Sejak Fajar eksistensi manusia menyingsing, telaga atau oasis di ceruk Gurun Sahara klasik selalu menjadi simbol yang sakral—sebuah mata ai
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from Netherlands
seen from Slovakia

seen from Slovakia

seen from Slovakia

seen from Slovakia

seen from Slovakia

seen from Netherlands

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Slovakia

seen from United States
seen from Austria

seen from Singapore

seen from Austria
seen from Japan

seen from Australia
Sejak Fajar eksistensi manusia menyingsing, telaga atau oasis di ceruk Gurun Sahara klasik selalu menjadi simbol yang sakral—sebuah mata ai
https://www.hariansinggalang.co.id/opini/2746/ekotheologi-berbasis-nilai-islam
hariansinggalang.co.id
Shofwan Karim: Ekotheologi Berbasis Nilai Islam - Harian Singgalang
Shofwan Karim
~4 menit
Di tengah kepungan krisis ekologis global—mulai dari cuaca ekstrem, banjir bandang, hingga pemanasan global yang kian mencemaskan—kesadaran akan pentingnya merajut kembali tali spiritualitas dengan alam menjadi sebuah keniscayaan.
Dalam bentangan diskursus ini, Islam hadir bukan hanya sebagai dogma yang menuntut ritus kesalehan individual di dalam mihrab, melainkan sebagai sebuah manifesto kosmologis yang menempatkan lingkungan hidup sebagai amanah ketuhanan yang suci. Hubungan antara manusia, pencipta, dan alam diatur secara ketat, melintasi batas-batas normatif teologis menuju wilayah praksis yang nyata di atas muka bumi.
Ekotheologi Islam
Secara filosofis Islam memandang alam semesta sebagai kitab terbuka (al-kaun al-masthur) yang melengkapi kitab suci tertulis (al-kitab al-mastur). Setiap jengkal tanah, selembar daun yang gugur, hingga bentangan samudra yang luas merupakan ayat-ayat—tanda-tanda kebesaran—Allah yang menuntut pembacaan mendalam. Alam bukanlah objek mati yang sunyi dari zikir.
Secara sufistik, para arif billah memandang alam dengan penuh rasa takzim; ada denyut spiritualitas yang mengalir di setiap makhluk. Ketika manusia merusak alam, ia tidak hanya melakukan kejahatan ekologis, tetapi juga sedang membungkam tasbih alam semesta kepada Sang Pencipta.
Pilar utama dari ekotheologi Islam ini bersandar pada konsep Khalifah, sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 30. Manusia diturunkan ke bumi bukan sebagai penguasa absolut yang memiliki hak mutlak untuk menghancurkan, melainkan sebagai pengelola, penjaga, dan pemakmur bumi (’imaratul ardhi). Hakikat kekhilafahan ini berkelindan erat dengan konsep “Amanah”. Alam semesta adalah titipan suci yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan mahkamah ilahi.
Dalam bahasa sastrawi yang sarat akan makna mendalam, Surat Ar-Rum ayat 41 melukiskan riak-riak krisis lingkungan dengan sangat benderang: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...”.
Ayat ini menegaskan hukum sebab-akibat dalam makrokosmos. “Al-fasad” (kerusakan) dalam tinjauan teologis modern mencakup polusi udara, kepunahan spesies, hingga krisis iklim yang melanda dunia. Keserakahan dan egoisme antroposentrisme ekstrem dikecam, karena menganggap manusia adalah satu-satunya makhluk berharga di alam raya ini.
Setali denghan itu, padahal, dalam Surat Al-An'am ayat 38, Allah meruntuhkan keangkuhan manusia dengan menegaskan bahwa seluruh binatang di bumi dan burung-burung yang terbang di angkasa adalah “umam”—komunitas-komunitas yang setara dengan manusia dalam hak untuk hidup dan berkembang biak.
Alam ini diciptakan dalam konsep “Mizan”, sebuah timbangan ekosistem yang presisi, serasi, dan seimbang (QS. Al-Mulk: 3 dan QS. Al-Hijr: 19). Frasa “mauzun” di dalam Al-Qur'an sejatinya merupakan basis teologis dari konsep homeostasis atau keseimbangan alam dalam sains modern. Setiap komponen biotik dan abiotik memiliki rasio dan fungsi spesifik.
hariansinggalang.co.id
Shofwan Karim: Ekotheologi Berbasis Nilai Islam Halaman 2 - Harian Singgalang
Shofwan Karim
5–6 menit
Home Opini Ekotheologi Berbasis Nilai Islam
Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Pengamat dan Penulis Esai
Intervensi manusia yang melampaui batas, seperti deforestasi massal dan emisi karbon berlebih, secara syar'i melanggar larangan berlebih-lebihan (israf) yang ditegaskan dalam Surat Al-An'am ayat 141, serta merusak cetak biru bumi yang telah diciptakan dalam kondisi “ishlah” (baik dan berfungsi sempurna) sesuai pesan Surat Al-A'raf ayat 56.
Secara syar'i, dimensi normatif ini ditransformasikan ke dalam hukum fikih lingkungan yang aplikatif (Fiqh al-Bi’ah). Fikih tidak lagi sekadar berbicara tentang sah atau batalnya salat, melainkan meluas pada bagaimana mengendalikan kerusakan bumi secara sistematis dan berkelanjutan.
Landasan praksis ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW menegur sahabat Sa’ad yang sedang berwudu seraya bersabda, “Pemborosan apa ini?”. Ketika Sa'ad terheran apakah ada pemborosan dalam ibadah wudu, Nabi menjawab, “Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir deras.”
Diskursus singkat ini adalah kritik tajam terhadap perilaku konsumtif dan pemborosan sumber daya air. Jika untuk ibadah suci saja air dibatasi kegunaannya, maka eksploitasi air untuk industri dan gaya hidup mewah tanpa memedulikan kelestarian lingkungan menjadi terlarang secara syariat.
Dimensi Keberlanjutan
Lebih jauh, Islam mengukuhkan perlindungan satwa (animal welfare) dan penataan ruang ekologis melalui instrumen klasik seperti “Hima” (kawasan konservasi bersama yang dilarang untuk industri atau perburuan) dan “Harim” (zona penyangga di sekitar sumber air demi mencegah pencemaran).
Ada pula kebijakan “Ihya al-Mawat”, yaitu menghidupkan lahan mati atau kritis melalui reboisasi dan pertanian, di mana negara memberikan apresiasi hukum berupa hak pengelolaan tanah bagi siapa saja yang berhasil mengembalikan fungsi ekologis bumi yang gundul.
Bahkan dalam dimensi keberlanjutan (sustainability) yang paling progresif, Nabi bersabda bahwa andai esok hari kiamat akan tegak dan di tangan seseorang terdapat bibit pohon kurma, ia tetap diperintahkan untuk menanamnya (HR. Ahmad). Ini adalah sebuah manifesto sufistik-praksis bahwa harapan dan tindakan ekologis tidak boleh padam oleh keputusasaan.
Gerakan Hijau
Eco-Green atau gerakan hijau kini sudah berjalan hampir 12 tahun. Di era kontemporer, kesadaran praksis ini mewujud melalui fatwa-fatwa modern, seperti yang dilahirkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa No. 47/2014 tentang Pengelolaan Sampah dan Fatwa No. 4/2014 tentang Pelestarian Satwa Langka.
hariansinggalang.co.id
Shofwan Karim: Ekotheologi Berbasis Nilai Islam Halaman 3 - Harian Singgalang
Shofwan Karim
https://www.rumpuntekno.com/assets/mitra/9/2026/06/ilustrasi-opini-ekotheologi-berbasis-nilai-islam--060626075856.webp
Aksi kultural keagamaan pun bermunculan, mulai dari gerakan “Eco-Pesantren” yang mengintegrasikan literasi ekologi dalam kurikulum santri. MLH (Majelis Lingkungan Hidup) Muhammadiyah didukung Kementerian LH secara massif mengkampanyekan “Green Ramadan” untuk menekan angka “food waste” dan plastik sekali pakai, hingga program “Eco-Masjid” yang menerapkan pemanenan air hujan (rainwater harvesting) serta daur ulang air wudu.
Gerakan-gerakan berbasis spiritualitas ini selaras dengan momentum nasional seperti peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 yang mengusung tema global “Inspired by Nature, For Climate, For Our Future” serta peluncuran “Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) dengan semangat kampanye “Saatnya Beraksi untuk Iklim”.
Pendekatan berbasis alam (nature-based solutions) dan partisipasi publik yang inklusif—melibatkan seluruh elemen masyarakat dari pemulung, santri, akademisi, hingga pembuat kebijakan—menjadi penerjemahan nyata dari konsep gotong royong dan khilafah di bumi.
Namun, tantangan terbesar hari ini adalah menjembatani kesenjangan yang lebar antara teks suci yang pro-lingkungan dengan perilaku eksploitatif sehari-hari umat Muslim akibat desakan ekonomi dan kemiskinan literasi ekologi.
Padahal, menjaga bumi bukan lagi sekadar pilihan logis untuk bertahan hidup, melainkan sebuah refleksi dari keimanan yang mendalam, sebuah sujud panjang di atas sajadah bumi yang terhampar luas. (*)
Bagikan
Halaman 1 2 3
Bagikan
Opini lainnya
Oleh Shofwan Karim. Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah (ABS-SBK) dalam implimentasinya dapat disigi dari berbagai perspektif
Workshop on Open University Held by International Islamic Confederation of Labour, Morocco, Dec 19th-23rd, 2009. Journey Schedule, Jakarta-C
Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Buya Shofwan Karim Elhussein (Foto: Dok. Istimewa).
Oleh: BUYA SHOFWAN KARIM ELHUSSEIN
Menghitung hari. Mereka S(67), BS (52), P (51), dan T (44) menatap wajah saya. Sejak 25 Februari lalu, dua bulan kurang 6 hari, pada 19 April kemarin, beliau-beliau bergeming.
Di sela tatapan itu , mata saya menjelajahi tenda. Dari keempat sudutnya, sekitar dua ratusan laki, perempuan dan anak-anak mulai membuka bungkus nasi.
Tenda induk itu multi fungsi. Musalla, tempat berkumpul dan sekaligus pos layanan terpadu. Terletak di punggung bukit, sekitar 1 km dari Jorong Timbo Abu Ateh, Nagari Persiapan Timbo Abu, Kenagarian Induk Kajai, Kecamatan Talamau, Pasaman Barat.
Pada masa tanggap darurat, dari 25 Februari sampai 15 Maret lalu, Jorong Timbo Abu Ateh sangat parah. Meski juga ada di Pasaman, Nagari Malampah juga parah.
Akan tetapi sepanjang pengamatan langsung dan sumber media, Timbo Abu agak sepesipik. Selain PMI, Dompet Dhua’fa, ACT, PKPU, banyak LSM, Ormas dan Lembaga, bahkan Partai Politik dan Tokoh Nasional, Perguruan Tinggi dan lainnya yang memberikan perhatian. Mengunjungi dan membantu kebutuhan pokok, pertolongan medis dan kebutuhan harian Wanita dan anak-anak.
Salah satu di antaranya LSM AMCF (Asian Muslim Charity Foundatian) Reliefs Humanitarian Center, Medan. Mereka telah bangun seratus tenda. Tak heran kalau seorang tokoh menyebut bagai tenda di Padang Arafah musim haji. Waktu itu ratusan penyintas musibah gempa tumpah ke punggung bukit itu. Mereka mukim di seratusan tenda tadi.
Mereka tidak berani pulang ke Jorongnya. Takut gempa susulan terjadi lagi. Dan memang waktu itu berkali-kali terjadi gempa susulan.
Dalam dua bulan terakhir, tak banyak lagi LSM dan Ormas yang tetap mendampingi mereka. Salah satu yang tetap berlanjut adalah MDMC (Manajemen Penanggulangan Bencana Muhammadiyah).
Sampai kemarin lalu puluhan tenda masih teriisi. Mereka adalah 48 keluarga terdiri atas 239 jiwa.
Dengan merekalah Selasa lalu MDMC berkumpul untuk ke sekian kalinya. Hadir seorang tokoh nasional dari Pasaman Barat, Pendiri dan Pembina STIKES YPAK bersama PWM, LDK, KKM, Lazismu Muhamadiyah. Mereka berbuka bersama, salat berjamaah dan pengajian Ramadan.
Nasi putih, sepotong ayam goreng, sejemput gulai kacang-lobak dan sebungkus kecil sayur anyang, dengan lahap kami lahap.
Hujan lebat tinggal rintik-rintik. Sehabis Salat Magrib berjamaah, santapan mini ini, merupakan ujung berbuka bersama (bukber) dengan air, kue kering, roti dan pisang pada
senja, awal malam itu.
Tentu saja pengantar kata dan sambutan menjelang ceramah, Wali Nagari Calon Kenagarian ini melaporkan perkembangan.
Mengapa mereka masih bertahan di situ. Rupanya rumah mereka di Jorong tempat mukim sebelum gempa memang tinggal puing reruntuhan. Hanya tidak hangus saperti reruntuhan akibat bom di Ukraina.
Ada kabar akan dibangun Huntara yang ukurannya sangat mini. Mereka gembira mendengar itu. Yang penting jangan lagi di tenda. Mereka rindu Jorong Timbo Abu Ateh.
Dari Jorong ini menoleh arah Timur kelihatan Gunung Talamau yang indah. Menurut Christine Dobbin (1983), Gunung ini mengandung deposit emas terbesar di Sumatra, era 1784-1847.
Mengapa Huntara itu belum tegak. Kata Wali Nagari malam itu ,”masih negosiasi”. Semula biaya untuk bangunan sangat mini itu 6,9 juta. Belakangan turun menjadi 4 juta rupiah.
Maka ketika memberikan sambutan, Ketua PWM mengatakan mungkin dana yang terbatas. Sementara banyak yang akan dibangun. Anggaplah itu bantuan dan bila ingin lebih, itu swadaya masing-masing keluarga. Atau ada pihak lain yang mencukupkan.
Di dalam konsep dan teori International Community Development, Ormas, LSM dan pihak ke-tiga lain memberikan dorongan kepada komunitas untuk berdaya. Kecuali pemerintah, wajib membangun infra struktur, jalan,listrik, fasilitas umum dan kepentingan publik lainnya yang mendasar.
Pada hakikatnya setiap komunitas membangun dirinya. Bila ada bantuan pihak kedua atau ketiga, lebih kepada memberikan pancing bukan ikan.
Namun harus dipahami pula. Menurut 4 tokoh awal pragraf ini di atas, mereka di Timbo Abu Ateh memang berada di titik nadir paling bawah akibat gempa ini. Sekitar 50 hektar sawah dan kebun palawija, jagung dan sayuran habis tertimbun tanah longsor gempa.
Irigasi kepala bandar, hancur. Padi dan jagung yang masak di batang dan yang panen tak selamat. Bahkan yang di dalam karungpun habis. Ternak, habis.
Ketika ditanya bagaimana Kebun Sawit?. Mereka seakan serempak mengatakan bahwa mereka tidak berkebun itu. Dalam hati ini, terpurangah. Rupanya tak ada hembusan apalagi sentuhan booming harga sawit melangit sekarang ke mereka di sini. Taka ada hubunghan dengan minyak goreng.
Sementara Huntara yang sedang mendesak dibutuhkan adalah 156 unit. Dan hati ini tambah terpurangah ketika mereka masih tetap mempersiapkan MTQ Nagari Persiapan. Dana diperlukan 16 juta rupiah. Baru tersedia 8 juta rupiah.
Subhanallah, rasa budaya keberagamaan mereka tetap permanen. Dan Ustzad yang kami bawa dari Padang mengutip QS Al-a’Raf (8) 96-99. Mereka didorong terus untuk semakin tebal imannya. Dan gempa kemarin dengan puasa Ramadan sekarang niscaya menjadi motivasi paling dalam untuk memperkokoh ketakwaan kepada-Nya. Tegar dan tegakkan kepala. Allahu a’Lam. **
/* Penulis adalah Dosen PPs UM Sumbar, Ketua PW Muhammadiyah Sumbar dan Ketua Umum YPKM
Oleh: BUYA SHOFWAN KARIM ELHUSSEIN Menghitung hari. Mereka S(67), BS (52), P (51), dan T […]
Muslim Cina Berbahasa Arab (China.4)
Nanjing (Singgalang, 23/10).
By Shofwan Karim Elha.
Kemarin, di Mausoleum DR. Sun Yat-sen, di sudut lain Nanjing, setelah mendaki jalan besar yang disetiap level ada gedung dan gerbang pada tingkatan lapangan ketiga, penulis dan isteri bertemu Muslim Cina. Seorang ayah membawa dua orang anaknya. Kami mengenal Shafia yang memakai jilbab. Tak tahan untuk menyapa mula-mula kami berbahasa Inggris. Tetapi Ahmad, putra sang bapak yang sedang mengupas buah apel, langsung menyambut dengan Bahasa Arab.
Muhammad, sang Ayah, kemudian meminta kami ikut makan apel yang dikupas anaknya. Semua dalam bahasa Arab.
Tentu saja ini suatu yang menghibur dan bersyukur. Ingatan melayang ke nostalgia kuliah di Jurusan Bahasa Arab IAIN di awal pernikahan kami dulu. Upaya Berbahasa Arab ini di Universitas Muhammadiyah sekarang tengah diprogramkan dengan kerjasama Asian Muslim Charity Foundation. UMSB, di samping memiliki 7 fakultas umum: ekonomi, hukum, pendidikan, teknik, pertanian, kehutanan dan kesehatan, di Padang, Padang Panjang, Bukitting dan Payakumbuh, pada fakultas ilmu agama Islam di Padang, kini sedang bersemangat melaksanakan program Studi Islam dan Bahasa Arab Mahad Zubair Ibn Awwam di tempat terpisah: mahasiswa di Kampus Pasir Kandang dan mahasiswi di Kampus Ulak Karang, Padang.
Soal bahasa memang banyak kendala bagi orang asing di China. Hanya satu-dua orang saja pelayan dan petugas publik yang pandai berbahasa Inggris. Sejak dari Bandara Nanking berjarak 60 km dari kota Nanjing, sopir taksi membisu seribu bahasa. Payahnya lagi, mereka juga tidak pandai membaca aksara latin. Mereka hanya paham aksara kanji. Celakanya nasib yang sama ditemui di hotel. Hanya satu-dua petugas resepsionis dan pelayan resto dan bell-boy hotel yang pandai berkomunikasi dalam internasional ini. Karena itu bahasa isyarat (tarzan) sering dipakai oleh pengunjung Nanjing.
Ini mungkin suatu isyarat bahwa di China, sebagaimana juga di Jepang, Korea dan Perancis, bahasa Inggris tidak terlalu disukai. Bedanya kalau di Perancis, mereka hanya memang tidak suka tetapi mengerti bahasa Inggris. Sementara di Nanjing memang mereka tidak suka dan tidak mengerti sama sekali. Atau mereka sebenarnya tidak memerlukan turis berbahasa Inggeris karena turis domistik dan China perantauan yang jumlahnya mungkin hampir sepertiga penduduk bumi dapat mereka layani dengan bahasa Mandarin internasional itu.
Kembali ke Muslim China tadi, maka ingatan penulis melesat ke hampir seribu tahun lalu ketika Islam mulai merambah keluar jazirah Arabia. Apa lagi di kalangan kaum muslimin popular hadis yang sering dikutip : “tuntutlah ilmu hingga sampai ke negeri China”. Sesaat ingatan ini singgah ke sebuah pusara di sekitar Masjid Niujie ibu kota China Beijing.
Di situ, tahun 1995, berkisahlah Imam Masjid Niuije, selesai kami shalat zuhur. Imam tadi membentangkan kisah Masjid ini dan pernik sejarah Islam. Imam tadi menunjukkan kepada kami (di antarnya Buya Bagindo Letter dan Uda Yonda Djabar) bahwa satu pusara di taman Masjid itu adalah pusara sahabat Rasulullah bernama Sa’ad Ibn Waqas.
Sahabat Nabi ini dianggap utusan resmi ke China pada tahun 650 M. Inilah tahun mula sejarah masuknya Islam ke China. Dinasti Tang dengan Maharaja Gaozong yang memerintah kala itu menerima utusan resmi ini. Karena dianggap suatu agama yang sejajar dengan Konfusius, maka didirikanlah Masjid sebagai penghormatan. Mungkin masjid Niujie Bejing tadi salah satu hadiah maharaja di masa lalu. Sayangnya untuk kunjungan kali ini ke China, di wilayah selatan-timur 2 jam terbang dari Beijing, kami tidak sempat berkunjung ke salah satu Masjid yang terletak di Jalan Shengzhou yang berhadapan dengan resto cepat saji KFC di sudut lain Nanjing.
Sampai hari ini, jumlah kaum muslimin di China diperkirakan ada 100-120 juta atau mendekati 9-10 persen dari 1.3 milyar lebih orang penduduk Republik Rakyat China hari ini. Beberapa suku bangsa Muslim di China yang popular adalah Suku Tang, Song, Ming, Yuan, Qing. Menurut sumber lain (http://njowo.multiply.com/journal), Republik Rakyat China memiliki 56 suku, dengan suku bangsa Han yang mayoritas. Hanya bangsa Han kebanyakan tidak beragama dan sebagian kecilnya menganut Budha, Tao dan belakangan ini ada yang Nashrani. Sedangkan suku yang memeluk agama Islam mayoritas tinggal diwilayah bagian Barat Laut, Timur Laut dan bagian Utara Tiongkok, seperti provinsi Gansu, Qinghai, Daerah Otonomi Ningxia dan Daerah Otonomi Xinjiang (4 daerah mayoritas),
Propinsi Shaanxi, Yunan, bagian barat daerah otonomi Mongolia, begitu pula di Taiwan dan Ibukota Beijing. Secara kasar oleh orang asing yang tidak belajar kebudayaan Tiongkok menggangap bangsa Tionghoa dalah orang Han saja, tapi suku minoritas lainnya adalah juga bangsa Tionghoa. Artinya kaum muslimin dari berbagai suku tadi juga adalah bangsa Tionghoa***
CATATAN PERJALAN DARI CHINA (5):
KEPARIWISATAAN NANJING YANG MENJUAL
OLEH SHOFWAN KARIM ELHA
Ada bermacam kategori kunjungan ke suatu Negara. Mulai dari kunjungan sosial budaya, kunjungan bisnis, kunjungan poliitik, pemerintahan, kenegaraan, kunjungan keluarga, kunjungan ilmiah, kunjungan jurnalistik, konferensi, seminar, simpoisum, studi dan kunjungan wisata.
Walaupun kunjungan wisata (tourism) disebutkan satu kategori, namun di dalam praktiknya semua kategori kunjungan tadi mengandung makna kepariwisataan. Setiap pebisnis, setiap pejabat, setiap ilmuwan, setiap budayawan atau siapa pun yang berkunjung untuk kepentingan apa saja ke suatu negeri selalu ingin menyempatkan diri melihat keunikan, cagar budaya, tempat bersejarah, atraksi budaya, museum, perpustakaan, shoping centre, restoran, taman, universitas, tempat ibadah, dan seterusnya.
Semuanya itu pada dasarnya merupakan wujud nyata kepariwisataan. Pokoknya substansi dasarnya adalah setiap perjalanan ke suatu tempat dan peristiwa yang memberi kesentosaan, kebahagiaan dan kenyamanan, bolehlah disebut peristiwa wisata.Tentu saja ada kelebihan dan kekurangan setiap negara, provinsi atau kota dalam mengelola industri wisata yang tidak pernah kehilangan pasarnya. Krisis ekononomi dan keuangan global yang tengah berjalan ini, tampak belum banyak pengaruhnya kepada penurunan angka kunjungam wisata ke berbagai tempat di berbagai belahan dunia.
Hal itu bisa saja terjadi karena setiap wisatawan sudah merencanakan jauh hari dengan bujet yang sudah disiapkan pula. Bahkan tiket perjalanan dari satu titik ke titik lain, akomodasi hotel, visa kunjungan dan lainnya, sudah jauh hari dipesan dan dipastikan. Sulitnya lagi, meski tiba-tiba datang krisis, seperti sekarang ini, maka biaya (seperti biaya tiket penerbangan) yang sudah dibayar tidak bisa diambil lagi. Setiap pengunjung atau wisatawan tentu tidak selalu dapat memenuhi semua hasratnya karena keterbatasan dana, waktu dan tenaga.
Apa yang penulis alami bersama isteri di Nanjing salah satu di antaranya, adalah mustahil untuk merasa puas dalam segala hal. Yang penting atas kelebihan dan kekurangan Nanjing, kami merasa bahagia. Kalau ada kekuarangan, tentu saja tidak mengurangi hasrat untuk berkunjung ke berbagai negeri di bermacam sudut dunia. Kelebihan Nanjing adalah sistem teransportasi kota. Dari satu bagian ke wilayah lain dapat dicapai dengan taksi, bus kota dan metro atau kereta bawah tanah. Untuk taksi kecuali yang mangkal di hotel, semuanya adalah taksi resmi dengan argo meter yang dapat diminta kwitansi pembayarannya termasuk slip bayaran highway atau tall bebas hambatan yang membentang dari utara ke selatan dan dari barat ke timur.
Naik bus cukup nyaman, semua beralat pendingin (AC) dan seperti bus di berbagai kota Eropa dan Amerika, bagi yang berlangganan tinggal menggesek kartu bermagnit atau membayar ke kotak pintu masuk sebesar 2 Yuan. Harga 2 Yuan (1 Yuan kira-kira setara dengan Rp. 1500) berlaku pula untuk ke mana-mana dari satu stasiun ke stasiun lain kereta bawah tanah atau metro. Untuk kualitas pisik bus dan shelter (halte) turun naik, kalah bagus dari transportasi busway di Jakarta. Metro atau kereta bawah tanah di Nanjing yang mulai operasi sejak 2005 terutama untuk menyambut iven Olimpic lalu teridiri atas line 1 dan 2 yang membujur dari utara ke selatan dan dari barat ke timur. Lumayan memadai. tentu tidak sebersih, seindah dan sebagus MRT di Singapura dan metro di Hongkong dan Tokyo.
Kira-kira sama dengan kereta bawah tanah yang juga disebut Tube di London, Inggris dan Subway di Tororonto, Kanada atau New York City, Amerika. Yang agak mencengangkan penulis adalah pengaturan dan pemeliharaan toilet atau WC. Memang tidak semua tempat bersih. Tetapi di tempat-tempat wisata seperti pusat sejarah, taman dan gedung pelayanan publik cukup baik dan bersih yang selalu dijaga dan dibersihkan oleh petugas berbaju seragam.
Mungkin kunjungan beberapa pejabat eksekutif dan legislative Indonesia keluar negeri dapat mengambil pelajaran untuk kebijakan soal sepele tetapi amat penting ini. Di negeri kita, jarang sekali objek wisata yang memiliki fasilitas WC yang memadai. Selain itu, cara pemerintah kota Nanjing, departemen pariwisata memelihara dan memoles serta memberi makna terhadap pusat wisata atau point of interest-nya sudah hampir menyamai heritage dan pusat-pusat wisata di Negara maju lainnya. Pada dasarnya dunia wisata di sini dibagi kepada Cultural tour Line dan Leisure Paradise, serta Shopping Paradise.
Yang pertama tadi dibagi kepada 10 objek dengan sekitar 200 titik penting “point of interest”, mulai dari tempat bersejarah masa lalu, pusat-pusat Dinasti Ming, Dinasti Tang, Bangunan Kuomintang, Klenteng Konghucu, pusat-pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan, taman-taman, danau dan sungai. Untuk yang kedua, bernuansa pusat keramaian dan hiburan serta aktrasi budaya dan pertunjungan ada 13 objek dengan sekitar 250 titik kegiatan, suasana dan tontonan. Dan ketiga tentulah hal-hal yang berbau dunia belanja dan pusat bisnis, perdagangan, pameran, etalese industri visualiasi produksi. Ini mempunyai 12 objek dengan sekitar 200-an titik minat pula.
Di sini ada pusat belanja terbesar beberapa puluh buah. Ada museum sutra dan proses pembuatannya yang menjadi kebanggaan China sejak 3000 (tiga ribu) tahun lalu. Pusat jajan dengan produk makan minuman seperti ratusan jenis minuman the, makanan dan restoran yang amat kaya dan bervariasi. Eksplorasi sejarah untuk wisata cukup menarik pula. Tokoh-tokoh China masa lalu seperti, DR. Sun Yat-sen, dibuatkan Musoleumnya. Tempat itu dikemas sedemikian rupa sehingga mengingatkan pengunjung akan peranan yang amat besar tokoh ini bagi China Nasionalis.
Ini mengingatkan penulis akan Arche de Triump gerbang kemenangan Charles D’Gaull di persimpangan 12 Champ de Lyse, tengah kota Paris. Untuk Jenderal Chiang Kai-sek dan tokoh-tokoh lainnya dibuatkan diorama dan animasi serta imitasinya seperti yang dibuat Inggris di London dengan Madame Tueso-nya. Sebenarnya kita bisa pula membuat hal yang sama tapi tidak serupa dengan Nanjing, Paris atau London.
Misalnya kerajaan Minangkabau di Pagaruyung dengan segala kejayaan masa lalunya baik heritage artifak benda bersejarah atau sejarah dan kisah masa lau yang panjang itu untuk repleksikan pula sekarang. Yang lain dan sederhana misalnya, pantai Air Manis dengan Batu Malinkundang yang sekarang perlu dirawat dan dibuat diorama serta visualisasinya. Yang agak nyata misalnya Benteng “lubang” Jepang di Bukittinggi, dipoles lagi dengan kisah dan asesori yang memberi inspirasi dan ingatan masa lalu.
Belum lagi Koto Gadang dengan kerajinan perak, Pandai Sikek dengan kerajinan songket, Silungkang, Kurai Taji atau Sulaman Apek Angkek. Baruak Pariaman diatraksikan atau bagaimana membuat “karupuak sanjai” di visualiasikan dan praktikkan. Memang ada bagian-bagian yang hanya mitos atau mungkin dunia khayalan Tetapi para turis atau wisatawa sudah merasa terbang ke masa lalu yang jauh sehingga memanggil imajinasinya yang bermakna. Pertanyaannya, maukah kita ?*** (Has been Published by Harian Singgalang)
Wawancara Peniliti Kehidupan Beragama di Sumbar dengan Shofwan Karim
“Saya ingin anak saya kuliah dan menguasai Bahasa Mandarin. Menurut pikiran saya”, kata Ibu ini. :”Hanya dua bahasa yang paling pokok dikuas