Berikan Tumpangan, Jangan Lepas Tangan!
Dulu semasa sekolah menengah atas, saya pernah mengalami kesulitan dalam kendaraan. Saat itu motor hanya satu dan digunakan oleh kakak-kakak saya. Tak jarang saya disuruh untuk naik kendaraan umum pulang dan pergi. Aktivitas yang banyak, menuntut untuk pulang telalu sore sehingga angkutan umum sudah tidak ada. Di Jogja, sebelum ada busway, semua angkutan umum berhenti beroperasi pada sore hari. Alhasil saya meminta untuk dijemput oleh keluarga saya. Jika waktunya tidak tepat, tidak ada yang bisa menjemut saya dan otomatis saya meminta tolong teman untuk mengantar pulang.
Ada yang mau karena jarak rumah dekat, tetapi ada juga yang tak mau karena jauh. Jarak tempuh sekolah ke rumah sekitar 20 menit. Ada yang mengantar sampai depan rumah, ada pula yang menurunkan saya di ujung jalan yang sudah tidak sejalur dengan rumah teman yang saya tumpangi. Lucu kalo diingat-ingat saat ini. Bersyukur juga kepada Tuhan, karena saya selalu sampai dirumah dengan selamat. Ada masa-masanya saya sampai dirumah dengan muka kusut dan marah-marah jika harus pulang dengan angkutan umum padahal ada kendaraan dirumah yang bisa untuk menjemput saya. Ada masanya saya di sudut ruang merasa sedih ketika teman tak ada yang mau mengantar pulang, padahal sering mengajak jalan. Ada masanya pertemanan saya dipertanyakan karena tidak ada yang mau membantu mengantar pulang. Tetapi saya akui, masa-masa itu yang membentuk karakter saya. Terimakasih kepada teman-teman saya, yang tidak bisa disebutkan namanya satu per satu, yang pernah mengantar saya pulang yaaaaa..
Ketika saya sudah diijinkan membawa kendaraan sendiri, saya begitu gembira. Saya bebas jalan kemanapun, keliing jogja dan tidak perlu nunggu angkutan umum atau takut gak bisa pulang. Ketika sudah waktunya saya diberi tanggungjawab membawa kendaraan sendiri, saya tak pernah lupa masa-masa sulit saya sebelumnya. Saya berpikir, inilah maksudNya! Inilah sebabnya saya mendapat pengalaman lucu mengenai kendaraan, karena ketika saya memilikinya saya bisa berbagi dengan orang lain yang butuh ditumpangi. Ini salah satu wujud kasih Kristus. Memberi tumpangan! (Roma 12:13) Walaupun tidak searah dengan tujuanmu, selagi diberi waktu dan kemampuan untuk mengantar, ambil kesempatan itu karena kamu sedang membuktikan bahwa masih ada orang yang tidak mempermasalahkan jarak dan waktu yang terbuang untuk berbagi kasih kepada orang lain.
Saya juga belajar dan semakin diteguhkan ketika UKM Kristen, sebuah wadah organisasi kerohanian di UPN “Veteran” Yogyakarta menerapkan antar-jemput bagi orang-orang yang mengikuti kegiatan di UKM Kristen. Tidak boleh ada yang ditelantarkan. Semuanya berarti untuk diberi tumpangan. Jarak tidak penting.
Jika direnungkan kembali, kendaraan, harta dan semua yang kita miliki saat ini merupakan kemurahan Allah. Tuhan memberi kepada kita bukan untuk digunakan untuk diri sendiri, tapi untuk berbagi. Semuanya adalah alat yang kita kelola untuk saling mengasihi satu sama lain. Kepemilikan hanya punya Tuhan, sedangkan kita hanya pengelolanya. Itu yang diajarkan Tuhan, bukan? Di jaman yang “memikirkan diri sendiri daripada orang lain” ini, hendaknya kita menjadi cerminan dari Allah bahwa kasih Allah itu masih ada, menolong sesama yang membutuhkan.











