup lama untuk bernujat kepada Allah, aku kembali ke rumah dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Itulah rutinitasku setiap paginya.
***
Mobil melaju dengan tenang saat pesan masuk di telepon selulerku. Kugapai ponsel dan sekilas melirik isinya. Jangan lupa untuk hadir di kantor tepat waktu. Pandanganku beralih ke jam yang ada di dashboard mobil, masih jam 7.50, pikirku. Aku masih punya banyak hingga rapat dimulai.
Hari ini tepat tanggal 26 Desember, dan kota Banda Aceh seperti hari-hari biasanya, ramai dengan kendaraan yang lalu lalang di jalanan kota. Sedikit macet di perempatan jalan sudah biasa di jam-jam kerja seperti sekarang.
Di tengah kemacetan dan suara klakson yang saling menyahut, hal-hal aneh pun mulai terjadi. Hiasan gantung yang mengalungi kaca di dashboard mobilku mulai bergoyang dengan sendirinya. Awalnya hanya goyangan kecil hingga akhirnya mobilku ikut bergoyang dan mengaduk-adukku di dalam. Gempa bumi berkekuatan besar mengguncang Banda Aceh. Suara klakson yang saling bersahutan kini berubah menjadi jeritan manusia-manusia yang berusaha menyelamatkan diri. Orang-orang meninggalkan kendaraannya dan berlari histeris tak tahu arah.
Aku berusaha untuk teteap tenang dan duduk di jok mobil. Walaupun sudah berusaha semampu mungkin untuk tenang, gempa yang besar itu tentu saja dapat membuat ngeri semua orang. Aku terhantam ke kanan dan kiri. Kepalaku membentur bagian atas mobil dan membuatku mual dan pusing. Hanya zikir dan istigfar yang bias kulantunkan. Berharap Allah memberikan pertolongannya kepadaku.
Gempa itu ternyata berlangsung sangat lama. Terlalu lama untuk membuatku mual dan mengeluarkan isi perutku. Setelah kesadaranku kembali dengan sempurna, aku melihat ke sekeliling dan menyaksikan Banda Aceh yang sudah porak poranda dihantam gempa. Aku semakin melancarkan zikir dan istigfar.
Yang kupikirkan saat ini bukan lagi tentang rapat, kantor, dan urusan duniawi lainnya. Aku hanya memikirkan keselamatan diriku. Aku keluar dari mobil dan segera mencari tempat aman terdekat. Dengan tergopoh-gopoh aku berusaha menggapai masjid Baiturrahman yang berada tidak jauh dari posisi kendaraanku. Sesekali aku melompat kecil untuk menghindari kendaraan-kendaraan yang sudah tidak bertuan dan jalanan kota yang mulai retak.
Berhasil sampai di masjid, kekhwatiran yang justru menghampiriku. Gulungan air yang sangat tinggi meluncur dengan cepat menyapu seluruh isi kota. Tsunami yang datang melengkapi gempa besar yang terjadi sebelumnya. Aku dan sekian banyak orang-orang yang berlindung di masjid hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Allah. Desiran ombak yang menghantam disertai dengan jeritan dan tangisan orang-orang yang hanya bisa melihat seluruh kota tersapu bersih oleh air.
Rumah Allah yang saat ini menjadi tempatku bernaung menjadi satu-satunya tempat yang paling aman. Tsunami yang menerjang seakan enggan menghantam masjid Baiturrahman. Hingga berjam-jam lamanya, tsunami baru benar-benar selesai. Setelah memastikan semuanya sudah aman, manusia berhamburan keluar masjid dan berusaha mencari harta dan sanak kelurganya yang masih tersisa.
Ratusan manusia terdampar tak berdaya di jalanan-jalanan kota. Kendaraan dan benda-benda bermacam rupa tergeletak berantakan. Tsunami ganas telah meluluhlantahkan kotaku.
“Setiap peristiwa selalu ada hikmahnya, nak” aku dikagetkan dengan seorang kakek tua yang berdiri di sampingku.
“Lalu menurut kakek, apa hikmah di balik ini semua?”
“Bisa berupa ujian atau sebuah peringatan yang Allah timpakan kepada kita. Kau akan tahu jawabannya,” setelah kembali menengok ke samping, kakek tua itu sudah hilang dari hadapanku. Ada sebab ada akibat. Ada tindakan maka ada konsekuensi. Apapun yang terjadi hari ini tidak akan kulupakan, bahkan dunia. Tamat.













