Mecin(tai) adalah racun [kalau berlebihan...]
Semacam tulisan tidak serius untuk mengasah keterampilan menulis yang tidak terlalu bisa digunakan dengan baik saat mengerjakan skripsi. Karena memang tidak bisa bebas dan liar. Tidak seperti menulis bebas.
Jadi, topik bahasan kali ini adalah mecin. Kenapa saya tertarik membahas ini? Karena saya baru saja menyeduh mi instan di malam hari, memperhatikan komposisinya, dan melihat AKG di kemasannya. Whoah. Kandungan Natrium sebut saja merek Ind*mi rasa ayam spesial ternyata 1180mg per sajian alias 51% kebutuhan garam harian. Dengan saya makan dua bungkus, kalau mau mematuhi aturan diet 2000 kcal, maka saya udah gak boleh makan apa pun yang mengandung garam lagi hari ini.
Tapi toh ya bodo amat. Ahahahaha.
Lalu, apa hubungannya dengan yang mau saya tulis? Hmmmm.... Agak sedikit rumit. Sebelumnya, saya mau menyampaikan sejarah mecin dulu. Thanks to tante wiki, here is brief history of mecin:
Glutamic acid was discovered and identified in 1866 by the German chemist Karl Heinrich Ritthausen, who treated wheat gluten (for which it was named) with sulfuric acid. Kikunae Ikeda of Tokyo Imperial University isolated glutamic acid as a taste substance in 1908 from the seaweed Laminaria japonica (kombu) by aqueous extraction and crystallization, calling its taste umami. Ikeda noticed that dashi, the Japanese broth of katsuobushi and kombu, had a unique taste not yet scientifically described (not sweet, salty, sour, or bitter).To verify that ionized glutamate was responsible for umami, he studied the taste properties of glutamate salts: calcium, potassium, ammonium, and magnesium glutamate. All these salts elicited umami and a metallic taste due to the other minerals. Of them, sodium glutamate was the most soluble and palatable and the easiest to crystallize.Ikeda called his product "monosodium glutamate", and submitted a patent to produce MSG; the Suzuki brothers began commercial production of MSG in 1909 as Aji-no-moto (味の素, "essence of taste")
Nah. Begitulah. Sampai mana tadi? Oh, ya. Belum sampai mana-mana. Ahahah.
Begini, begini. Mecin ditemukan sebagai produk derivat dari oom Ritthausen yang (entah iseng atau apa) ngasih asam sulfat ke gluten gandum. Njuk, 42 tahun berikutnya oom Ikeda mengekstrak dan mengkrisltalisasi asam glutamat dari kombu yang nantinya diketahui bahwa glutamat terionisasi adl penanggung jawab rasa ‘umami’ alias sensasi rasa gurih gurih nyoy yang (katanya) bikin bego.
Saya mikir, begini, kenapa mecin spesifik dari asam glutamat? kenapa gak yang lain, misal, sistein? Lysine? Jadi namanya ntar ga MSG, bisa MSS, MSL, MSM, MLM (lah. Ngawur.) dan btw, siapa yang mencetuskan nama ‘micin’?
Entah kenapa kok ya pikiran gua jadi ngelantur kejauhan begini, yak. Ahaha.
Stay to the topic. Mecin. Enak. Gurih gurih nyoy. Dan sama seperti hal nikmat lainnya, mulai dari endorfin, kafein, nikotin, etanol, tetrahidrokarabinol, atau mungkin metil dioksi metamfetamin, jika terlalu berlebihan -bahkan MDMA dosis rendah bisa menyebabkan kecanduan-, adalah racun. (btw, 3 senyawa terakhir saya ga pernah tahu respon fisiologis di tubuhnya gimana karena belum nyoba.... dan semoga jangan sampai tertarik.)
Oleh karena itu, judul catatan ini saya namakan demikian.
Mecin(tai) adalah racun [kalau berlebihan...]
Ya, layaknya mecin, cinta adalah sebuah racun toksik. Bedanya, dia ga akan sekadar mempengaruhi reseptor di lidah, tapi juga kondisi kejiwaan. Pernah denger orang yang saking cintanya rela setor nyawa? Hooo... semua kisah drama tragis, NTR, film romantis semuanya terilhami dari sini.
Ya, cinta memang seperti mecin. Makanya, jangan berlebihan mencintai sesorang (atau sesuatu). Sampai taraf optimal (1gr/100mL larutan) mecin bisa membuat masakan tambah nikmat. Sama seperti abang bakso yang cuma nambahin mecin seujung sendok teh untuk kuah bakso 2-3 ciduk. Pun begitu pula dengan cinta.
Sampai taraf optimal, cinta bisa membuat hidupmu tambah nikmat. Tambah wenak. Gurih gurih nyoy. Tapi ya itu. Jangan banyak-banyak. Nanti keracunan. Pusing. Mual. Muntah-muntah. Demam. (Btw, pernah pusing dan demam abis makan soto yang gurihnya kebangetan? Tenggorokan jadi gatel dan berasa radang gitu. saya dong pernah.... Mwahaha.)
Ya, maka dari itu, gunakan mecin dengan bijak.
Dan mecintai, wah, itu harus lebih bijak lagi.
Sekian, Wassalaamu ‘alaikum.
PS: Gua ngomong kayak begini pun bukan berarti gua sudah bisa sepenuhnya bijak dengan konsumsi mecin gua. Begitu juga mencintai orang lainnya. Ahahaha.










